Ekonomi Hancur Lebur, Semakin Banyak Perempuan Afghanistan Kehilangan Pekerjaan

Jum'at, 21 Januari 2022 - 00:15 WIB
loading...
Ekonomi Hancur Lebur,...
Ekonomi hancur lebur, semakin banyak perempuan Afghanistan kehilangan pekerjaan. FOTO/Reuters
A A A
KABUL - Di sebuah bengkel menjahit kecil di Kabul , pengusaha Afghanistan berusia 29 tahun, Sohaila Noori, mengamati saat tenaga kerjanya kian berkurang drastis. Saat ini hanya sekitar 30 wanita yang menjahit syal, gaun, dan pakaian bayi.

Padahal, beberapa bulan lalu, sebelum gerakan Islam garis keras Taliban merebut kekuasaan di Afghanistan pada Agustus, dia mempekerjakan lebih dari 80 orang. Para karyawan kebanyakan wanita, di tiga bengkel tekstil yang berbeda.

Baca: Taliban Tangkap Milisinya karena Tembak Mati Wanita Syiah Hazara

"Di masa lalu, kami memiliki begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan," kata Noori, yang bertekad untuk mempertahankan bisnisnya agar dapat mempekerjakan sebanyak mungkin wanita, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (20/1/2022).

"Kami memiliki berbagai jenis kontrak. Kami juga dapat dengan mudah membayar gaji kepada penjahit utama kami dan pekerja lain. Tetapi, saat ini kami tidak memiliki kontrak," keluhnya.

Dengan ekonomi Afghanistan yang dalam krisis - miliaran dolar dalam bantuan dan cadangan telah terputus dan orang-orang biasa memiliki sedikit uang bahkan untuk kebutuhan pokok - perusahaan seperti Noori sedang berjuang untuk tetap bertahan.

Baca: Taliban Semprotkan Merica ke Demonstran Wanita di Kabul

Lebih buruk lagi, Taliban hanya akan mengizinkan perempuan untuk bekerja tunduk pada interpretasi mereka terhadap hukum Islam. Kondisi in mendorong sejumlah wanita untuk meninggalkan pekerjaan karena takut akan hukuman oleh kelompok yang sangat membatasi kebebasan mereka terakhir kali mereka memerintah.

Keuntungan yang diperoleh dengan susah payah dalam hak-hak perempuan selama dua dekade terakhir dengan cepat dibalik. Dan, laporan dari pakar hak internasional dan organisasi buruh minggu ini melukiskan gambaran suram untuk pekerjaan perempuan dan akses ke ruang publik.

Meskipun krisis ekonomi melanda seluruh negeri - beberapa lembaga memperkirakan itu akan membuat hampir seluruh penduduk dalam kemiskinan dalam beberapa bulan mendatang - efeknya tidak proporsional dirasakan oleh perempuan.

Baca: Taliban Umbar Janji, Seluruh Anak Perempuan Segera Bersekolah

"Krisis di Afghanistan telah membuat situasi yang sudah menantang bagi pekerja perempuan menjadi lebih buruk," kata Ramin Behzad, Koordinator Senior Organisasi Buruh Internasional (ILO) untuk Afghanistan.

"Pekerjaan di sektor-sektor utama telah mengering sementara pembatasan yang baru diberlakukan pada partisipasi perempuan di beberapa bidang ekonomi juga berdampak," lanjutnya.

Tingkat pekerjaan perempuan Afghanistan turun sekitar 16 persen pada kuartal ketiga tahun 2021, menurut laporan ILO yang dirilis pada Rabu (19 Januari), dibandingkan dengan 6 persen untuk laki-laki.



Pekerjaan perempuan diperkirakan 21 persen lebih rendah daripada sebelum pengambilalihan Taliban pada pertengahan 2022 jika kondisi saat ini berlanjut, menurut ILO.

Bagi para pekerja di bengkel Noori, kesempatan untuk menghasilkan uang melebihi kekhawatiran lainnya. “Kebanyakan keluarga kami khawatir dengan keselamatan kami. Mereka berulang kali menelepon kami ketika kami tidak sampai di rumah tepat waktu,” kata Liluma, seorang wanita pekerja di Afghanistan.

“Tetapi, kami semua tetap bekerja, karena kami memiliki masalah ekonomi,” kata Lailuma yang hanya menyebutkan satu nama dari takut akan keselamatannya.
(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
Respons Aksi China,...
Respons Aksi China, Jepang Perkuat Pertahanan Sisi Barat Daya
Pakar Militer Ini Sebut...
Pakar Militer Ini Sebut AS Tak Sadari Gelombang Kejut Besar di Asia
Hukum Baru Taliban:...
Hukum Baru Taliban: Diamnya Gadis Perawan Berarti Persetujuan untuk Menikah
IATA Peringatkan Krisis...
IATA Peringatkan Krisis Avtur akan Terjang Asia Terlebih Dulu, Baru Eropa dan Amerika Latin
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Dibuka, Kilang-kilang Asia Ogah Ikut Demam Minyak Teluk
Teken Perjanjian Damai...
Teken Perjanjian Damai dengan AS, Dubes Iran: InsyaAllah Kita Dapat Perdamaian Permanen di Kawasan
Nah, Menteri Israel...
Nah, Menteri Israel Ini Sebut Perdamaian AS-Iran Tak Tahan Lama
Rekomendasi
Tinjau Teknologi Tanam...
Tinjau Teknologi Tanam PM-AAS, Presiden Prabowo Sebut Inovasi Pertanian Revolusioner
B50 Mulai Berjalan 1...
B50 Mulai Berjalan 1 Juli 2026, Harga Solar Dipastikan Tidak Berubah
PHK Massal Berisiko...
PHK Massal Berisiko Gerus Kelas Menengah, Sekjen Perindo Ferry Kurnia Dorong Insentif Dunia Usaha
Berita Terkini
Viral! Kebun Binatang...
Viral! Kebun Binatang China Cari Pemeran Beruang Hitam, Gajinya Rp263,6 Juta
Sadisnya Tentara Israel,...
Sadisnya Tentara Israel, Tembak Mati Pria Palestina yang Sedang Tidur
Malaysia Tuntut Kompensasi...
Malaysia Tuntut Kompensasi Rp4,6 Triliun setelah Batal Dapatkan Rudal Canggih NSM Norwegia
Iran Tuduh NATO Terlibat...
Iran Tuduh NATO Terlibat Perang Gabungan AS-Israel Gara-gara Pengakuan Sekjen Mark Rutte
Update Gempa Kembar...
Update Gempa Kembar Venezuela: 235 Orang Tewas, 1.500 Luka, Banyak Jasad Terkubur Reruntuhan
Kerja Sama Yunani-China...
Kerja Sama Yunani-China Diperdebatkan, Legislator Tolak Status 'Mitra Lemah'
Infografis
Ekonomi Suram, Gelombang...
Ekonomi Suram, Gelombang Unjuk Rasa Banyak Terjadi di China
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved