Taliban Deklarasikan Negara Baru Bernama 'Imarah Islam Afghanistan'

Jum'at, 20 Agustus 2021 - 06:48 WIB
loading...
Taliban Deklarasikan...
Logo negara baru Afghanistan bernama Imarah Islam Afghanistan yang dideklarasikan Taliban pada Kamis (19/8/2021). Foto/Twitter @Zabehulah_M33
A A A
KABUL - Taliban secara resmi mendeklarasikan nama negara baru untuk Afghanistan bernama "Imarah Islam Afghanistan" atau "Islamic Emirate of Afghanistan" pada hari Kamis. Deklarasi ini bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Afghanistan.

Deklarasi tersebut untuk memperkuat kekuasaannya di negara itu beberapa hari setelah merebut ibu kota nasional Kabul dan menggulingkan pemerintah Afghanistan yang didukung Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Pengikut Taliban di Facebook Meningkat Dua Kali Lipat

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mendeklarasikan Imarah Islam Afghanistan dalam sebuah tweet dengan foto logo negara tersebut.

"Deklarasi Imarah Islam Afghanistan pada kesempatan peringatan 102 tahun kemerdekaan negara ini dari kekuasaan Inggris," tulis Mujahid yang dikutip SINDOnews.com dari akun Twitter-nya,@Zabehulah_M33, Jumat (20/8/2021).

Imarah Islam Afghanistan sebenarnya nama negara yang sama saat Afghanistan berada di bawah kekuasaan Taliban antara tahun 1996 hingga 2001, sebelum kelompok itu digulingkan oleh pasukan sekutu NATO pimpinan AS setelah serangan 11 September 2001 atau serangan 9/11 di AS.

Pada saat itu, menurut laporan Insider, hanya segelintir negara yang mengakui pemerintah, termasuk Pakistan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Turkmenistan.

Mujahid, dalam tweet terpisah, mengatakan Imarah Islam Afghanistan menginginkan hubungan diplomatik dan perdagangan yang lebih baik dengan semua negara.

Baca juga: Jerman: Kembali Berkuasanya Taliban Kemenangan Moral Islam atas Barat

Pembaruan nama negara itu terjadi setelah Taliban secara resmi menyerbu pemerintah Afghanistan akhir pekan ini, merebut Kabul setelah membuat kemajuan yang menentukan di sejumlah ibu kota provinsi utama selama seminggu terakhir.

Kelompok itu meningkatkan serangan militernya ketika AS hampir menyelesaikan misi penarikan pasukannya, yang menurut Presiden Joe Biden akan diselesaikan pada akhir bulan ini.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani diam-diam meninggalkan negara itu pada hari Minggu ketika Taliban baru saja memasuki Kabul. Ghani meninggalkan negara itu tanpa seorang pemimpin ketika kelompok Taliban mencapai puncak misinya.

Ghani, yang melarikan diri ke Uni Emirat Arab (UEA), mengatakan dia pergi untuk menghindari bentrokan dengan Taliban dan mencegah pertumpahan darah di masa depan.

Warga Afghanistan sekarang berebut untuk meninggalkan negara itu karena takut akan seperti apa pemerintahan yang dipimpin Taliban. Kelompok itu mengatakan berencana untuk memerintah secara damai, tetapi banyak yang skeptis tentang bagaimana mereka akan memperlakukan perempuan dan orang lain di masyarakat.

Militer AS sekarang bekerja untuk mengevakuasi warga Amerika dan warga Afghanistan yang membantu pasukan AS.

Seorang pejabat Gedung Putih melaporkan pada hari Kamis bahwa AS telah mengevakuasi 7.000 orang dari Afghanistan sejak 14 Agustus.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
Hukum Baru Taliban:...
Hukum Baru Taliban: Diamnya Gadis Perawan Berarti Persetujuan untuk Menikah
Afghanistan: Pakistan...
Afghanistan: Pakistan Bombardir Rumah Sakit Kabul, 400 Orang Tewas!
Taliban Afghanistan...
Taliban Afghanistan Terbuka untuk Dialog setelah Pakistan Bom Kota-kota Besar
Dunia Serukan Penghentian...
Dunia Serukan Penghentian Segera Perang Afghanistan dan Pakistan
Perbandingan Kekuatan...
Perbandingan Kekuatan Militer Pakistan vs Afghanistan: Bak David vs Goliath
Mantan Menteri Kehakiman...
Mantan Menteri Kehakiman Korsel Divonis 25 Tahun Penjara Terkait Peran dalam Darurat Militer
Nah, Menteri Israel...
Nah, Menteri Israel Ini Sebut Perdamaian AS-Iran Tak Tahan Lama
Rekomendasi
Jirayut Debut Akting...
Jirayut Debut Akting di Film Cek Kodham, Akui Sempat Tak Percaya Diri
MEKAR Kembangkan Ekosistem...
MEKAR Kembangkan Ekosistem Pembiayaan Produktif
Jalur Hormuz Mulai Stabil,...
Jalur Hormuz Mulai Stabil, Saudi Aramco Kembali Ekspor Minyak setelah Mandek 4 Bulan
Berita Terkini
Penasihat Mojtaba Khamenei:...
Penasihat Mojtaba Khamenei: Iran Akan Selalu Cepat dan Tegas Setiap Serangan AS
Rudal Ukraina Hancurkan...
Rudal Ukraina Hancurkan Pabrik Senjata Rusia
UEA Keluarkan Alarm...
UEA Keluarkan Alarm Rudal Iran, Beberapa Detik Kemudian Dicabut, Pemerintah Minta Maaf
Pesawat Tabrak Gedung...
Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi di China, 1 Jam Setelahnya Tampak Normal
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Balas Serangan AS, Iran...
Balas Serangan AS, Iran Gempur Bahrain
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved