Pasar Saham China Kian Tertekan akibat Cengkeraman Regulasi PKC

Selasa, 19 Agustus 2025 - 13:12 WIB
loading...
Pasar Saham China Kian...
Regulasi ketat Partai Komunis China telah membuat pasar saham China tertekan. Foto/Ilustrasi Kyodo
A A A
JAKARTA - Pasar saham China tengah menunjukkan tren yang ganjil sekaligus konsisten: harga saham cenderung turun semalam, bukan karena guncangan makroekonomi atau laporan laba perusahaan, melainkan akibat hilangnya kepercayaan investor. Fenomena ini, yang diungkap dalam studi terbaru peneliti Universitas Peking, bukan sekadar anomali teknis, tapi mencerminkan cacat struktural yang lebih dalam dalam arsitektur ekonomi dan regulasi China.

Pusat dari persoalan ini adalah aturan T+1, yakni kebijakan yang melarang investor menjual saham pada hari yang sama setelah mereka membelinya. Aturan ini pada awalnya dimaksudkan untuk melindungi investor ritel dari eksploitasi algoritmik dan spekulasi berlebihan. Namun, aturan ini justru menciptakan iklim ketakutan, ketidakjelasan, dan inefisiensi.

Mengutip dari Mizzima, Selasa (19/8/2025), aturan T+1 memperbesar asimetri informasi, terutama di pasar yang didominasi investor ritel tanpa akses pada analisis dan perlindungan setingkat institusi. Karena tidak bisa keluar dari posisi dengan cepat, para trader enggan membeli saham menjelang penutupan, khawatir terjebak dalam posisi yang memburuk semalaman.

Baca Juga: Aktivitas Militer China di Selat Tsushima Picu Kekhawatiran Jepang

Perilaku ini menekan harga penutupan dan melahirkan pola penurunan berulang. Alhasil, pasar digerakkan bukan oleh fundamental, melainkan oleh sentimen dan kecurigaan—ekosistem rapuh di mana ketidakpercayaan menjadi lingkaran setan.

Fenomena ini bukan sekadar kegagalan teknis; ia mencerminkan filosofi ekonomi Partai Komunis China (PKC) yang lebih luas, yang menempatkan kendali di atas transparansi, intervensi di atas otonomi pasar, dan proteksionisme di atas kedalaman institusional.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Dari Infrastruktur ke...
Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
Pertama Kalinya, Taiwan...
Pertama Kalinya, Taiwan Tembakkan Puluhan Rudal HIMARS Amerika ke Arah China
China Luncurkan Alat...
China Luncurkan Alat Pelacak Kapal Selam Nuklir, Bakal Ubah Perang Masa Depan
Biksu Buddha di China...
Biksu Buddha di China Dilaporkan Ditahan usai Peringati Peristiwa Tiananmen
Respons Aksi China,...
Respons Aksi China, Jepang Perkuat Pertahanan Sisi Barat Daya
Pesona China yang Berbeda:...
Pesona China yang Berbeda: Eksplor Keunikan Infrastruktur Chongqing dan Alam Zhangjiajie
Ledakan di China Selatan...
Ledakan di China Selatan tewaskan Setidaknya 7 Orang
Presiden Pezeshkian...
Presiden Pezeshkian Sebut Ancaman Trump Tak Mempan untuk Iran
Rekomendasi
Dudung: Pemerintah Selalu...
Dudung: Pemerintah Selalu Buka Ruang untuk Publik Sampaikan Kritik
Mahasiswa Aliansi UNJ...
Mahasiswa Aliansi UNJ Melawan Turun ke Jalan, Ini Tuntutannya
Rupiah Bergejolak, Saatnya...
Rupiah Bergejolak, Saatnya Lirik Aset Global?
Berita Terkini
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Infografis
Pasar di Jakarta Hasilkan...
Pasar di Jakarta Hasilkan 500 Ton Sampah Per Hari
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved