Tinggal di Indonesia, Juara Karate Afghanistan Gundah Nasib Rekannya di Era Taliban
Jum'at, 20 Agustus 2021 - 19:15 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Publik Marah, Warga AS Diminta Bayar Rp29 Juta untuk Dievakuasi dari Afghanistan
"Saya merasa sengsara. Saya kehilangan harapan dan orang-orang di negara saya juga kehilangan harapan mereka," ujar Meena kepada Reuters di Cisarua, kota di selatan Jakarta tempat dia mengajar karate kepada para pengungsi yang bernasib seperti dia, berharap bermukim di negara ketiga.
Ketika Taliban memerintah Afghanistan dari tahun 1996 hingga 2001, penerjemahan ketat mereka terhadap hukum Islam menyatakan perempuan tidak dapat bekerja dan anak perempuan tidak dapat bersekolah.
Menurut Taliban, perempuan harus menutupi wajah mereka dengan burqa dan ditemani kerabat laki-laki untuk keluar dari rumah mereka.
Dengan kembalinya Taliban berkuasa di Afghanistan, Meena takut akan apa artinya itu bagi kemajuan yang dibuat oleh rekan-rekan senegaranya.
“Semua prestasi dan nilai-nilai dihancurkan, dan ini akan menjadi momen kelam bagi masyarakat, terutama bagi perempuan dan anak perempuan,” ungkap perempuan berusia 28 tahun yang juga anggota minoritas Hazara.
Pekan ini, mimpi atlet taekwondo Zakia Khudadadi menjadi atlet wanita pertama Afghanistan di Paralympic Games hancur karena kekacauan di Kabul.
"Saya merasa sengsara. Saya kehilangan harapan dan orang-orang di negara saya juga kehilangan harapan mereka," ujar Meena kepada Reuters di Cisarua, kota di selatan Jakarta tempat dia mengajar karate kepada para pengungsi yang bernasib seperti dia, berharap bermukim di negara ketiga.
Ketika Taliban memerintah Afghanistan dari tahun 1996 hingga 2001, penerjemahan ketat mereka terhadap hukum Islam menyatakan perempuan tidak dapat bekerja dan anak perempuan tidak dapat bersekolah.
Menurut Taliban, perempuan harus menutupi wajah mereka dengan burqa dan ditemani kerabat laki-laki untuk keluar dari rumah mereka.
Dengan kembalinya Taliban berkuasa di Afghanistan, Meena takut akan apa artinya itu bagi kemajuan yang dibuat oleh rekan-rekan senegaranya.
“Semua prestasi dan nilai-nilai dihancurkan, dan ini akan menjadi momen kelam bagi masyarakat, terutama bagi perempuan dan anak perempuan,” ungkap perempuan berusia 28 tahun yang juga anggota minoritas Hazara.
Pekan ini, mimpi atlet taekwondo Zakia Khudadadi menjadi atlet wanita pertama Afghanistan di Paralympic Games hancur karena kekacauan di Kabul.
Lihat Juga :