AS Menang Kasus Penyitaan Superyacht Rusia di Fiji, Langsung Dibawa Berlayar

Rabu, 08 Juni 2022 - 11:34 WIB
loading...
AS Menang Kasus Penyitaan...
Kapal superyacht Amadea berlabuh di Queens Wharf, Lautoka, Fiji, 3 Mei 2022. Foto/REUTERS
A A A
SUVA - Amerika Serikat (AS) memenangkan pertempuran hukum pada Selasa (7/6/2022) untuk merebut superyacht milik miliarder Rusia di Fiji.

Otoritas AS tidak membuang waktu untuk mengambil alih komando kapal senilai USD325 juta dan berlayar menjauh dari negara Pasifik Selatan itu.

Putusan pengadilan Fiji mewakili kemenangan signifikan bagi AS karena menghadapi hambatan dalam upayanya merebut aset para oligarki Rusia di seluruh dunia.

Baca juga: Untung Besar dari Perang, Polandia Ekspor Senjata Senilai Rp9 Triliun ke Ukraina

Sementara upaya tersebut disambut banyak orang yang menentang perang di Ukraina, beberapa tindakan itu telah menguji batas yurisdiksi Amerika di luar negeri.

Baca juga: Melunak, Gedung Putih Puji Arab Saudi sebagai Mitra Strategis

Di Fiji, Mahkamah Agung (MA) negara itu mencabut perintah tinggal yang telah mencegah AS merebut superyacht Amadea.

Baca juga: Komentar PBB Soal Tuduhan Rusia Curi Gandum Ukraina

Ketua Hakim Kamal Kumar memutuskan berdasarkan bukti, kemungkinan pengacara pembela mengajukan banding yang akan didengar oleh pengadilan tinggi adalah “nihil hingga sangat tipis.”

Kumar mengatakan dia menerima argumen bahwa menjaga kapal superyacht berlabuh di Fiji di pelabuhan Lautoka adalah “sangat merugikan pemerintah Fiji.”

"Fakta bahwa pihak berwenang AS telah berjanji membayar biaya yang dikeluarkan pemerintah Fiji sama sekali tidak relevan," ungkap hakim itu.

Dia mengatakan, “Amadea berlayar ke perairan Fiji tanpa izin dan kemungkinan besar untuk menghindari penuntutan oleh Amerika Serikat.”

AS memindahkan kapal mewah itu dalam satu atau dua jam setelah keputusan pengadilan, mungkin untuk memastikan kapal pesiar itu tidak terjerat dalam tindakan hukum lebih lanjut.

Juru bicara Departemen Kehakiman AS Anthony Coley mengatakan di Twitter bahwa superyacht itu telah berlayar ke AS di bawah bendera baru.

Dia menjelaskan, “Pihak berwenang Amerika berterima kasih kepada polisi dan jaksa di Fiji yang ketekunan dan dedikasinya terhadap supremasi hukum memungkinkan tindakan ini.”

Pada awal Mei, Departemen Kehakiman mengeluarkan pernyataan yang mengatakan Amadea telah disita di Fiji, tetapi ternyata masih terlalu dini setelah pengacara mengajukan banding.

Tidak segera jelas ke mana AS akan membawa Amadea, yang dikaitkan FBI dengan oligarki Rusia Suleiman Kerimov.

Direktur Penuntutan Umum Fiji Christopher Pryde mengatakan pertanyaan yang belum terselesaikan tentang pencucian uang dan kepemilikan Amadea perlu diputuskan di AS.

“Keputusan tersebut mengakui komitmen Fiji untuk menghormati permintaan bantuan timbal balik internasional dan kewajiban internasional Fiji,” papar Pryde.

Dalam dokumen pengadilan, FBI mengaitkan Amadea dengan keluarga Kerimov melalui dugaan penggunaan nama kode saat berada di kapal dan pembelian barang-barang seperti oven pizza dan tempat tidur spa.

Kapal yang menjadi incaran Satgas KleptoCapture, diluncurkan pada Maret lalu untuk menyita aset oligarki Rusia guna menekan Rusia agar mengakhiri perang.

Kapal sepanjang 106 meter, kira-kira sepanjang lapangan sepak bola, memiliki tangki lobster hidup, piano yang dilukis dengan tangan, kolam renang, dan helipad besar.

Pengacara Feizal Haniff yang mewakili pemilik Millemarin Investments, berpendapat pemiliknya adalah orang kaya Rusia lainnya yang tidak seperti Kerimov, tidak menghadapi sanksi.

AS mengakui dokumen tampaknya menunjukkan Eduard Khudainatov adalah pemiliknya.

