Mengapa Rusia Tidak Mengalami Krisis Walau Disanksi Puluhan Negara Eropa? Berikut Penjelasannya

Kamis, 06 Oktober 2022 - 16:57 WIB
loading...
Mengapa Rusia Tidak...
Orang-orang mengenakan seragam militer bersejarah menari di sebelah kereta retro bernama Pobeda (Kemenangan) selama perayaan Hari Kemenangan di Saint Petersburg, Rusia 6 Mei 2022. Foto/REUTERS/Anton Vaganov
A A A
MOSKOW - Rusia kini tengah menghadapi berbagai sanksi yang diberlakukan Uni Eropa (UE). Sanksi tersebut merupakan buah atas invasi yang dilakukan terhadap Ukraina.

Namun apakah sanksi ini punya pengaruh banyak atas kondisi ekonomi di Rusia? Dikabarkan sampai saat ini keadaan ekonomi mereka masih baik baik saja.

Dilansir dari Aljazeera, pemberian sanksi ini bertujuan membekukan cadangan keuangan Rusia, dengan mengeluarkan beberapa bank terbesar negara itu dari sistem pembayaran SWIFT.

Baca juga: Mengapa Israel Dibiarkan Curi Tanah Palestina tapi Rusia Dikecam Caplok Wilayah Ukraina?

Tak hanya itu, sanksi juga melarang kapal dan pesawat Rusia memasuki pelabuhan dan wilayah udara mereka, memperkenalkan pembatasan ekspor untuk teknologi canggih tertentu, dan menempatkan embargo minyak dan batu bara Moskow.

Secara bersamaan, lebih dari 1.200 perusahaan asing telah menangguhkan atau membatasi operasi mereka di Rusia sejak dimulainya konflik di Ukraina.

Menurut database dari Institut Kepemimpinan Kepala Eksekutif Universitas Yale. Di antara nama-nama besar dalam daftar yang menghentikan operasional di Rusia adalah merek-merek seperti Apple, McDonald's, IKEA, Visa, dan MasterCard.

Baca juga: Memanas, AS Kirim Lagi Armada Penyerang Kapal Induk ke Korea Selatan

Sejauh ini sanksi tersebut telah membawa hasil yang beragam. Di satu sisi, produk domestik bruto (PDB) Rusia turun 4% pada kuartal kedua dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Pembatasan pasokan baru tidak hanya menyebabkan inflasi naik ke dua digit, tetapi juga melemahkan produsen Rusia dengan merampas komponen impor yang penting untuk menyempurnakan produk.

Produksi mobil Rusia, misalnya, anjlok hingga 61,8% selama enam bulan pertama tahun ini.

Banyak pejabat Rusia telah mengakui bahwa akan sangat sulit untuk menemukan pengganti komponen elektronik kelas atas tertentu, seperti microchip, yang masih banyak dikembangkan menggunakan teknologi Barat.

Namun, pada saat bersamaan ekonomi Rusia sejauh ini justru masih bisa bertahan. Rubel juga sejak itu pulih kembali menjadi mata uang dengan kinerja terbaik tahun ini.

Sejauh ini, sanksi tidak berbuat banyak untuk meredam kehidupan di Moskow setidaknya. Pekerja konstruksi yang mengambil bagian dalam program renovasi jalan tahunan ibu kota Rusia juga berjalan dengan lancar.

Melansir dari Reuters, Menteri Ekonomi Maxim Reshetnikov mengatakan pemerintah sekarang memperkirakan kontraksi 2,9% dalam PDB Rusia untuk 2022.

Kantor berita Rusia melaporkan peningkatan pada prediksi Agustus penurunan tahunan 4,2%.

“Ekonomi Rusia akan kembali tumbuh setiap triwulan pada akhir 2022 atau 2023,” ujar Reshetnikov.

Namun sepanjang tahun 2023 ekonomi masih akan mencatat sedikit kontraksi 0,9% karena "efek dasar yang tinggi" dari pertumbuhan kuat sebesar 3,5% pada kuartal pertama tahun ini.

Anton Tabakh, kepala ekonom di penilai kredit Expert RA yang berbasis di Moskow, mengungkapkan dua faktor yang telah mendukung ekonomi Rusia selama enam bulan pertama rezim sanksi baru.

Pertama, lonjakan besar ekspor komoditas, terutama energi dan faktor kedua adalah naiknya pengeluaran pemerintah.

Pada saat yang sama, Moskow mulai mengisi kesenjangan ekonominya melalui skema impor paralel, di mana perusahaan-perusahaan Rusia mengimpor barang-barang bermerek Barat termasuk telepon pintar, mobil dan pakaian dari negara-negara pihak ketiga dan kemudian menjualnya kembali di pasar Rusia tanpa izin dari merek dagang.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
3 Alasan Denmark Larang...
3 Alasan Denmark Larang Mengumandangkan Azan, Tidak Ingin Seperti Islamabad
Rudal Ukraina Hancurkan...
Rudal Ukraina Hancurkan Pabrik Senjata Rusia
Apes, Uni Eropa Terancam...
Apes, Uni Eropa Terancam Kehilangan Pasokan Gas AS usai Tinggalkan Rusia
Gempa Dahsyat Venezuela:...
Gempa Dahsyat Venezuela: 920 Orang Tewas, Hampir 50 Ribu Masih Hilang
Serangan Pembalasan...
Serangan Pembalasan Iran ke Pangkalan Militer AS Makan Korban, 1 Warga Qatar Tewas
Rekomendasi
Tak Hanya Andalkan Teknologi,...
Tak Hanya Andalkan Teknologi, KAI Bangun Loyalitas via Pelayanan Berkualitas
Mencicipi Lima Abad...
Mencicipi Lima Abad Jakarta dari Meja Makan, Warisan Kuliner Peranakan di Kota Tua
Rekor Terburuk Sejak...
Rekor Terburuk Sejak 1986! Yen Jepang Hancur Lebur ke Titik Terendah
Berita Terkini
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Infografis
Negara - Negara yang...
Negara - Negara yang Dianggap Sebagai Musuh Oleh Rusia Di Eropa
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved