Iran Sesalkan Pernyataan Eropa Tentang Pembicaraan Nuklir

Minggu, 11 September 2022 - 05:30 WIB
loading...
Iran Sesalkan Pernyataan Eropa Tentang Pembicaraan Nuklir
Iran Sesalkan Pernyataan Eropa Tentang Pembicaraan Nuklir. FOTO/Reuters
A A A
TEHERAN - Kementerian Luar Negeri Iran menggambarkan pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh Jerman, Prancis, dan Inggris sebagai "tidak konstruktif" dan "disesalkan". Ketiga negara Eropa itu mengaku memiliki "keraguan serius" tentang niat Iran untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015.

Sebelumnya, tiga kekuatan Eropa itu telah melampiaskan rasa frustrasi mereka pada permintaan Iran agar pengawas nuklir PBB menutup penyelidikan terhadap partikel uranium yang ditemukan di tiga lokasi. Menurut tiga negara itu, hal tersebut membahayakan pembicaraan dalam melanjutkan perjanjian.

Baca: IAEA: Iran Tingkatkan Pengayaan Uranium Bawah Tanah

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kanaani mengatakan pada Sabtu (10/9/2022), bahwa tiga negara Eropa itu disarankan untuk memainkan peran yang lebih aktif dalam memberikan solusi untuk mengakhiri beberapa ketidaksepakatan yang tersisa.

Awal bulan ini, Iran mengirim tanggapan terbarunya terhadap teks yang diusulkan Uni Eropa untuk menghidupkan kembali perjanjian di mana Teheran telah menahan program nuklirnya dengan imbalan bantuan dari sanksi ekonomi AS, UE dan PBB.

Para diplomat mengatakan, tanggapan Iran terhadap koordinator UE adalah langkah mundur, dengan berusaha menghubungkan kebangkitan kesepakatan dengan penutupan penyelidikan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ke dalam jejak uranium.

Baca: PM Israel Desak Barat Tolak Kesepakatan Nuklir Iran

“Permintaan terbaru ini menimbulkan keraguan serius mengenai niat dan komitmen Iran untuk hasil yang sukses di JCPoA,” kata ketiga negara, yang dikenal sebagai E3, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Anadolu Agency.

“Posisi Iran bertentangan dengan kewajibannya yang mengikat secara hukum dan membahayakan prospek pemulihan JCPoA,” lanjut pernyataan itu.

Presiden AS saat itu Donald Trump meninggalkan kesepakatan pada 2018 dan memberlakukan kembali sanksi AS, mendorong Iran untuk mulai melanggar pembatasan nuklir kesepakatan. Sekutu regional Amerika Serikat, khususnya Israel, telah menentang kesepakatan nuklir itu karena khawatir Teheran mungkin mencari bom atom.
(esn)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2311 seconds (10.101#12.26)