Militan Cari Target Baru di Kashmir India, Pekerja Migran Kabur
Jum'at, 01 November 2019 - 16:01 WIB
Militan Cari Target Baru di Kashmir India, Pekerja Migran Kabur
A
A
A
SRINAGAR - Meningkatnya pembunuhan oleh para militan yang menargetkan warga pendatang di Kashmir India membuat semakin banyak pekerja migran yang pergi. Para pekerja migran memilih keluar dari Kashmir India daripada nyawanya terancam.
Para pekerja migran biasanya bekerja memperbaiki jalan, gedung, hotel, dan kebun apel di wilayah pinggiran. Pekan lalu, sejumlah militan menyerang satu rumah di Kashmir selatan, menggiring enam pria yang bekerja di sawah padi lalu menembak mereka.
Lima orang tewas dan pria keenam dapat menyelamatkan diri untuk menceritakan kisah serangan itu. Serangan ini pun memicu kekhawatiran para pekerja migran di Kashmir India.
Para pekerja migran menjadi target yang mudah bagi para militan dan beberapa pekan sebelumnya sebanyak 11 orang tewas, termasuk korban dalam serangan terbaru.
Vikas Kumar Bharti, 18, dari India utara sudah merasa cukup hidup dengan risiko nyawanya melayang. Kontraknya untuk membangun taman parkir mobil di pusat Srinagar akan segera berakhir 20 hari lagi.
"Setelah itu saya akan pergi," kata Bharti yang mengikatkan kain putih di kepalanya dan memakai kalung doa Hindu di lehernya. Keluarganya menelpon dia karena khawatir dengan kondisinya. Dia akan pulang ke negara bagian Uttar Pradesh.
Pemberontakan separatis di Kashmir terjadi sejak tiga dekade lalu tapi meningkat setelah Perdana Menteri India Narendra Modi pada Agustus mencabut status otonomi wilayah itu.
Para pekerja migran biasanya bekerja memperbaiki jalan, gedung, hotel, dan kebun apel di wilayah pinggiran. Pekan lalu, sejumlah militan menyerang satu rumah di Kashmir selatan, menggiring enam pria yang bekerja di sawah padi lalu menembak mereka.
Lima orang tewas dan pria keenam dapat menyelamatkan diri untuk menceritakan kisah serangan itu. Serangan ini pun memicu kekhawatiran para pekerja migran di Kashmir India.
Para pekerja migran menjadi target yang mudah bagi para militan dan beberapa pekan sebelumnya sebanyak 11 orang tewas, termasuk korban dalam serangan terbaru.
Vikas Kumar Bharti, 18, dari India utara sudah merasa cukup hidup dengan risiko nyawanya melayang. Kontraknya untuk membangun taman parkir mobil di pusat Srinagar akan segera berakhir 20 hari lagi.
"Setelah itu saya akan pergi," kata Bharti yang mengikatkan kain putih di kepalanya dan memakai kalung doa Hindu di lehernya. Keluarganya menelpon dia karena khawatir dengan kondisinya. Dia akan pulang ke negara bagian Uttar Pradesh.
Pemberontakan separatis di Kashmir terjadi sejak tiga dekade lalu tapi meningkat setelah Perdana Menteri India Narendra Modi pada Agustus mencabut status otonomi wilayah itu.
(sfn)