Warga Pedesaan Korut Dipaksa Pergi ke Pyongyang untuk Bekerja di Proyek Konstruksi

Minggu, 14 November 2021 - 16:04 WIB
loading...
Warga Pedesaan Korut...
Proyek pembangunan di Pyongyang. FOTO/Radio Free Asia
A A A
PYONGYANG - Pihak berwenang di Korea Utara (Korut) telah memerintahkan pabrik dan bisnis di wilayah pedesaan untuk mengirim pekerja ke ibu kota Pyongyang untuk mengerjakan proyek perumahan ambisius yang terlambat dari jadwal. Pyongyang, kota terbesar Korut dengan populasi sekitar 3 juta, mengalami kekurangan perumahan.

Pada Januari silam, pemimpin Korut, Kim Jong-un berjanji pada kongres Partai Buruh Korea yang berkuasa untuk membangun 50.000 rumah pada akhir 2025, termasuk 10.000 rumah pada 2021. Konstruksi dimulai segera setelah pengumuman itu, dengan penyelenggara memanfaatkan militer untuk menyediakan brigade pekerja khusus yang disebut storm troopers.

Baca: Korut Kirim Delegasi ke China untuk Cari Pasokan Pangan Darurat

Tetapi, proyek tersebut membutuhkan lebih banyak tenaga kerja untuk tetap sesuai jadwal, sehingga bisnis pedesaan terpaksa mengirim beberapa karyawan mereka ke ibukota sebelum akhir tahun. Para pekerja enggan keluar karena takut mereka akan dipaksa bekerja berjam-jam dalam suhu beku.

“Pembangunan 10.000 rumah sudah selesai. Tetapi tidak peduli seberapa keras kami mencoba meyakinkan mereka bahwa mereka hanya akan bekerja di dalam gedung, tidak ada yang mau pergi ke lokasi konstruksi Pyongyang,” kata seorang pejabat dari sebuah perusahaan di Hyesan, sebuah kota di perbatasan dengan China.

“Atasan kami telah menetapkan jumlah pekerja yang akan dimobilisasi di setiap pabrik sesuai dengan ukuran dan jumlah karyawannya. Perusahaan kami memiliki 120 karyawan, jadi kami harus mengirim tiga pekerja ke Pyongyang,” kata sumber yang tak disebutkan namanya itu, seperti dikutip dari Radio Free Asia, Sabtu (13/11/2021).

Baca: Dulu Resor Bintang 5, Hotel Terapung Pertama Ini Jadi Besi Karatan di Pelabuhan Korut

Menurutnya, pekerja yang dimobilisasi untuk pekerjaan konstruksi biasanya menghabiskan waktu berbulan-bulan di lokasi dan hanya dapat kembali ke rumah untuk melihat keluarga mereka sekali selama waktu mereka pergi. Pekerja yang dikirim ke Pyongyang, yang merupakan daerah yang dikendalikan, bahkan tidak diberikan satu kunjungan pun ke rumah, kata sumber itu.

“10.000 rumah harus diselesaikan dalam setahun. Jadi, jika Anda dimobilisasi untuk pembangunan perumahan Pyongyang, Anda harus bekerja keras siang dan malam. Jadi, siapa yang mau pergi?” kata sumber tersebut.

Sebuah pabrik di Puryong, Provinsi timur laut Hamgyong Utara mengirim dua dari 70 pekerjanya ke Pyongyang untuk proyek perumahan. “Karena tidak ada yang mau menjadi sukarelawan, setelah diskusi panjang, para karyawan memutuskan untuk mengambil undian untuk memutuskan siapa yang harus dimobilisasi terlebih dahulu,” kata sumber lainnya.

Baca: Pakar: Kim Jong-un Menyukai Serial Squid Game Korsel

“Karena proyek pembangunan perumahan Pyongyang akan berlanjut selama lima tahun ke depan, para karyawan akan dimobilisasi secara bergiliran setiap dua bulan,” lanjut sumber itu.

Pihak berwenang akan menghukum pejabat pabrik dan perusahaan yang tidak memenuhi kuota mobilisasi mereka. "Jika kami putus asa, kami menyamarkan seorang tunawisma sebagai pekerja pabrik dan mengirimnya ke pasukan storm trooper," tambahnya.

Di bawah pengaturan itu, tunawisma akan menerima jas hujan, pakaian kerja musim dingin, dan pakaian dalam, dan akan dibayar 30.000 Won (USD6) setiap bulan. “Banyak warga yang merasa mobilisasi seperti diseret ke suatu tempat untuk mati, karena mereka tidak akan bisa makan dengan layak di tempat yang jauh dari rumah, dan harus bekerja keras selama beberapa bulan,” lanjutnya.
(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Korea Utara Marah AS...
Korea Utara Marah AS Jual Rudal Canggih ke Korea Selatan, Menyebutnya Ekspor Perang
Respons Aksi China,...
Respons Aksi China, Jepang Perkuat Pertahanan Sisi Barat Daya
Menjaga Persahabatan...
Menjaga Persahabatan atau Menebar Pengaruh, 6 Alasan Xi Jinping Berkunjung ke Korut
Hubungan China dan Korut...
Hubungan China dan Korut Masuki Tahap Awal yang Baru
AS Serukan Korut Denuklirisasi,...
AS Serukan Korut Denuklirisasi, Adik Kim Jong-un: Mimpi Usang!
Krisis LNG Timur Tengah,...
Krisis LNG Timur Tengah, Permintaan Batu Bara di Asia Melonjak
AS dan Iran Setujui...
AS dan Iran Setujui Kesepakatan untuk Akhiri Perang di Timur Tengah, Ini Isinya
Menteri Radikal Israel...
Menteri Radikal Israel Ben Gvir Batal ke AS, Dipersulit Dapat Visa?
Rekomendasi
Eksekusi Hotel Sultan,...
Eksekusi Hotel Sultan, Wamensesneg: Kita Harus Tarik Aset yang Dikuasai Pihak Lain
Biaya Pernikahan Jennifer...
Biaya Pernikahan Jennifer Coppen dan Justin Hubner Tembus Rp6 Miliar
Eksekusi Hotel Sultan...
Eksekusi Hotel Sultan Ricuh, Simpatisan Lempari Polisi dan TNI dengan Batu
Berita Terkini
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Ada yang Hanya Rp427 Per Liter
Arab Saudi Kebut Pembangunan...
Arab Saudi Kebut Pembangunan Jeddah Tower 1.000 Meter, Gedung Tertinggi di Dunia Kalahkan Burj Khalifa
Trump: AS Harus Kembalikan...
Trump: AS Harus Kembalikan Uang Iran atau Kepercayaan Dunia pada Dolar Rusak
Analis Israel: Netanyahu...
Analis Israel: Netanyahu Pembohong yang Dipermalukan Trump dalam Kesepakatan AS-Iran
AS Identifikasi 8 Awak...
AS Identifikasi 8 Awak Tewas dalam Jatuhnya Bomber Nuklir B-52, Ini Daftarnya
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Infografis
3 Proyek Kereta Cepat...
3 Proyek Kereta Cepat Termahal di Dunia, Whoosh Tak Masuk Hitungan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved