Terungkap, Para Pemimpin Taliban Bentrok di Istana Kepresidenan

Rabu, 15 September 2021 - 07:58 WIB
loading...
Terungkap, Para Pemimpin...
Wakil PM Imarah Islam Afghanistan Mullah Abdul Ghani Baradar (kiri) dan Menteri Pengungsi Khalil ur-Rahman Haqqani (kanan). Foto/REUTERS
A A A
KABUL - Pertikaian besar pecah di antara para pemimpin Taliban mengenai pembentukan pemerintahan baru kelompok itu di Afghanistan.

Kabar ini terungkap berdasarkan keterangan dari sejumlah pejabat senior Taliban kepada BBC.

“Pertengkaran antara salah satu pendiri Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar dan seorang anggota kabinet terjadi di istana kepresidenan,” ungkap pernyataan pejabat senior Taliban.

Baca juga: Taliban Eksekusi Sniper Pasukan Khusus Afghanistan Sekutu Militer Inggris

Ada ketidaksepakatan yang belum dikonfirmasi dalam kepemimpinan Taliban sejak Baradar menghilang dari pandangan publik dalam beberapa hari terakhir.

Baca juga: Taliban Temukan 18 Batang Emas dan Uang Rp93 Miliar di Rumah Mantan Wapres Saleh

Meski demikian, kabar perpecahan ini telah secara resmi disangkal oleh Taliban.

Taliban menguasai Afghanistan bulan lalu, dan sejak itu menyatakan negara itu sebagai "Imarah Islam".

Kabinet sementara baru mereka seluruhnya laki-laki dan terdiri dari tokoh-tokoh senior Taliban, beberapa di antaranya terkenal karena serangan terhadap pasukan Amerika Serikat (AS) selama dua dekade terakhir.

“Baradar dan Khalil ur-Rahman Haqqani telah bertukar kata-kata keras, ketika para pengikut mereka saling berkelahi di dekatnya,” ungkap satu sumber Taliban mengatakan kepada BBC Pashto pada Rabu (15/9/2021).

Khalil ur-Rahman Haqqani adalah menteri pengungsi dan seorang tokoh terkemuka dalam jaringan militan Haqqani.

Seorang anggota senior Taliban yang berbasis di Qatar dan seseorang yang terkait dengan mereka yang terlibat juga membenarkan bahwa pertengkaran telah terjadi akhir pekan lalu.

Sumber tersebut mengatakan argumen itu pecah karena Baradar yang menjabat wakil perdana menteri (PM) yang baru, tidak senang dengan struktur pemerintahan sementara mereka.

“Pertikaian itu berasal dari perpecahan mengenai siapa di dalam Taliban yang harus mendapat pujian atas kemenangan mereka di Afghanistan,” papar sumber tersebut.

Baradar dilaporkan percaya bahwa penekanan harus ditempatkan pada diplomasi yang dilakukan oleh orang-orang seperti dia, sementara anggota kelompok Haqqani yang dijalankan salah satu tokoh Taliban paling senior dan pendukung mereka mengatakan kemenangan dicapai melalui pertempuran.

Baradar adalah pemimpin Taliban pertama yang berkomunikasi langsung dengan presiden AS saat dia melakukan percakapan telepon dengan Donald Trump pada 2020. Sebelum itu, dia menandatangani perjanjian Doha tentang penarikan pasukan AS atas nama Taliban.

Sementara itu, jaringan Haqqani yang kuat dikaitkan dengan beberapa serangan paling kejam yang terjadi di Afghanistan terhadap pasukan Afghanistan dan sekutu Barat mereka dalam beberapa tahun terakhir. Kelompok ini ditetapkan oleh AS sebagai organisasi teroris.

Pemimpinnya, Sirajuddin Haqqani, adalah menteri dalam negeri di pemerintahan baru Afghanistan.

Desas-desus tentang perpecahan telah menyebar sejak akhir pekan lalu, ketika Baradar menghilang dari pandangan publik. Ada spekulasi di media sosial bahwa dia mungkin telah meninggal.

Sumber-sumber Taliban mengatakan kepada BBC bahwa Baradar telah meninggalkan Kabul dan melakukan perjalanan ke kota Kandahar setelah pertikaian itu.

