Para Politisi Demokrat AS Berlutut Hening Cipta untuk George Floyd
Selasa, 09 Juni 2020 - 10:00 WIB
loading...
Para anggota parlemen dari Partai Demokrat termasuk Ketua DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi berlutut hening cipta 8 menit 46 detik di gedung Capitol untuk mengenang George Floyd. Foto/ABC News Live
A
A
A
WASHINGTON - Sekitar dua lusin anggota parlemen dari Partai Demokrat, termasuk Ketua DPR Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi, berlutut dan hening cipta 8 menit lebih 46 detik. Aksi itu untuk mengenang pria kulit hitam George Floyd yang dibunuh polisi kulit putih di Minneapolis.
Dalam aksi hening cipta Capitol's Emancipation Hall, Senin waktu Washington, para politisi tersebut mengenakan stola yang terbuat dari kain Kente. Aksi mereka memicu kritik dari pengamat bahwa tekstil tradisional Afrika dijadikan alat peraga politik.
"Nenek moyang saya tidak menemukan kain Kente untuk dikenakan oleh politisi publisitas (terobsesi) sebagai 'aktivisme' pada tahun 2020," kritik Jade Bentil, seorang peneliti Ghana-Nigeria di University of Oxford via Twitter.
Kain Kente diyakini telah diproduksi sejak 1.000 Sebelum Masehi (SM) di kalangan orang-orang Akan dan Ewe dari Afrika Barat. Menurut The African American Intellectual History Society, kain itu tetap dilestarikan di Ghana dan Togo. (Baca: Dikepung Militer, Area Gedung Putih Mirip Zona Perang )
Setiap warna dari kain itu memiliki makna khusus. Emas melambangkan status/ketenangan, hijau berarti pembaruan, biru berarti semangat kemurnian/harmoni, merah adalah gairah dan hitam adalah penyatuan denganleluhur/ kesadaran spiritual.
Pengamat lain dari dunia jurnalisme dan hiburan juga mengkritik para anggota parlemen AS yang menggunakan kain itu sebagai alat politik.
"Berdiri di depan sebuah gereja dan mengangkat sebuah Alkitab yang tidak pernah Anda baca untuk foto tidak ada bedanya dengan berlutut di kain kente yang tidak pernah Anda pakai untuk foto," kata Charles Robinson, reporter olahraga untuk Yahoo, merujuk aksi Presiden Donald Trump saat mengangkat Alkitab di Gereja Episkopal St John untuk sesi foto minggu lalu.
Dalam aksi hening cipta Capitol's Emancipation Hall, Senin waktu Washington, para politisi tersebut mengenakan stola yang terbuat dari kain Kente. Aksi mereka memicu kritik dari pengamat bahwa tekstil tradisional Afrika dijadikan alat peraga politik.
"Nenek moyang saya tidak menemukan kain Kente untuk dikenakan oleh politisi publisitas (terobsesi) sebagai 'aktivisme' pada tahun 2020," kritik Jade Bentil, seorang peneliti Ghana-Nigeria di University of Oxford via Twitter.
Kain Kente diyakini telah diproduksi sejak 1.000 Sebelum Masehi (SM) di kalangan orang-orang Akan dan Ewe dari Afrika Barat. Menurut The African American Intellectual History Society, kain itu tetap dilestarikan di Ghana dan Togo. (Baca: Dikepung Militer, Area Gedung Putih Mirip Zona Perang )
Setiap warna dari kain itu memiliki makna khusus. Emas melambangkan status/ketenangan, hijau berarti pembaruan, biru berarti semangat kemurnian/harmoni, merah adalah gairah dan hitam adalah penyatuan denganleluhur/ kesadaran spiritual.
Pengamat lain dari dunia jurnalisme dan hiburan juga mengkritik para anggota parlemen AS yang menggunakan kain itu sebagai alat politik.
"Berdiri di depan sebuah gereja dan mengangkat sebuah Alkitab yang tidak pernah Anda baca untuk foto tidak ada bedanya dengan berlutut di kain kente yang tidak pernah Anda pakai untuk foto," kata Charles Robinson, reporter olahraga untuk Yahoo, merujuk aksi Presiden Donald Trump saat mengangkat Alkitab di Gereja Episkopal St John untuk sesi foto minggu lalu.
Lihat Juga :