Namun AS mengatakan dia juga pemilik superyacht kedua dan bahkan lebih besar, Scheherazade, yang telah dikaitkan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

AS mempertanyakan apakah Khudainatov benar-benar mampu membeli dua superyacht senilai total lebih dari USD1 miliar.

“Fakta bahwa Khudainatov ditahan sebagai pemilik dua superyacht terbesar yang pernah tercatat, keduanya terkait dengan individu yang terkena sanksi, menunjukkan Khudainatov digunakan sebagai pemilik yang bersih dan tidak terkena sanksi untuk menyembunyikan pemilik manfaat yang sebenarnya,” ungkap FBI dalam surat pernyataan pengadilan.

Dokumen pengadilan mengatakan Amadea mematikan transpondernya segera setelah Rusia menginvasi Ukraina dan berlayar dari Karibia melalui Terusan Panama ke Meksiko, tiba dengan uang tunai lebih dari USD100.000.

Kapal itu kemudian berlayar ribuan mil melintasi Samudra Pasifik ke Fiji.

Departemen Kehakiman mengatakan tidak percaya dokumen yang menunjukkan Amadea selanjutnya menuju ke Filipina, dengan alasan kapal itu benar-benar bertujuan ke Vladivostok atau di tempat lain di Rusia.

Departemen mengatakan mereka menemukan pesan teks di telepon anggota kru yang mengatakan, "Kami tidak akan pergi ke Rusia, diikuti dengan emoji ‘diam’."

AS mengatakan Kerimov diam-diam membeli Amadea berbendera Cayman Island tahun lalu melalui berbagai perusahaan cangkang.

FBI mengatakan surat perintah penggeledahan di Fiji memunculkan email yang menunjukkan anak-anak Kerimov berada di atas kapal tahun ini dan bahwa kru menggunakan nama kode G0 untuk Kerimov, G1 untuk istrinya, G2 untuk putrinya dan seterusnya.

Kerimov menghasilkan banyak uang dengan berinvestasi di produsen emas Rusia Polyus, dengan majalah Forbes menempatkan kekayaan bersihnya sebesar USD14,5 miliar.

AS pertama kali memberinya sanksi pada 2018 setelah dia ditahan di Prancis dan dituduh melakukan pencucian uang di sana, terkadang dia tiba dengan koper berisi 20 juta euro.

Khudainatov adalah mantan Chairman dan CEO Rosneft, perusahaan minyak dan gas Rusia yang dikendalikan negara.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
1 Tahun Berkuasa, Kekayaan...
1 Tahun Berkuasa, Kekayaan Trump Bertambah Rp25 Triliun
Siapkan Kemenangan pada...
Siapkan Kemenangan pada Pemilu Pertengahan, Trump Gelar Konvensi Partai Republik
Mahkamah Agung Batalkan...
Mahkamah Agung Batalkan Perintah Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran Trump
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Donald Trump Raup Rp25...
Donald Trump Raup Rp25 Triliun dari Bisnis Kripto, Lampaui Pendapatan Properti yang Dibangun Puluhan Tahun
Pesawat Pembawa Penerjun...
Pesawat Pembawa Penerjun Payung Jatuh di Prancis, 11 Orang Tewas
Presiden Venezuela Terenyuh...
Presiden Venezuela Terenyuh Puluhan Negara Bantu Cari Korban Gempa, Nyaris 2.000 Orang Tewas
Rekomendasi
Benedetto Vigna: Jika...
Benedetto Vigna: Jika Mobil Otonom Bisa Mengemudi Sendiri, Mengapa Membeli Ferrari
Kasus Hanania Travel:...
Kasus Hanania Travel: 16 Influencer Diperiksa, Rp110 Juta Uang Saku Disita Polisi
Setan Merah Comeback,...
Setan Merah Comeback, Laga Belgia vs Senegal Berlanjut ke Extra Time
Berita Terkini
1 Tahun Berkuasa, Kekayaan...
1 Tahun Berkuasa, Kekayaan Trump Bertambah Rp25 Triliun
Siapa Vadym Yermolaiev?...
Siapa Vadym Yermolaiev? Taipan Ukraina yang Terluka dalam Ledakan di Monako
Italia Blokir Bantuan...
Italia Blokir Bantuan Militer NATO kepada Ukraina Senilai Rp1.436 Triliun, Sinyal Kemenangan bagi Rusia?
Kurangi Ketergantungan...
Kurangi Ketergantungan Eropa dari AS, Mampukah Turki Ingin Memperkuat NATO 3.0?
Israel Sebut Mojtaba...
Israel Sebut Mojtaba Jadi Target Pembunuhan, Iran Marah Besar!
Direktur CIA: Dunia...
Direktur CIA: Dunia Terancam dengan Senjata Nuklir Digital yang Didukung AI
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved