Perbedaan Tentara Muslim Chechnya vs Tentara Muslim Tatar Krimea Ukraina yang Saling Berhadapan di Medan Perang
Kamis, 28 Juli 2022 - 23:37 WIB
loading...
A
A
A
Melansir dari dw.com, Identitas dan jumlah pasti relawan Chechnya di Ukraina ini tidak diketahui. Tetapi kebanyakan dari mereka diyakini sebagai orang-orang yang meninggalkan Chechnya baik setelah berakhirnya perang di sana pada tahun 2003 atau yang telah melarikan diri dari kekuasaan despotik Kadyrov selama beberapa tahun terakhir.
Baca: Ukraina Ancam Invasi Balik Rusia, Perang Makin Memanas
Tekad mereka untuk membantu Ukraina di tengah invasi Rusia yang sedang berlangsung berasal dari kesamaan yang mereka lihat antara apa yang dialami Ukraina dan nasib mereka sendiri.
Sejarah yang panjang dan penuh kekerasan yang dialami Chechnya yang kini bergabung dengan Rusia memiliki penduduk mayoritas muslim. Daerah ini terkenal sering mengalami konflik dengan Moskow. Setelah runtuhnya Uni Soviet, Rusia menjaga Chechnya agar tidak merdeka, tujuan yang telah dicita citakan daerah ini sejak runtuhnya Uni Soviet.
Konflik pertama pecah pada tahun 1994 ketika Rusia mengirim pasukan ke Republik Chechnya untuk menggagalkan upaya melepaskan diri. Pertempuran berhenti hanya dua tahun kemudian, pada tahun 1997, setelah penandatanganan perjanjian damai pada bulan Agustus 1996.
Dua tahun pertama perang itu bertepatan dengan naiknya Putin ke tampuk kekuasaan. Perang ini berakhir pada April 2000. Dua bulan kemudian, Putin menunjuk Akhmad Kadyrov sebagai kepala Republik Chechnya, yang akan memerintah sampai dia dibunuh oleh pemberontak Islam pada 2004.
Kemudian putranya pada tahun 2007, Ramzan Kadyrov dipilih menjadi pemimpin Chechnya. Dalam kekuasaannya hak asasi manusia telah rusak ketika para kritikus, aktivis, dan jurnalis menghadapi tindak kekerasan. Karena itu banyak orang-orang Chechnya meninggalkan wilayahnya di saat masa kekuasaan Kadyrov.
Baca: Ukraina Tegaskan Identitas Mereka Melalui Hari Kenegaraan 28 Juli
Baca: Ukraina Ancam Invasi Balik Rusia, Perang Makin Memanas
Tekad mereka untuk membantu Ukraina di tengah invasi Rusia yang sedang berlangsung berasal dari kesamaan yang mereka lihat antara apa yang dialami Ukraina dan nasib mereka sendiri.
Sejarah yang panjang dan penuh kekerasan yang dialami Chechnya yang kini bergabung dengan Rusia memiliki penduduk mayoritas muslim. Daerah ini terkenal sering mengalami konflik dengan Moskow. Setelah runtuhnya Uni Soviet, Rusia menjaga Chechnya agar tidak merdeka, tujuan yang telah dicita citakan daerah ini sejak runtuhnya Uni Soviet.
Konflik pertama pecah pada tahun 1994 ketika Rusia mengirim pasukan ke Republik Chechnya untuk menggagalkan upaya melepaskan diri. Pertempuran berhenti hanya dua tahun kemudian, pada tahun 1997, setelah penandatanganan perjanjian damai pada bulan Agustus 1996.
Dua tahun pertama perang itu bertepatan dengan naiknya Putin ke tampuk kekuasaan. Perang ini berakhir pada April 2000. Dua bulan kemudian, Putin menunjuk Akhmad Kadyrov sebagai kepala Republik Chechnya, yang akan memerintah sampai dia dibunuh oleh pemberontak Islam pada 2004.
Kemudian putranya pada tahun 2007, Ramzan Kadyrov dipilih menjadi pemimpin Chechnya. Dalam kekuasaannya hak asasi manusia telah rusak ketika para kritikus, aktivis, dan jurnalis menghadapi tindak kekerasan. Karena itu banyak orang-orang Chechnya meninggalkan wilayahnya di saat masa kekuasaan Kadyrov.
Baca: Ukraina Tegaskan Identitas Mereka Melalui Hari Kenegaraan 28 Juli
Lihat Juga :