Dokumen Internal Bocor: Taliban Ancam dan Pukuli Staf PBB
Kamis, 26 Agustus 2021 - 07:47 WIB
loading...
A
A
A
Ada sekitar 3.000 staf PBB asal Afghanistan yang masih berada di negara itu. Seorang juru bicara PBB mengatakan badan dunia itu telah melakukan kontak dengan negara-negara lain untuk mendesak mereka memberikan visa atau mendukung relokasi sementara beberapa dari mereka.
Baca juga: Tajikistan Tidak akan Akui Pemerintah Esklusif Taliban di Afghanistan
Ribuan orang telah meninggalkan Afghanistan sejak Taliban memasuki Kabul pada 15 Agustus, naik penerbangan militer dan komersial dari Ibu Kota Afghanistan itu di mana bandara telah berubah menjadi tempat yang penuh kekacauan dan mematikan.
Beberapa dari mereka takut kembali berhadapan dengan penegakan hukum Islam yang ketat oleh Taliban seperti saat terakhir kali kelompok itu berkuasa, ketika mereka melarang perempuan bekerja dan anak perempuan dari sekolah.
Lainnya, termasuk mereka yang bekerja di bidang advokasi dan hak asasi manusia, percaya bahwa mereka bisa menjadi target pembalasan setelah sejumlah orang tewas dalam dugaan serangan Taliban yang ditargetkan pada tahun lalu.
Seorang wanita Afghanistan, yang telah bekerja untuk PBB selama beberapa tahun, mengatakan kepada Reuters bahwa dia merasa ditinggalkan.
"Setiap wanita yang saya kenal memiliki ketakutan yang sama seperti saya. Apa yang sekarang akan terjadi pada anak-anak kita jika kita dihukum karena pekerjaan kita? Apa yang akan terjadi pada keluarga kita? Apa yang akan mereka lakukan pada kita sebagai wanita?" katanya, berbicara dengan syarat anonim.
Baca juga: Jalin Komunikasi dengan Afghanistan dan Taliban, Jokowi dan JK Jalankan Tugas Negarawan
Dalam pesan video kepada staf di Afghanistan pada hari Selasa, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan dia tertekan oleh laporan bahwa beberapa telah mengalami pelecehan dan intimidasi.
"Kami melakukan segala daya kami, yaitu melalui keterlibatan permanen dengan semua aktor terkait, dan akan terus melakukannya untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan Anda, serta untuk menemukan solusi eksternal di mana mereka dibutuhkan," kata Guterres.
Penilaian risiko PBB pada 21 Agustus, yang dilaporkan oleh Reuters pada hari Selasa, mengatakan tidak ada komando dan kontrol yang koheren di dalam Taliban.
Baca juga: Tajikistan Tidak akan Akui Pemerintah Esklusif Taliban di Afghanistan
Ribuan orang telah meninggalkan Afghanistan sejak Taliban memasuki Kabul pada 15 Agustus, naik penerbangan militer dan komersial dari Ibu Kota Afghanistan itu di mana bandara telah berubah menjadi tempat yang penuh kekacauan dan mematikan.
Beberapa dari mereka takut kembali berhadapan dengan penegakan hukum Islam yang ketat oleh Taliban seperti saat terakhir kali kelompok itu berkuasa, ketika mereka melarang perempuan bekerja dan anak perempuan dari sekolah.
Lainnya, termasuk mereka yang bekerja di bidang advokasi dan hak asasi manusia, percaya bahwa mereka bisa menjadi target pembalasan setelah sejumlah orang tewas dalam dugaan serangan Taliban yang ditargetkan pada tahun lalu.
Seorang wanita Afghanistan, yang telah bekerja untuk PBB selama beberapa tahun, mengatakan kepada Reuters bahwa dia merasa ditinggalkan.
"Setiap wanita yang saya kenal memiliki ketakutan yang sama seperti saya. Apa yang sekarang akan terjadi pada anak-anak kita jika kita dihukum karena pekerjaan kita? Apa yang akan terjadi pada keluarga kita? Apa yang akan mereka lakukan pada kita sebagai wanita?" katanya, berbicara dengan syarat anonim.
Baca juga: Jalin Komunikasi dengan Afghanistan dan Taliban, Jokowi dan JK Jalankan Tugas Negarawan
Dalam pesan video kepada staf di Afghanistan pada hari Selasa, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan dia tertekan oleh laporan bahwa beberapa telah mengalami pelecehan dan intimidasi.
"Kami melakukan segala daya kami, yaitu melalui keterlibatan permanen dengan semua aktor terkait, dan akan terus melakukannya untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan Anda, serta untuk menemukan solusi eksternal di mana mereka dibutuhkan," kata Guterres.
Penilaian risiko PBB pada 21 Agustus, yang dilaporkan oleh Reuters pada hari Selasa, mengatakan tidak ada komando dan kontrol yang koheren di dalam Taliban.
Lihat Juga :