Tiga Syarat Kremlin jika Turki Ingin 'Berdamai' dengan Rusia
Selasa, 15 Desember 2015 - 15:05 WIB
Tiga Syarat Kremlin jika Turki Ingin 'Berdamai' dengan Rusia
A
A
A
ANKARA - Kremlin melalui Duta Besar-nya untuk Turki mengajukan tiga syarat jika Turki ingin “berdamai” dengan Rusia. Ketegangan kedua negara itu kian memanas sejak pesawat tempur F-16 Turki menembak jatuh pesawat jet pembom Su-24 Rusia.
Tiga syarat yang diminta Kremlin itu adalah Turki meminta maaf atas penembakan pesawat Su-24, Turki menghukum mereka yang bertanggung jawab, dan Turki harus membayar untuk kerusakan yang diderita militer Rusia.
”Kecuai harapan-harapan kami ini terpenuhi, pernyataan lain yang dibuat oleh Turki tidak akan menghasilkan apapun,” kata Dubes Rusia, Andrey Karlov, dalam sebuah wawancara dengan Cumhuriyet.
”Hubungan kami (dengan Turki) berada di titik krisis terparah dalam sejarah,” katanya lagi. Imbas dari ketegangan kedua negara itu, Rusia menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Turki, di mana salah satunya proyek pembangkit listrik tenaga nuklir Turki yang digarap perusahaan Rusia dihentikan.
Sementara itu, pertemuan puncak bilateral antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Tayyip Erdogan yang dijadwalkan digelar hari ini (15/12/2015) di St. Petersburg dibatalkan. Hal itu ditegaskan juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.
”Itu tidak akan terjadi, itu tidak direncanakan,” kata Peskov kepada wartawan. Padahal kedua pemimpin itu sepakat melakukan pertemuan hari ini di Rusia setelah keduanya bertemu di sela-sela sebuah KTT G-20 bulan lalu.
Tiga syarat yang diminta Kremlin itu adalah Turki meminta maaf atas penembakan pesawat Su-24, Turki menghukum mereka yang bertanggung jawab, dan Turki harus membayar untuk kerusakan yang diderita militer Rusia.
”Kecuai harapan-harapan kami ini terpenuhi, pernyataan lain yang dibuat oleh Turki tidak akan menghasilkan apapun,” kata Dubes Rusia, Andrey Karlov, dalam sebuah wawancara dengan Cumhuriyet.
”Hubungan kami (dengan Turki) berada di titik krisis terparah dalam sejarah,” katanya lagi. Imbas dari ketegangan kedua negara itu, Rusia menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Turki, di mana salah satunya proyek pembangkit listrik tenaga nuklir Turki yang digarap perusahaan Rusia dihentikan.
Sementara itu, pertemuan puncak bilateral antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Tayyip Erdogan yang dijadwalkan digelar hari ini (15/12/2015) di St. Petersburg dibatalkan. Hal itu ditegaskan juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.
”Itu tidak akan terjadi, itu tidak direncanakan,” kata Peskov kepada wartawan. Padahal kedua pemimpin itu sepakat melakukan pertemuan hari ini di Rusia setelah keduanya bertemu di sela-sela sebuah KTT G-20 bulan lalu.
(mas)