Dalam rekaman audio yang konon milik Baradar yang dirilis pada Senin, salah satu pendiri Taliban itu mengatakan dia telah "berjalan-jalan".

"Di mana pun saya berada saat ini, kami semua baik-baik saja," papar Baradar.

BBC tidak dapat memverifikasi rekaman tersebut, yang diposting di sejumlah situs resmi Taliban.

Taliban telah menyatakan tidak ada pertengkaran dan Baradar aman. Meski demikian, Taliban telah merilis pernyataan yang bertentangan tentang apa yang dia lakukan saat ini.

Seorang juru bicara mengatakan Baradar pergi ke Kandahar untuk bertemu pemimpin tertinggi Taliban, tetapi kemudian mengatakan kepada BBC Pashto bahwa dia "lelah dan ingin istirahat".

Banyak warga Afghanistan merasa mereka memiliki alasan yang baik untuk meragukan kata-kata Taliban.

Pada 2015, kelompok tersebut mengaku menutupi kematian Pendiri Taliban Mullah Omar selama lebih dari dua tahun. Selama itu pula mereka terus mengeluarkan pernyataan atas namanya.

Sumber mengatakan kepada BBC bahwa Baradar diperkirakan akan kembali ke Kabul dan mungkin muncul di depan kamera untuk menyangkal bahwa ada pertengkaran yang terjadi.

Spekulasi tetap ada atas komandan tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada, yang tidak pernah terlihat di depan umum. Dia bertanggung jawab atas urusan politik, militer dan agama.

Sementara itu, penjabat menteri luar negeri Afghanistan pada Selasa (14/9/2021) menyerukan donor internasional untuk memulai kembali bantuan.

Dia mengatakan masyarakat internasional tidak boleh mempolitisasi bantuan mereka.

Lebih dari USD1 miliar bantuan dijanjikan untuk Afghanistan pada Senin, menyusul peringatan dari PBB tentang "bencana yang menjulang".
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
Hukum Baru Taliban:...
Hukum Baru Taliban: Diamnya Gadis Perawan Berarti Persetujuan untuk Menikah
Afghanistan: Pakistan...
Afghanistan: Pakistan Bombardir Rumah Sakit Kabul, 400 Orang Tewas!
Taliban Afghanistan...
Taliban Afghanistan Terbuka untuk Dialog setelah Pakistan Bom Kota-kota Besar
Dunia Serukan Penghentian...
Dunia Serukan Penghentian Segera Perang Afghanistan dan Pakistan
Perbandingan Kekuatan...
Perbandingan Kekuatan Militer Pakistan vs Afghanistan: Bak David vs Goliath
Sengaja Targetkan Anak-Anak...
Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina, Penyelidik PBB Nyatakan Israel Lakukan Genosida di Gaza
Gempa Venezuela, Badan...
Gempa Venezuela, Badan Geologi AS Bikin Pemodelan Korban Tewas 10.000 hingga 100.000 Orang
Rekomendasi
Dataran Tinggi Tak Lagi...
Dataran Tinggi Tak Lagi Area Pinggiran, UPLAND Jadikannya Pilar Kedaulatan Pangan
Prabowo Ajak Seluruh...
Prabowo Ajak Seluruh Elemen Bangsa Perkuat Persatuan di Tengah Keberagaman demi Kemajuan Bangsa
Emas Now Tawarkan Investasi...
Emas Now Tawarkan Investasi Logam Mulia Lebih Inklusif
Berita Terkini
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Hizbullah Sergap Unit...
Hizbullah Sergap Unit Israel di Beit Yahoun, 4 Tentara Zionis Terluka
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Singapura Marah Kapalnya...
Singapura Marah Kapalnya Diserang di Selat Hormuz
Iran Sebut Pernyataan...
Iran Sebut Pernyataan Bersama AS-GCC Provokatif, Serukan Zona Bebas Senjata Nuklir Timur Tengah
Tolak Klaim AS, Iran...
Tolak Klaim AS, Iran Tegaskan Aset yang Dicairkan Tidak untuk Beli Produk Pertanian Amerika
Infografis
Mengapa Pemimpin Gereja...
Mengapa Pemimpin Gereja Katolik Pope, di Indonesia Disebut Paus?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved