Terima Telepon Evakuasi, 4 Perempuan Afghanistan Tewas Dibunuh

Sabtu, 06 November 2021 - 23:07 WIB
loading...
Terima Telepon Evakuasi,...
Empat perempuan Afghanistan tewas dibunuh setelah menerima telepon untuk evakuasi. Foto/Ilustrasi
A A A
KABUL - Juru bicara pemerintah Taliban mengatakan empat perempuan tewas di kota utara Mazar-i-Sharif. Sumber-sumber lokal mengidentifikasi setidaknya satu korban sebagai aktivis hak asasi manusia (HAM) .

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan Qari Sayed Khosti dua tersangka telah ditangkap setelah empat mayat ditemukan di sebuah rumah di kota itu.

“Orang-orang yang ditangkap telah mengakui dalam interogasi awal bahwa para perempuan diundang ke rumah oleh mereka. Penyelidikan lebih lanjut sedang berlangsung dan kasusnya telah dirujuk ke pengadilan,” katanya seperti dikutip dari France24, Sabtu (6/11/2021).

Khosti tidak mengidentifikasi para korban, tetapi sumber-sumber di Mazar-i-Sharif mengatakan kepada AFP bahwa salah satu korban yang tewas adalah seorang aktivis hak-hak perempuan dan dosen universitas, Frozan Safi.

Tiga sumber di Mazar-i-Sharif mengatakan kepada AFP bahwa mereka telah mendengar para perempuan itu menerima telepon yang mereka pikir adalah undangan untuk bergabung dengan penerbangan evakuasi dan dijemput dengan mobil, namun kemudian ditemukan tewas.

Baca juga: AS Dikecam, Rudalnya Bunuh 10 Orang Tak Bersalah di Kabul tapi Kebal Hukum

"Saya kenal salah satu dari wanita itu, Frozan Safi," kata seorang karyawan perempuan dari sebuah organisasi internasional kepada AFP, tanpa menyebut nama.

“Dia juga seorang aktivis perempuan, sangat terkenal di kota ini,” imbuhnya.

Sumber itu mengatakan bahwa tiga minggu lalu dia sendiri menerima telepon dari seseorang yang berpura-pura menawarkan bantuan dalam usahanya untuk mendapatkan keselamatan di luar negeri.

Baca juga: Putus Asa, Ayah di Afghanistan Jual Anak Perempuannya Rp31 Juta Buat Beli Makan

“Dia tahu semua informasi tentang saya, meminta saya untuk mengirimkan dokumen saya, ingin saya mengisi kuesioner, berpura-pura menjadi pejabat kantor saya yang bertugas memberikan info ke AS untuk evakuasi saya,” ungkapnya.

Setelah curiga dia memblokir penelepon, dan sekarang hidup dalam ketakutan. Dia terkejut ketika dia mendengar tentang pembunuhan itu.

"Saya sudah takut," katanya. “Kesehatan mental saya tidak baik saat ini. Saya selalu takut seseorang mungkin datang ke pintu saya, membawa saya ke suatu tempat dan menembak saya,” ujarnya.

Taliban, yang merebut kekuasaan di Afghanistan pada Agustus setelah perang 20 tahun melawan bekas pemerintah yang didukung Amerika Serikat (AS), adalah gerakan Islam yang sangat konservatif.

Baca juga: Serangan Dronenya Tewaskan 10 Warga Afghanistan, AS Sebut Tidak Melanggar Hukum

Di bawah periode kekuasaan terakhir mereka, perempuan dilarang dari kehidupan publik dan sejak kelompok itu kembali ke pemerintahan, banyak aktivis hak asasi manusia telah meninggalkan negara itu.

Beberapa perempuan yang masih bertahan mengadakan aksi protes jalanan di Kabul menuntut agar hak-hak mereka dihormati dan anak perempuan diizinkan bersekolah di sekolah menengah umum.

Pejuang Taliban telah membubarkan beberapa aksi protes, dan pemerintah telah mengancam akan menangkap wartawan yang meliput pertemuan tidak sah.

Tetapi para pemimpin gerakan itu bersikeras bahwa Taliban tidak berwenang untuk membunuh para aktivis, dan telah berjanji bahwa siapa pun yang melakukannya akan dihukum.

Baca juga: Serangan Bom di Rumah Sakit Militer Kabul Tewaskan Komandan Senior Taliban
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
Hukum Baru Taliban:...
Hukum Baru Taliban: Diamnya Gadis Perawan Berarti Persetujuan untuk Menikah
Afghanistan: Pakistan...
Afghanistan: Pakistan Bombardir Rumah Sakit Kabul, 400 Orang Tewas!
Taliban Afghanistan...
Taliban Afghanistan Terbuka untuk Dialog setelah Pakistan Bom Kota-kota Besar
Dunia Serukan Penghentian...
Dunia Serukan Penghentian Segera Perang Afghanistan dan Pakistan
TAUD Serahkan Surat...
TAUD Serahkan Surat Penolakan Kehadiran Andrie Yunus di Pengadilan Militer
Pembom B-52 Stratofortress...
Pembom B-52 Stratofortress AS Jatuh di Pangkalan Gurun Mojave, Tewaskan 8 Orang
Wapres AS Blak-blakan:...
Wapres AS Blak-blakan: Trump Tak Akur dengan Netanyahu soal Perang Iran
Rekomendasi
Hadapi Masa Depan yang...
Hadapi Masa Depan yang Tak Pasti, Mahasiswa Diajarkan Kepemimpinan, Inovasi, dan Talenta Digital
Pasokan Seret Batu Bara...
Pasokan Seret Batu Bara Picu Pemadaman Listrik, Legislator Soroti Lambannya Persetujuan RKAB
Masa Depan Kesehatan,...
Masa Depan Kesehatan, Brantas Abipraya Pastikan Pembangunan Bank Genomik Nasional Berjalan Optimal
Berita Terkini
Siapa Ahmed Wishah?...
Siapa Ahmed Wishah? Jurnalis Al Jazeera yang Dibunuh Israel
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved