Media AS: Arab Saudi Kibuli Amerika Serikat soal Minyak

Kamis, 27 Oktober 2022 - 12:21 WIB
loading...
Media AS: Arab Saudi...
Media Amerika Serikat sebut Arab Saudi telah membohongi pemerintah Washington soal kesepakatan minyak rahasia. Foto/REUTERS
A A A
WASHINGTON - Media Amerika Serikat (AS) , New York Times, dalam sebuah laporan menyebut Kerajaan Arab Saudi telah mengibuli pemerintah Washington tentang kesepakatan minyak rahasia.

Menurut laporan itu, Riyadh membuat kesepakatan secara rahasia dengan Washington dengan akan meningkatkan produksi minyak hingga akhir tahun ini. Sebaliknya, Riyadh memimpin OPEC+ memutuskan untuk memangkas produksi secara besar-besaran mulai November nanti.

Presiden Joe Biden, sambung laporan itu, melakukan kunjungan kontroversial ke Arab Saudi pada Juli—melanggar janji kampanye untuk menjauhi kerajaan—karena pemerintahannya mengira telah mengamankan kesepakatan rahasia dengan Riyadh untuk meningkatkan pasokan minyak.

Baca juga: Biden Ancam Arab Saudi karena Melawan AS: Ada Konsekuensi!

Para pejabat pemerintah AS dan Timur Tengah yang dikutip New York Times pada Rabu (26/10/2022) mengatakan peningkatan produksi minyak seharusnya dimulai dari September hingga akhir tahun ini, membantu meredakan inflasi dan membenarkan kunjungan Biden ke Riyadh.

Awal bulan ini, OPEC+ mengumumkan keputusan mereka bahwa produksi minyak akan dipangkas sebesar 2 juta barel per hari mulai November. Keputusan ini akan menciptakan lebih banyak tekanan pada harga bahan bakar minyak global, termasuk di AS, dan berpotensi meningkatkan risiko bahwa Partai Demokrat—partainya Biden—akan kehilangan kendali Kongres dalam pemilu paruh waktu AS pada November.

Beberapa anggota Parlemen AS menanggapi dengan menyarankan Washington untuk menghukum Arab Saudi dengan memotong penjualan senjata atau menghapus dukungan militernya untuk kerajaan.

Biden menuduh Riyadh berpihak pada Rusia dalam konflik Ukraina dan memperingatkan pembalasan, dengan mengatakan, “Akan ada konsekuensinya".

"Anggota Kongres yang telah menerima pengarahan tentang kesepakatan minyak rahasia telah marah karena Putra Mahkota Mohammed bin Salman menipu pemerintah [AS],” tulis New York Times dalam laporannya.

Para pejabat AS mengatakan kepada surat kabar itu bahwa beberapa hari sebelum pengumuman OPEC+, mereka telah diyakinkan oleh Mohammed bin Salman bahwa tidak akan ada pengurangan produksi minyak.

Ketika mereka kemudian mendengar bahwa Arab Saudi telah membalikkan posisinya dalam masalah ini, pejabat pemerintah melakukan upaya yang gagal untuk mengubah pikiran di istana kerajaan.

Para pejabat Arab Saudi mengatakan awal bulan ini bahwa keputusan OPEC+ hanya didasarkan pada pertimbangan ekonomi, bukan politik, dan bahwa Washington mencoba menunda langkah itu selama beberapa minggu.

Penundaan seperti itu mungkin telah mendorong pengumuman melewati tanggal 8 November.

Menurut jajak pendapat di Amerika, inflasi AS tetap mendekati level tertinggi 40 tahun dan menjadi perhatian utama pemilih Amerika menjelang pemilu paruh waktu.

Biden mengatakan saat berkampanye untuk menjadi presiden pada 2019 bahwa dia akan memperlakukan Arab Saudi sebagai "paria" dan akan membuat mereka "membayar harga mahal" atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

New York Times melaporkan bahwa beberapa pendukung terkuatnya berpendapat keputusan Biden untuk bertemu dengan Mohammed bin Salman karena pemerintahannya mengira itu memiliki kesepakatan minyak rahasia pada bulan Mei.

Menurut mereka, itu adalah contoh terbaru dari mengorbankan prinsip-prinsip untuk kepentingan politik—dan memiliki sedikit untuk menunjukkannya.

“Sekarang ada tingkat rasa malu karena Saudi dengan gembira melanjutkan perjalanan mereka,” kata anggota Parlemen AS Gerald Connolly, seorang politisi Partai Demokrat asal Virginia.

Biden secara terbuka membantah pada bulan Juni bahwa dia akan meminta pejabat Arab Saudi untuk meningkatkan pasokan minyak.

"Apa yang terjadi selama setengah tahun terakhir adalah kisah kesepakatan jabat tangan, angan-angan, sinyal yang terlewatkan, dan tudingan atas janji yang diingkari," imbuh laporan New York Times.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bagaimana Perdamaian...
Bagaimana Perdamaian Iran dan AS Membentuk Arsitektur Timur Tengah yang Baru?
Analis Israel: Kesepakatan...
Analis Israel: Kesepakatan AS-Iran Adalah Kemenangan Besar bagi Teheran
14 Poin Perdamaian Iran...
14 Poin Perdamaian Iran dan AS, Ada Dana Rekonstruksi Senilai Rp5.316 Triliun yang Dibayar Negara-negara Arab
Trump Marahi Netanyahu:...
Trump Marahi Netanyahu: 'Mengapa Harus Lakukan Serangan Sialan Itu?'
Pesawat Terjun Payung...
Pesawat Terjun Payung Jatuh di AS, 12 Orang Tewas
Eks PM Israel Serukan...
Eks PM Israel Serukan Netanyahu Digulingkan dengan Tongkat dan Batu
Kapten Iran: Perang...
Kapten Iran: Perang Merampas Euforia Piala Dunia 2026
PM Pakistan: Kesepakatan...
PM Pakistan: Kesepakatan AS-Iran Berpotensi Rampung dalam 24 Jam
AS-Iran Lanjutkan Negosiasi...
AS-Iran Lanjutkan Negosiasi setelah Penandatanganan MoU, Bahas Program Rudal dan Nuklir
Rekomendasi
Prabowo Bertemu Menlu...
Prabowo Bertemu Menlu Qatar di Istana Merdeka, Ini Tiga Poin yang Dibahas
Ceferin Bilang Piala...
Ceferin Bilang Piala Dunia 2026 Tak Menarik, 13 Negara Murka
Selebriti Pakai Earphone...
Selebriti Pakai Earphone Kabel, Pasar IEM Chi-Fi Diam-Diam Meledak
Berita Terkini
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Putin Mengamuk! Serangan...
Putin Mengamuk! Serangan Rusia Tewaskan 11 Orang dan Hancurkan Katedral Bersejarah
Bagaimana Perdamaian...
Bagaimana Perdamaian Iran dan AS Membentuk Arsitektur Timur Tengah yang Baru?
Israel Tak Akan Mundur...
Israel Tak Akan Mundur dari Suriah, Gaza dan Lebanon
Dunia Sambut Positif...
Dunia Sambut Positif Perdamaian AS dan Iran, Hanya Israel yang Marah
Perdamaian Segera Terwujud,...
Perdamaian Segera Terwujud, Militer Iran: Keinginan Rakyat Sudah Dipaksakan kepada Musuh
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved