Antisipasi Penyebaran Pandemi, WHO Tolak Paspor Kebal Covid-19

Senin, 27 April 2020 - 09:35 WIB
loading...
Antisipasi Penyebaran...
Foto/Istimewa
A A A
NEW YORK - Di saat jumlah korban meninggal akibat Covid-19 telah mencapai lebih dari 200.000 orang, Badan Kesehatan Dunia (WHO) meminta pemerintahan di seluruh dunia tidak mengeluarkan “paspor imunitas” atau “sertifikat bebas risiko” untuk memperlonggar lockdown (isolasi wilayah).

WHO memperingatkan “tidak ada bukti” bahwa orang bisa mengembangkan antibodi setelah sembuh dari virus dan bisa selamat dari infeksi kedua. WHO menyatakan tidak lebih dari 2-3% dari populasi global yang memiliki antibodi terhadap Covid-19. Itu menjadi masalah bagi negara untuk mengeluarkan “paspor imunitas”.

Direktur Jenderal WHO menyatakan hanya 2-3% orang di dunia yang memiliki antibodi. Direktur Teknik WHO untuk Covid-19 Maria Van Kerkhove menyatakan angka tersebut lebih rendah dari yang diperkirakan. Dia meragukan jika negara, seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, Jerman, dan Italia akan memberikan “paspor imunitas”. “Kita belum memiliki penggunaan tes serologis atau antibodi bisa menunjukkan seseorang memiliki imunitas dan tidak akan terinfeksi lagi,” katanya.

Langkah itu sebagai upaya WHO menentang berbagai negara yang memperbolehkan warganya kembali bekerja dan bepergian. Isolasi wilayah untuk menghentikan penyebaran virus telah menghancurkan ekonomi dunia.

Pekan lalu, Chile menyatakan akan mulai merilis “paspor kesehatan” kepada orang-orang yang dianggap telah pulih dari Covid-19 dan kebal pada virus corona. Begitu antibodi pada tubuh mereka terlacak, mereka bisa bekerja kembali, kata sejumlah pejabat. Di Swedia yang memilih membebaskan sebagian besar masyarakat, beberapa ilmuwan meyakini taraf kekebalan tubuh pada penduduk akan jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang ditempatkan dalam karantina wilayah.

“Belum ada bukti orang-orang yang membangun antibodi setelah sembuh dari virus corona benar-benar aman dari serangan virus itu untuk kedua kali,” demikian kata WHO.

Sebagian besar kajian yang dijalankan sejauh ini menunjukkan orang-orang telah sembuh dari Covid-19 memiliki antibodi dalam darah mereka, tapi sebagian dari mereka punya antibodi berkadar rendah. WHO belum mengevaluasi apakah keberadaan antibodi pada virus corona menimbulkan kekebalan terhadap penularan virus tersebut untuk kedua kalinya.

“Pada tahap ini, belum ada cukup bukti mengenai efektivitas antibodi untuk menjamin akurasi 'paspor imunitas' atau 'sertifikat bebas risiko',” kata WHO. WHO juga mengatakan rangkaian uji laboratorium untuk mendeteksi antibodi perlu divalidasi lebih lanjut untukdalam menentukan akurasinya dan membedakan penularan virus SARS-CoV-2—yang menyebabkan Covid-19—dengan enam virus corona lainnya yang terlebih dulu menyebar.

Anders Wallensten dari Badan Kesehatan Masyarakat Swedia mengatakan kekebalan tubuh belum diketahui secara mendalam. “Kami akan tahu lebih banyak setelah makin banyak orang yang diuji antibodinya, makin panjang waktunya, dan makin banyak laporan penularan kembali yang dilaporkan,” paparnya dilansir BBC.

Belgia juga menjadi negara yang menentang pemberian “paspor imunitas”. “Saya menentang pemberian paspor kepada orang-orang yang hijau atau yang merah, tergantung pada status serum darah mereka,” ujar Professor Marc Van Ranst, pakar virologi sekaligus anggota Kelompok Peninjau Risiko serta Komite Sains mengenai virus korona di Belgia. Dia mengatakan, sertifikat itu justru memunculkan pemalsuan yang membuat orang-orang bersedia menularkan virus pada diri mereka. “Ini bukan ide bagus. Ini ide yang sangat buruk,” katanya.

