Bahas Suriah, Iran Ogah Singgung Masa Depan Assad
Selasa, 08 September 2015 - 18:21 WIB
Bahas Suriah, Iran Ogah Singgung Masa Depan Assad
A
A
A
TEHERAN - Presiden Iran, Hassan Rouhani menyatakan siap duduk satu meja dengan siapa pun guna membahas perdamaian di Suriah. Namun ia mengajukan syarat, yaitu tidak ada pembahasan mengenai masa depan Presiden Suriah Bashar al-Assad sampai perdamaian benar-benar tercipta di Suriah.
"Kami bersedia duduk di meja dengan negara-negara di dalam maupun di luar wilayah Timur Tengah," ujar Rouhani ketika ditanya apakah Iran akan membahas Suriah dengan Amerika Serikat dan Arab Saudi seperti dikutip dari Reuters, Selasa (8/9/2015).
"Warga Suriah dibunuh dan kehilangan rumah mereka. Prioritas kami adalah untuk menghentikan pertumpahan darah, menciptakan keamanan, dan membiarkan orang kembali ke rumah mereka, maka kita dapat berbicara tentang masa depan," tuturnya.
Rouhani mengatakan hal itu saat konferensi pers bersama dengan Presiden Austria, Heinz Fischer, di Teheran. Kunjungan Fishcer ini menjadi sejarah, karena Fischer adalah pemimpin Uni Eropa pertama yang mengunjungi Teheran dalam satu dekade terakhir.
Dalam kesempatan itu, Rouhani juga menyerukan kepada Uni Eropa dan negara-negara di Timur Tengah untuk segera menemukan solusi untuk mengatasi krisis di Suriah. "Jika suatu hari Suriah lebih aman, itu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi negara yang berada di Timur Tengah maupun negara lain di dunia ini," ujar Rouhani.
Suriah terus menjadi perhatian dunia dalam beberapa pekan terkahir. Selain konflik bersenjata di negara itu, permasalahan warganya yang menjadi pengungsi dan berbondong-bondong datang ke Eropa telah menjadikan Benua Biru berada dalam kondisi eksodus imigran terparah sejak perang Balkan.
Rusia dan Iran merupakan dua pendukung utama dari Bashar al-Assad dan menganggapnya sebagai bagian dari solusi. Sedangkan negara-negara Barat bersikeras Bashar al-Assad harus turun dari tampuk presiden agar konflik di Suriah bisa berakhir.
"Kami bersedia duduk di meja dengan negara-negara di dalam maupun di luar wilayah Timur Tengah," ujar Rouhani ketika ditanya apakah Iran akan membahas Suriah dengan Amerika Serikat dan Arab Saudi seperti dikutip dari Reuters, Selasa (8/9/2015).
"Warga Suriah dibunuh dan kehilangan rumah mereka. Prioritas kami adalah untuk menghentikan pertumpahan darah, menciptakan keamanan, dan membiarkan orang kembali ke rumah mereka, maka kita dapat berbicara tentang masa depan," tuturnya.
Rouhani mengatakan hal itu saat konferensi pers bersama dengan Presiden Austria, Heinz Fischer, di Teheran. Kunjungan Fishcer ini menjadi sejarah, karena Fischer adalah pemimpin Uni Eropa pertama yang mengunjungi Teheran dalam satu dekade terakhir.
Dalam kesempatan itu, Rouhani juga menyerukan kepada Uni Eropa dan negara-negara di Timur Tengah untuk segera menemukan solusi untuk mengatasi krisis di Suriah. "Jika suatu hari Suriah lebih aman, itu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi negara yang berada di Timur Tengah maupun negara lain di dunia ini," ujar Rouhani.
Suriah terus menjadi perhatian dunia dalam beberapa pekan terkahir. Selain konflik bersenjata di negara itu, permasalahan warganya yang menjadi pengungsi dan berbondong-bondong datang ke Eropa telah menjadikan Benua Biru berada dalam kondisi eksodus imigran terparah sejak perang Balkan.
Rusia dan Iran merupakan dua pendukung utama dari Bashar al-Assad dan menganggapnya sebagai bagian dari solusi. Sedangkan negara-negara Barat bersikeras Bashar al-Assad harus turun dari tampuk presiden agar konflik di Suriah bisa berakhir.
(esn)