Iklan Sandwich Subway Sindir Batalnya Proyek Kapal Selam Prancis dan Australia
Sabtu, 18 September 2021 - 22:01 WIB
loading...
Iklan makanan cepat saji Subway menyindir proyek kapal selam Prancis dan Australia yang batal. Foto/Twitter/@AndrewBGreene
A
A
A
WASHINGTON - Jaringan makanan cepat saji Amerika Serikat (AS), Subway, meluncurkan iklan sandwich yang menyindir perselisihan Australia dan Prancis dalam proyek kapal selam yang dibatalkan.
Australia membatalkan kesepakatan proyek kapal selam senilai 90 miliar dolar Australia dengan Prancis pekan ini demi kesepakatan lain dengan Amerika Serikat (AS) dan Inggris.
Dalam iklan satu halaman penuh yang diterbitkan di surat kabar The Age pada Sabtu (18/9/2021), Subway membual bahwa mereka memiliki kapal selam "non-nuklir" yang "lebih murah USD90 miliar”.
Baca juga: Prancis Marah dan Tarik Dubesnya, Ini Reaksi AS dan Australia
Jumlah USD90 miliar adalah biaya yang membengkak dari kesepakatan kapal selam Australia dengan Prancis, sebelum Canberra mendapat kapal selam bertenaga nuklir dari AS.
Baca juga: Fakta Baru Baku Tembak di Istana Presiden, Tokoh Moderat Taliban Baradar Tersingkir
Meskipun banyak pengguna media sosial menganggap iklan itu pintar dan lucu, ada juga yang menganggapnya "menjijikkan" dan tidak sopan.
Baca juga: Arab Saudi Ungkap 10 Juta Jamaah Laksanakan Umrah Sejak Oktober 2020
"Menebak pasar @SUBWAY Prancis tidak menarik bagi mereka ...," tweet seorang pengguna, sementara yang lain bertanya, "Mau diboikot di Prancis?"
Seorang pengguna bahkan menuduh iklan "memberontak" Subway itu "menggunakan konsep kematian massal untuk menjual makanan ringan," mengingat betapa dekatnya perang dengan China, Australia, dan AS.
Prancis menarik duta besarnya dari Australia dan AS pada Jumat sebagai tanggapan atas apa yang digambarkan sebagai "perilaku yang tidak dapat diterima antara sekutu dan mitra" sebagai akibat dari kesepakatan AUKUS (Australia, Inggris, Amerika Serikat).
Presiden Prancis Emmanuel Macron dilaporkan hanya diberitahu tentang keputusan Australia untuk menarik diri dari kesepakatan kapal selam kedua negara 2016 segera sebelum berita itu menjadi konsumsi publik.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Prancis Jean-Yves Le Drian menyebut keputusan itu sebagai "tikaman dari belakang."
Dia memperingatkan, "Konsekuensi yang mempengaruhi konsepsi yang kita miliki tentang aliansi kita, kemitraan kita dan pentingnya Indo-Pasifik untuk Eropa."
Australia membenarkan penarikan dari kesepakatan dengan Prancis dengan mengklaim biayanya menjadi lebih tinggi dari yang diperkirakan semula.
Australia membatalkan kesepakatan proyek kapal selam senilai 90 miliar dolar Australia dengan Prancis pekan ini demi kesepakatan lain dengan Amerika Serikat (AS) dan Inggris.
Dalam iklan satu halaman penuh yang diterbitkan di surat kabar The Age pada Sabtu (18/9/2021), Subway membual bahwa mereka memiliki kapal selam "non-nuklir" yang "lebih murah USD90 miliar”.
Baca juga: Prancis Marah dan Tarik Dubesnya, Ini Reaksi AS dan Australia
Jumlah USD90 miliar adalah biaya yang membengkak dari kesepakatan kapal selam Australia dengan Prancis, sebelum Canberra mendapat kapal selam bertenaga nuklir dari AS.
Baca juga: Fakta Baru Baku Tembak di Istana Presiden, Tokoh Moderat Taliban Baradar Tersingkir
Meskipun banyak pengguna media sosial menganggap iklan itu pintar dan lucu, ada juga yang menganggapnya "menjijikkan" dan tidak sopan.
Baca juga: Arab Saudi Ungkap 10 Juta Jamaah Laksanakan Umrah Sejak Oktober 2020
"Menebak pasar @SUBWAY Prancis tidak menarik bagi mereka ...," tweet seorang pengguna, sementara yang lain bertanya, "Mau diboikot di Prancis?"
Seorang pengguna bahkan menuduh iklan "memberontak" Subway itu "menggunakan konsep kematian massal untuk menjual makanan ringan," mengingat betapa dekatnya perang dengan China, Australia, dan AS.
Prancis menarik duta besarnya dari Australia dan AS pada Jumat sebagai tanggapan atas apa yang digambarkan sebagai "perilaku yang tidak dapat diterima antara sekutu dan mitra" sebagai akibat dari kesepakatan AUKUS (Australia, Inggris, Amerika Serikat).
Presiden Prancis Emmanuel Macron dilaporkan hanya diberitahu tentang keputusan Australia untuk menarik diri dari kesepakatan kapal selam kedua negara 2016 segera sebelum berita itu menjadi konsumsi publik.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Prancis Jean-Yves Le Drian menyebut keputusan itu sebagai "tikaman dari belakang."
Dia memperingatkan, "Konsekuensi yang mempengaruhi konsepsi yang kita miliki tentang aliansi kita, kemitraan kita dan pentingnya Indo-Pasifik untuk Eropa."
Australia membenarkan penarikan dari kesepakatan dengan Prancis dengan mengklaim biayanya menjadi lebih tinggi dari yang diperkirakan semula.
(sya)
Lihat Juga :