Banyak negara telah melaksanakan pengujian sampel untuk antibodi terhadap populasinya, seperti Amerika Serikat (AS), Italia, Jerman, dan Inggris. Survei awal terhadap penduduk New York ditemukan bahwa hampir 14% memiliki antobodi melawan virus korona. Itu diungkapkan Gubernur New York Andrew Cuomo yang mengatakan, ada indikasi bahwa 2,7 juta warganya telah terinfeksi virus corona.

Hanya 3.000 orang yang disurvei, Cuomo mengungkapkan, tingkat kematian akibat infeksi virus corona hanya 0,5% atau lebih rendah dibandingkan yang diungkapkan para pakar. “Jika infeksi mencapai 13,9%, itu bisa mengubah teori kalau tingkat kematian orang yang terinfeksi virus corona,” kata Cuomo. Tingkat kematian 0,5% dihitung dari membagi jumlah korban meninggal sekitar 15.500 dengan estimasi warga yang terinfeksi 14% dari total 19 juta penduduk New York, yakni 2,7 juta.

Di Inggris, 25.000 orang diperiksa setiap bulannya pada tahun depan untuk memperiksaan antibodi dan pengecekan apakah mereka memiliki virus. Itu bertujuan untuk memberikan informasikan apakah berapa lama imunitas melawan Covid-19 bagi pasien yang sembuh. Di Belgia, pejabat Badan Kesehatan Publik Swedia Anders Wallensten mengungkapkan kekebalan saja tidak cukup. “Kita harus mengetahui lebih banyak orang untuk dites antibodi,” katanya.

Sebelumnya, Profesor Mala Maini dari Universitas College London mengatakan, ketersediaan pengujian antibodi seharusnya dilakukan untuk mengetahui berapa antibodi dalam tubuh bisa bertahan dan apakah akan memberikan perlindungan. “Kita tidak yakin jika antibodi tersebut bisa mengindikasikan imunitas perlindungan terhadap Covid-19. Data awal memang menunjukkan hal yang masuk akal,” katanya. (Andika H Mustaqim)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kepala WHO Kunjungi...
Kepala WHO Kunjungi Pusat Wabah Ebola
Disebut Calon Kuat Jadi...
Disebut Calon Kuat Jadi Direktur Jenderal WHO, Menkes Budi: Saya akan Konfirmasi
Kepala WHO Peringatkan...
Kepala WHO Peringatkan Lebih Banyak Kasus Hantavirus akan Muncul
WHO: Wabah Hantavirus...
WHO: Wabah Hantavirus Bukan Awal Pandemi Covid-19 Berikutnya
WHO Peringatkan Skenario...
WHO Peringatkan Skenario Nuklir Terburuk di Iran, Rusia Kutuk Serangan Israel
WHO Ungkap Lebih dari...
WHO Ungkap Lebih dari 16.500 Orang di Gaza Butuh Perawatan Medis Mendesak
BPOM dan WHO Perkuat...
BPOM dan WHO Perkuat Kolaborasi Pengawasan Obat dan Makanan
Israel Bombardir Lebanon...
Israel Bombardir Lebanon Selatan Tewaskan 16 Orang
Wapres AS Blak-blakan:...
Wapres AS Blak-blakan: Trump Tak Akur dengan Netanyahu soal Perang Iran
Rekomendasi
Roy Suryo-Tifa Tak Ditahan,...
Roy Suryo-Tifa Tak Ditahan, Relawan Jokowi: Ini Bukan Akhir dari Segalanya
Gunakan MT Gamkonora,...
Gunakan MT Gamkonora, Pertamina Patra Niaga Tambah 450 Ribu Barel Minyak
Stimulus Jumbo Lintas...
Stimulus Jumbo Lintas Sektor Rp26,34 Triliun Resmi Meluncur, Berikut Rincian Alokasinya
Berita Terkini
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
Infografis
Penyebab Kasus Covid-19...
Penyebab Kasus Covid-19 di Indonesia Naik, Salah Satunya Mutasi Virus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved