Bursa Saham Global Jatuh di Tengah Ancaman Gelombang Kedua Covid-19

Jum'at, 12 Juni 2020 - 19:01 WIB
loading...
Bursa Saham Global Jatuh...
Pengunjung melihat papan harga saham di Bursa Saham Tokyo, Jepang. Foto/REUTERS
A A A
LONDON - Bursa saham dunia kembali tergelincir akibat kekhawatiran gelombang kedua wabah virus corona Covid-19. Para ahli menilai hal itu akan kian menyebabkan ekonomi global kian terpuruk.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) dalam hal ini Federal Reserve memperingatkan ekonomi nasional AS akan menghadapi perjalanan yang panjang untuk dapat kembali pulih. Kemarin, tiga bursa saham AS melalui hari terburuk, Dow Jones bahkan menderita penurunan hingga 7%.

Sama seperti di AS, pasar saham di Asia juga tergelincir, baik di Jepang, Hong Kong, ataupun China. Selain akibat kekhawatiran gelombang kedua Covid-19, penurunan juga terjadi akibat demonstrasi anti-rasial di kawasan Eropa dan AS dalam sepekan terakhir.

Sehari sebelumnya, bursa saham di Eropa juga anjlok. FTSE Inggris 100, Dax Jerman, dan CAC 40 Prancis mengalami penurunan yang sama, yakni 4%. Industri yang terdampak paling besar ialah sektor energi dan pariwisata.

"Pemerintah, perusahaan, dan masyarakat perlu mempersiapkan diri lebih baik untuk menghadapi gelombang kedua Covid-19," ujar Roland Kaloyan, ahli strategi ekuitas dari Societe Generale. "Masalah besar yang akan dihadapi ialah dana yang dapat disuntikkan pemerintah sangat terbatas," tambahnya.

Harga saham baru saja merangkak naik pekan ini menyusul diperlonggarnya lockdown di berbagai negara di dunia. Sejumlah perusahaan, terbanyak di AS, juga telah kembali merekrut karyawan baru untuk turut membangkitkan ekonomi. Namun, upaya itu tidak sepenuhnya berjalan dengan lancar.

Departemen Buruh AS menyatakan sebanyak 1,5 juta orang telah melaporkan diri terkena PHK pada pekan lalu. Sejauh ini, total sebanyak 30 juta warga AS telah menganggur akibat dipecat selama lockdown. Federal Reserve AS menyatakan angka pengangguran dapat mencapai hingga 9% dari total penduduk pada akhir tahun ini.

Selama konferensi pers, Kepala Federal Reserve AS, Jerome Powell, juga mengatakan kondisi di lapangan dapat kian memburuk jika angka infeksi Covid-19 terus meningkat di AS. Sejumlah negara bagian AS yang mencabut lockdown seperti Arizona dan South Carolina telah mengalami kenaikkan jumlah pasien belakangan ini. (Baca Juga: Turki dan Pakistan Bangun Kapal Perang Canggih Penyeimbang Kekuatan)

"Keadaan seperti ini dapat mencedarai upaya pemulihan, sekalipun wabah yang menyerang sebuah wilayah tidak mencapai tingkat nasional," kata Powell, dikutip BBC. "Hal ini bukan tanpa alasan. Orang-orang akan ketakutan untuk keluar rumah sehingga akan menghambat aktivitas dan laju pertumbuhan ekonomi," tambahnya.

Treasury Secretary AS, Steven Mnuchin, mengatakan pemerintah tidak mungkin menerapkan lockdown untuk kedua kalinya dalam waktu sempit karena akan meruntuhkan ekonomi negara. Namun, para ahli menilai masyarakat kemungkinan akan lebih banyak diam di rumah pada tahun ini. (Baca Juga: Bocoran dari Saudi, Haji Bisa Dibatasi 20% Kuota Per Negara atau Batal)
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pasar Saham China Kian...
Pasar Saham China Kian Tertekan akibat Cengkeraman Regulasi PKC
3 Fakta Penerbangan...
3 Fakta Penerbangan dari Lebanon Banyak Dibatalkan Akibat Invasi Darat Israel, Saham Ikut Anjlok
Keputusan China Akhiri...
Keputusan China Akhiri 'Nol Covid-19' Diduga Picu 1,9 Juta Ekses Kematian
Jejak Panjang Pandemi...
Jejak Panjang Pandemi Covid-19: dari Muncul di Wuhan hingga Dinyatakan Berakhir
WHO: Covid-19 Sudah...
WHO: Covid-19 Sudah Berakhir
Bukan Kebocoran Lab,...
Bukan Kebocoran Lab, Data Baru Kaitkan Virus Covid-19 Berasal dari Binatang Ini
Investor Saham Meningkat,...
Investor Saham Meningkat, Stockbit Andalkan Keamanan Berlapis
Gempa Venezuela: Korban...
Gempa Venezuela: Korban Tewas Bertambah Jadi 1.719 Orang, Ribuan Masih Hilang
Israel Ungkap 2 Skenario...
Israel Ungkap 2 Skenario Perang AS-Iran Pecah Lagi
Rekomendasi
HUT ke-118, Ikatan Notaris...
HUT ke-118, Ikatan Notaris Indonesia Dorong Penegakan Etik dan Adaptasi Digital
B50 Dimulai 1 Juli,...
B50 Dimulai 1 Juli, Mampukah Jadi Solusi Ketahanan Energi Tanpa Mengorbankan Petani Sawit?
Boni Hargens Sebut Polri...
Boni Hargens Sebut Polri Presisi Tulang Punggung Demokrasi
Berita Terkini
Israel Sebut Mojtaba...
Israel Sebut Mojtaba Jadi Target Pembunuhan, Iran Marah Besar!
Direktur CIA: Dunia...
Direktur CIA: Dunia Terancam dengan Senjata Nuklir Digital yang Didukung AI
Jalanan di Inggris Meleleh...
Jalanan di Inggris Meleleh pada Suhu 45 Derajat Celsius, Ini 3 Alasannya
Paksa Rusia Mengakhiri...
Paksa Rusia Mengakhiri Perang, Ukraina Intensifkan Serangan Drone ke Moskow
Siapkan Kemenangan pada...
Siapkan Kemenangan pada Pemilu Pertengahan, Trump Gelar Konvensi Partai Republik
Dunia Fokus ke Iran,...
Dunia Fokus ke Iran, Israel Justru Percepat Perebutan Lahan di Gaza dan Tepi Barat
Infografis
Waspada, Kasus COVID-19...
Waspada, Kasus COVID-19 Meningkat 2 Kali Lipat di Singapura
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved