Di Tengah Situasi Panas, Jerman Ingin Normalkan Hubungan dengan Rusia

Selasa, 18 Januari 2022 - 10:34 WIB
loading...
Di Tengah Situasi Panas,...
Menteri Luar Negeri (Menlu) Jerman Annalena Baerbock. Foto/REUTERS
A A A
BERLIN - Di tengah berbagai ketegangan yang terjadi, Jerman masih berniat menormalkan hubungan dengan Rusia.Pernyataan itu diungkapkan Menteri Luar Negeri (Menlu) Jerman Annalena Baerbock dalam laporan yang dirilis RT.com pada Senin (17/1/2022) sebelum kunjungan yang direncanakan ke Moskow.

Dia bersikeras pembicaraan bilateral baru-baru ini tidak dapat diharapkan untuk menyelesaikan setiap masalah sekaligus.

Berbicara kepada wartawan pada Jumat (14/1/2022), Menteri Luar Negeri Annalena Baerbock menepis kegagalan pembicaraan antara Rusia dan Barat. Menurut dia, diplomasi produktif antara kedua belah pihak masih sangat mungkin dilakukan.

Baca juga: Inggris Kirim Senjata Anti-Tank ke Ukraina untuk Hadapi Rusia

“Tidak ada pembicaraan bersama dengan Rusia dalam kerangka NATO selama dua tahun,” ungkap dia.

Baca juga: Tantang Ancaman AS Soal Ukraina, Rusia Punya Skenario Khusus

Dia menambahkan, “Saya tidak berpikir ada orang yang datang ke meja perundingan dan berpikir, 'Kita belum berbicara satu sama lain selama dua tahun, sekarang kita akan menyelesaikan dalam beberapa jam segala sesuatu yang belum dibahas dalam beberapa tahun terakhir.'”

Baca juga: Koalisi Saudi Gempur Yaman Habis-habisan setelah Houthi Serang Abu Dhabi

Baerbock yang akan melakukan perjalanan ke Moskow dan Kiev pekan ini untuk negosiasi, menekankan bahwa menyelesaikan masalah secara diplomatis jarang mudah dilakukan.

“Diplomasi, terutama di masa krisis, ditandai dengan fakta bahwa itu membutuhkan banyak ketekunan, banyak kesabaran, dan saraf yang kuat. Kita melakukan segala yang kita bisa untuk memastikan bahwa tidak ada eskalasi lebih lanjut," papar dia.

Pada Senin (17/1/2022), Baerbock mengindikasikan bahwa dia akan tiba di Moskow dengan "daftar panjang" masalah untuk didiskusikan.

Dia mengatakan bahwa dia akan memperjelas posisi Jerman. Dia menyebut sains, budaya, perdagangan, energi terbarukan, dan isu-isu iklim sebagai subjek yang memungkinkan untuk kerja sama dengan Rusia.

“Kerja sama antara komunitas sipil sangat penting bagi kita. Saya juga ingin berbicara dengan rekan Rusia saya tentang peluang ini dan bagaimana kita dapat menciptakan kondisi untuk menggunakannya secara lebih efektif,” papar dia.

Dia juga akan mendengarkan dengan penuh perhatian lawan bicaranya di Rusia dan Ukraina.

Komentar Baerbock muncul setelah serangkaian pembicaraan yang diadakan pekan lalu antara diplomat dari Rusia, Amerika Serikat (AS), dan NATO tentang masalah keamanan di Eropa.

Moskow telah meminta jaminan tertulis bahwa blok NATO pimpinan AS tidak akan memperluas ke Ukraina. Para pemimpin Barat mengatakan tuntutan Rusia itu tidak mungkin dipenuhi.

Sementara itu, dinas intelijen Amerika Serikat telah memperingatkan selama berbulan-bulan bahwa mereka takut akan invasi Rusia ke Ukraina, yang oleh Kremlin dianggap sebagai informasi yang salah.

Pada Kamis, Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergey Lavrov mengumumkan dia mengharapkan kekuatan Barat membuat jawaban tertulis atas proposal keamanan Moskow dalam waktu sepekan.

Dalam wawancara televisi eksklusif dengan RT pada Desember, Lavrov mengatakan Rusia sangat ingin berdiplomasi dengan Jerman, tetapi beberapa faksi di Berlin lebih tertarik memberi kuliah di Moskow daripada menemukan titik temu.

“Pendekatan yang mereka miliki bahwa satu sisi melakukan segalanya dengan sempurna, dan sisi lain harus mengubah perilakunya sama sekali, yah, Anda mengerti bahwa itu tidak bisa terjadi,” ujar dia.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Finlandia Izinkan Wilayahnya...
Finlandia Izinkan Wilayahnya Jadi Lokasi Pengerahan Senjata Nuklir NATO, Rusia Terancam
6 Fakta NATO Jelang...
6 Fakta NATO Jelang KTT Ankara, Memiliki 3,3 Juta Prajurit dan Anggaran Militer Terbesar di Dunia
Rudal Ukraina Hancurkan...
Rudal Ukraina Hancurkan Pabrik Senjata Rusia
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Malaysia Tuntut Kompensasi...
Malaysia Tuntut Kompensasi Rp4,6 Triliun setelah Batal Dapatkan Rudal Canggih NSM Norwegia
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Gelombang Panas Dahsyat...
Gelombang Panas Dahsyat Landa Eropa, Picu Lebih dari 200 Kematian di Spanyol dan Prancis
Heboh, Menteri Perempuan...
Heboh, Menteri Perempuan Swedia Bawa Bayi ke Pertemuan Uni Eropa
Rekomendasi
HGI Jakarta Domino Tournament...
HGI Jakarta Domino Tournament 2026, Ribuan Peserta Ramaikan Olahraga Pikiran
Lineker Semprot FIFA:...
Lineker Semprot FIFA: Hukuman Madibo Tak Masuk Akal
Bangun Integrasi Hukum...
Bangun Integrasi Hukum dan Seni Lewat Pustaka Nada
Berita Terkini
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
AS Serang Iran 2 Hari...
AS Serang Iran 2 Hari Beruntun, Trump Umbar Ancaman Mengerikan
Finlandia Izinkan Wilayahnya...
Finlandia Izinkan Wilayahnya Jadi Lokasi Pengerahan Senjata Nuklir NATO, Rusia Terancam
Eks Menteri Zionis:...
Eks Menteri Zionis: Trump Permalukan Netanyahu dan Israel dengan Penghinaan yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
3 Alasan Denmark Larang...
3 Alasan Denmark Larang Mengumandangkan Azan, Tidak Ingin Seperti Islamabad
6 Fakta NATO Jelang...
6 Fakta NATO Jelang KTT Ankara, Memiliki 3,3 Juta Prajurit dan Anggaran Militer Terbesar di Dunia
Infografis
True Promise 4 Mengamuk!...
True Promise 4 Mengamuk! Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved