AS Hendak Jatuhkan Sanksi yang Terkait Program Rudal dan Drone Iran

Jum'at, 30 Juli 2021 - 04:20 WIB
loading...
AS Hendak Jatuhkan Sanksi...
Rudal-rudal Iran ditembakkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam sebuah latihan tempur. Foto/REUTERS
A A A
WASHINGTON - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan berencana untuk menjatuhkan sanksi yang menargetkan program drone dan peluru kendali (rudal) Iran . Washington menggunakan dalih program senjata Teheran itu berpotensi menjadi ancaman keamanan nasional Amerika.

The Wall Street Journalpada hari Kamis melaporkan bahwa para pejabat Amerika yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan tindakan yang direncanakan bertujuan untuk mengganggu pengembangan program senjata Iran.

Baca juga: PM Israel Peringatkan Iran: Kami Lebih Pintar dan Lebih Bertekad, Jangan Uji Kami

Seorang pejabat senior AS mengatakan; "Ini adalah bagian dari pendekatan komprehensif sehingga kami berurusan dengan semua aspek ancaman Iran."

AS sebelumnya telah memberlakukan sanksi terhadap beberapa program rudal Iran, sedangkan sanksi yang akan datang secara khusus akan menargetkan kelompok yang menyediakan suku cadang yang digunakan untuk membangun drone dan rudal serta jaringan pasokan senjata lainnya.

Para pejabat Amerika mengatakan bahwa sanksi akan terpisah dari upaya berkelanjutan pemerintahan Joe Biden untuk menekan Iran agar kembali mematuhi perjanjian nuklir 2015 dan untuk terlibat dalam pembicaraan tentang negosiasi kesepakatan baru.

The Hill dalam laporannya hari Jumat (30/7/2021) mengatakan Departemen Keuangan, yang mengawasi penerapan sanksi AS, menolak berkomentar.

The Wall Street Journal melaporkan pekan lalu bahwa pemerintahan Biden mengincar sanksi baru atas penjualan minyak Iran ke China jika pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran gagal.

Menurut seorang pejabat AS, sanksi minyak potensial secara khusus akan menargetkan jaringan pengiriman yang mencakup 1 juta barel minyak per hari, sumber pendapatan yang signifikan bagi Iran.

Pembicaraan tentang komitmen ulang pada Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA)—nama resmi untuk kesepakatan nuklir 2015—sebagian besar terhenti sejak pemilihan presiden Iran yang dimenangkan ulama garis keras Ebrahim Raisi.

Baca juga: Tokoh Militer Top Australia Sebut AS Bisa Kalah Perang Lawan China

Raisi telah mengatakan bahwa dia tidak akan terlibat dalam kesepakatan nuklir baru kecuali AS terlebih dahulu menghapus sanksinya terhadap program nuklir Teheran.

Namun, AS telah berulang kali menolak untuk melakukannya sampai Iran membatalkan kembali pengayaan uraniumnya dan perkembangan lainnya yang melanggar kesepakatan nuklir 2015.

Putaran keenam diskusi JCPOA 2015 berakhir pada Juni tanpa kesepakatan baru, tak lama sebelum terpilihnya Raisi sebagai presiden baru Iran.

Presiden Iran yang akan lengser, Hassan Rouhani, mengatakan awal bulan ini bahwa sementara negaranya berkomitmen untuk merundingkan kesepakatan nuklir 2015 yang retak, Iran memiliki kemampuan untuk mencapai tingkat pengayaan uranium 90 persen yang diperlukan untuk memproduksi senjata nuklir.

Kesepakatan nuklir era Obama itu membatasi program Teheran untuk memperkaya uranium hanya hingga 3,67 persen, tetapi sejak Donald Trump "mengkhianati" perjanjian itu pada 2018, Iran menaikkan tingkat pengayaan uranium menjadi 60 persen.

Rouhani pada saat itu juga mengkritik pejabat tinggi di pemerintahannya sendiri, yang dia tuduh "tidak mengizinkan" pemulihan kesepakatan nuklir 2015.

"Mereka mengambil kesempatan untuk mencapai kesepakatan dari pemerintah ini. Kami sangat menyesal melewatkan kesempatan ini," katanya dalam rapat kabinet.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia, China dan Rusia Bersaing Ketat
5 Fakta Trump Ingin...
5 Fakta Trump Ingin Membeli Kepulauan Chagos yang Sangat Strategis
Israel Ternyata Ditolong...
Israel Ternyata Ditolong AS saat Dihujani Rudal Iran
3 Fakta Kepulauan Chagos...
3 Fakta Kepulauan Chagos yang Akan Dibeli AS, Salah Satunya Jadi Kekuatan Militer Amerika-Inggris
4 Alasan Iran Kembali...
4 Alasan Iran Kembali Gempur Israel, Ingin Tunjukkan Solidaritas ke Hizbullah
Israel Pecat Wakil Bos...
Israel Pecat Wakil Bos Mossad setelah Gagal Operasi Runtuhkan Rezim Iran
Dari Iran ke Indonesia,...
Dari Iran ke Indonesia, Pesepeda Arezoo Tampil Memukau Lewat Sentuhan Ade Fitri Kirana
Diduga Drone Laut Ukraina...
Diduga Drone Laut Ukraina Meledak di Pelabuhan Rumania
Iran-Israel Perang Lagi,...
Iran-Israel Perang Lagi, Arab Saudi Aktifkan Peringatan Serangan Udara
Rekomendasi
Ada FIFA Matchday Indonesia...
Ada FIFA Matchday Indonesia Vs Mozambik, Masyarakat Diimbau Hindari Kawasan GBK
Harga Emas Hari Ini...
Harga Emas Hari Ini Turun Lagi Rp10 Ribu per Gram, Saatnya Beli Bunda?
ARMY Siap War Tiket...
ARMY Siap War Tiket Konser BTS ARIRANG in Jakarta Hari Ini, Harga Termurah Rp1,8 Juta
Berita Terkini
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia, China dan Rusia Bersaing Ketat
5 Fakta Trump Ingin...
5 Fakta Trump Ingin Membeli Kepulauan Chagos yang Sangat Strategis
Israel Ternyata Ditolong...
Israel Ternyata Ditolong AS saat Dihujani Rudal Iran
3 Fakta Kepulauan Chagos...
3 Fakta Kepulauan Chagos yang Akan Dibeli AS, Salah Satunya Jadi Kekuatan Militer Amerika-Inggris
Lebanon Jadi Titik Krisis...
Lebanon Jadi Titik Krisis bagi Gencatan Senjata Perang Iran, Ini 4 Alasannya
Proyek Jet Tempur FCAS...
Proyek Jet Tempur FCAS Prancis-Jerman Gagal, Pukulan Telak bagi Macron
Infografis
Pete Hegseth, Menteri...
Pete Hegseth, Menteri Perang AS yang Dikenal Rasis, Radikal, dan Pemabuk
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved