Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?

Sabtu, 27 Juni 2026 - 14:25 WIB
loading...
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina berusaha rebut kesempatan pertama untuk menang, tapi kenapa selalu gagal? Foto/X
A A A
MOSKOW - Selama berabad-abad, frasa Rusia “di balik Pegunungan Ural” berarti “aman dari invasi asing”.

Selama invasi Napoleon pada tahun 1812 atau serangan Nazi Jerman pada tahun 1941, tempat mana pun di balik pegunungan yang memisahkan bagian Eropa Rusia dari Siberia tampaknya cukup jauh untuk evakuasi warga sipil dan pabrik militer.

Pada akhir April, sejumlah drone Ukraina menyerang Yekaterinburg, ibu kota administratif wilayah Ural yang terletak lebih dari 1.800 km (1.118 mil) dari perbatasan Ukraina.

Ukraina berharap drone tersebut akan menghantam pabrik tempat komponen sistem pertahanan udara diproduksi, dan sejak serangan pertama, bandara Yekaterinburg telah ditutup setidaknya lima kali. Warga Rusia panik karena persediaan makanan yang menipis, ekonomi yang merosot, dan kekurangan bensin yang parah setelah berbulan-bulan serangan Ukraina terhadap kilang minyak dan tempat penyimpanan bahan bakar.

“Harga naik, toko-toko tutup, ada antrean di SPBU, dan mereka tidak menuangkan bensin ke dalam jerigen” untuk menghindari penjualan kembali dengan harga lebih tinggi, kata Anatoly, seorang pria berusia 45 tahun yang memiliki usaha kecil di Yekaterinburg, kepada Al Jazeera. Dia menambahkan bahwa orang-orang mengharapkan bencana dan “semua orang mencoba menimbun makanan”.



Dia merahasiakan nama belakangnya karena pendiriannya yang anti-perang.

“Lingkaran pertemanan saya selalu bersikap negatif terhadap perang,” katanya, dilansir Al Jazeera. “Apa yang terjadi memang tidak menyenangkan, tetapi memang pantas terjadi.”

Serangan musim panas Rusia, yang dirancang untuk menduduki bagian wilayah Donbas tenggara yang dikuasai Kyiv dan merebut lebih banyak wilayah di Ukraina utara dan selatan, telah gagal.

Sebaliknya, Presiden Rusia Vladimir Putin ingin melanjutkan perundingan damai yang terhenti karena serangan AS-Israel terhadap Iran.

“Rusia siap untuk perundingan damai dengan Ukraina berdasarkan perjanjian Istanbul” yang dirumuskan pada tahun 2022, kata Putin pada hari Selasa.

Kyiv kemungkinan besar akan menolak sebagian besar tuntutan Rusia sebagai tidak realistis, dan para pengamat mengatakan bahwa Putin hanya ingin mengulur waktu.

“Ini adalah keinginan (Putin) untuk mengulur waktu mencari jalan keluar dari situasi sulit,” kata Nikolay Mitrokhin, seorang peneliti kelahiran Moskow dari Universitas Bremen, Jerman, kepada Al Jazeera. “Untuk pertama kalinya sejak musim gugur 2022, Ukraina memiliki kesempatan untuk memenangkan perang,” katanya, merujuk pada operasi berani yang dilakukan oleh pasukan Kyiv yang kalah jumlah untuk mengusir pasukan Rusia yang lebih besar dari Ukraina utara.

“Jumlah permintaan dari para pria yang ingin membelot sangat tinggi,” kata Ivan Chuvilyaev dari Idite Lesom, sebuah kelompok yang membantu tentara Rusia melarikan diri dari perang dan Rusia, kepada Al Jazeera. “Semakin lama serangan terhenti, semakin tinggi pula jumlah pembelot.”
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jet Tempur Siluman Su-57...
Jet Tempur Siluman Su-57 Rusia Seharga Rp2 Triliun Jatuh, Bukan akibat Ditembak Ukraina
Jenderal Tertinggi AS...
Jenderal Tertinggi AS Ungkap Jet Tempur F-16 Ukraina Tembak Jatuh Su-35 Rusia dalam Duel Langit
Iran Berhasil Serang...
Iran Berhasil Serang Situs CIA, Amerika Curiga Rusia Terlibat
Presiden Zelensky Akan...
Presiden Zelensky Akan Memiliki Pesaing Politik yang Kuat, Ini 5 Pemicunya
AS Terlibat Langsung...
AS Terlibat Langsung dalam Serangan Drone Ukraina, Rusia: Washington Munafik!
Presiden Zelensky Pecat...
Presiden Zelensky Pecat Panglima Militer Ukraina, Rusia Untung Besar!
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
WHO: Wabah Ebola Telah...
WHO: Wabah Ebola Telah Tewaskan Lebih dari 1.000 Orang di RD Kongo dan Uganda
Iran Serang Fasilitas...
Iran Serang Fasilitas CIA di Arab Saudi dan Irak, AS Curiga Rusia Terlibat
Rekomendasi
PPATK Ungkap Perputaran...
PPATK Ungkap Perputaran Dana Judi Online Turun hingga Rp286,84 Triliun di Era Prabowo
Video Baru Bongkar Insiden...
Video Baru Bongkar Insiden Final Piala Dunia 2026, Lisandro Martinez Diduga Pukul Gavi
Samin Tan Cs Segera...
Samin Tan Cs Segera Disidang Kasus Korupsi Tambang
Berita Terkini
Anggota DPR AS Sebut...
Anggota DPR AS Sebut Zohran Mamdani 'Teroris Muslim' karena Juluki Netanyahu Penjahat Perang
Trump Kenakan Tarif...
Trump Kenakan Tarif Besar-besaran pada Indonesia dan 59 Negara Lainnya, Ini Daftarnya
Masalah Kualitas dan...
Masalah Kualitas dan Krisis Internal Hambat Ambisi Ekspor Senjata China
Iran Nyatakan Pangkalan...
Iran Nyatakan Pangkalan Inggris Target Sah, Tentara London Siaga 24 Jam
Jet Tempur Siluman Su-57...
Jet Tempur Siluman Su-57 Rusia Seharga Rp2 Triliun Jatuh, Bukan akibat Ditembak Ukraina
Trump: Syarat Arab Saudi...
Trump: Syarat Arab Saudi Miliki Program Nuklir Harus Akui Negara Israel
Infografis
Hiu Goblin Superlangka...
Hiu Goblin Superlangka Berhasil Difilmkan untuk Pertama Kalinya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved