Suriah: Tanpa Izin Assad, Serangan Koalisi AS di Raqqa Ilegal
Sabtu, 25 Maret 2017 - 03:15 WIB
Suriah: Tanpa Izin Assad, Serangan Koalisi AS di Raqqa Ilegal
A
A
A
JENEWA - Serangan yang akan diluncurkan koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) terhadap kelompok ISIS di Raqqa, Suriah, ilegal jika tanpa izin resmi dari pemerintah Presiden Bashar al-Assad. Pernyataan ini disampaikan Pemerintah Suriah melalui negosiatornya, Bashar al-Ja’fari di Jenewa.
”Setiap kehadiran militer di wilayah kami tanpa persetujuan dari pemerintah Suriah adalah ilegal,” kata Ja'afari kepada wartawan setelah pertemuan dengan utusan PBB untuk Suriah Staffan de Mistura.
Menteri Pertahanan Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan serangan koalisi yang dipimpin AS untuk merebut kembali Raqqa dari pendudukan kelompok Islamic State atau ISIS akan terjadi dalam beberapa hari mendatang.
Menurut Ja'afari, tidak ada bisa mengklaim berjuang melawan ISIS tanpa koordinasi dengan Suriah dan Irak.
”Mereka yang sedang benar-benar berjuang melawan Daesh (ISIS) adalah tentara Arab Suriah dengan bantuan sekutu kami, Rusia dan Iran,” ujarnya, seperti dikutip Reuters, Sabtu (25/3/2017).
”Aksi militer AS langsung di wilayah Suriah serta mempersenjatai faksi yang ada di Suriah dan mendorong mereka untuk menentang otoritas negara bukanlah pejuang yang kontra terorisme,” kata pejabat rezim Suriah ini.
AS merupakan pendukung Pasukan Demokratik Suriah (SDF)—sebuah faksi pemberontak atau oposisi Suriah. Menurut juru bicara SDF, Sheikh Ahmed Jihan, SDF telah bentrok dengan ISIS hingga ke bendungan Tabqa.
Sementara itu, penasihat kemanusiaan PBB untuk Suriah Jan Egeland mengatakan kepada Reuters bahwa akan ada rencana kontingensi bagi penduduk sipil dari Raqqa.
”Ada ratusan hingga ribuan orang di daerah itu dan tentu saja mereka akan berisiko ketika terjebak dalam pertempuran,” kata Egeland.
”Setiap kehadiran militer di wilayah kami tanpa persetujuan dari pemerintah Suriah adalah ilegal,” kata Ja'afari kepada wartawan setelah pertemuan dengan utusan PBB untuk Suriah Staffan de Mistura.
Menteri Pertahanan Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan serangan koalisi yang dipimpin AS untuk merebut kembali Raqqa dari pendudukan kelompok Islamic State atau ISIS akan terjadi dalam beberapa hari mendatang.
Menurut Ja'afari, tidak ada bisa mengklaim berjuang melawan ISIS tanpa koordinasi dengan Suriah dan Irak.
”Mereka yang sedang benar-benar berjuang melawan Daesh (ISIS) adalah tentara Arab Suriah dengan bantuan sekutu kami, Rusia dan Iran,” ujarnya, seperti dikutip Reuters, Sabtu (25/3/2017).
”Aksi militer AS langsung di wilayah Suriah serta mempersenjatai faksi yang ada di Suriah dan mendorong mereka untuk menentang otoritas negara bukanlah pejuang yang kontra terorisme,” kata pejabat rezim Suriah ini.
AS merupakan pendukung Pasukan Demokratik Suriah (SDF)—sebuah faksi pemberontak atau oposisi Suriah. Menurut juru bicara SDF, Sheikh Ahmed Jihan, SDF telah bentrok dengan ISIS hingga ke bendungan Tabqa.
Sementara itu, penasihat kemanusiaan PBB untuk Suriah Jan Egeland mengatakan kepada Reuters bahwa akan ada rencana kontingensi bagi penduduk sipil dari Raqqa.
”Ada ratusan hingga ribuan orang di daerah itu dan tentu saja mereka akan berisiko ketika terjebak dalam pertempuran,” kata Egeland.
(mas)