Bencana Banjir Jerman: 92 Tewas, 1.300 Hilang

Jum'at, 16 Juli 2021 - 14:55 WIB
loading...
Bencana Banjir Jerman:...
Sedikitnya 92 orang tewas dan 1.300 belum ditemukan setelah hujan apokaliptik melanda Jerman, Belanda dan Belgia memicu banjir yang mematikan. Foto/The Sun
A A A
BERLIN - Sedikitnya 92 orang tewas dan 1.300 belum ditemukan setelah hujan apokaliptik melanda Jerman , Belanda dan Belgia memicu banjir yang mematikan.

Korban tewas akibat banjir yang menghancurkan di beberapa bagian Jerman barat dan Belgia naik di atas 90 hari ini, saat pencarian berlanjut untuk ratusan orang yang masih belum ditemukan.

"Sekitar 1.300 orang hilang di distrik Ahrweiler di selatan Cologne," kata pemerintah distrik di Facebook seperti dikutip dari The Sun, Jumat (16/7/2021).

Pihak berwenang di negara bagian Rhineland-Palatinate, Jerman, mengatakan 50 orang tewas di sana termasuk sedikitnya sembilan penghuni panti jompo untuk penyandang disabilitas.

Di wilayah tetangga Rhine-Westphalia Utara, pejabat negara bagian menyebutkan jumlah korban tewas 30 orang, tetapi memperingatkan bahwa angka itu bisa meningkat lebih jauh.

Sedangkan media Belgia RTBF melaporkan sedikitnya 12 orang tewas di negara itu.

Banjir juga melanda Belgia, Luksemburg, dan Belanda, sementara beberapa wilayah di Swiss, Prancis dan Republik Ceko juga dalam status siaga tinggi.

"Ketika Anda sudah lama tidak mendengar kabar dari orang-orang...Anda harus takut akan yang terburuk," imbau Menteri Dalam Negeri regional Roger Lewentz

"Jumlah korban kemungkinan akan terus meningkat dalam beberapa hari mendatang," imbuhnya.

"Jumlah korban kemungkinan akan terus meningkat dalam beberapa hari mendatang," ucapnya lagi.

Baca juga: Banjir Bandang Terjang Jerman, 44 Orang Tewas, Dampak Kerusakan Mengerikan

Kanselir Jerman Angela Merkel menyebut cuaca buruk sebagai "bencana" jelang pertemuannya dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden di Washington.

"Hujan deras dan banjir adalah kata-kata yang sangat tidak memadai untuk menggambarkan ini - karena itu benar-benar bencana," kata Merkel pada konferensi pers.

Sementara itu mengekspresikan kekecewaannya di Twitter, Merkel mengatakan: "Saya terkejut dengan bencana yang telah mempengaruhi begitu banyak orang."

"Belasungkawa saya sampaikan kepada kerabat yang meninggal dan hilang. Saya berterima kasih kepada banyak penolong yang tak kenal lelah dan layanan darurat dari lubuk hati saya," sambungnya.

Pemimpin Rhine Westphalia Utara Armin Laschet, yang mencalonkan diri untuk menggantikan Merkel dalam pemilihan September mendatang, membatalkan pertemuan partai di Bavaria untuk mensurvei kerusakan di negara bagiannya, yang merupakan salah satu negara bagian terpadat di Jerman.

"Kami akan mendukung kota-kota dan orang-orang yang terkena dampak," kata Laschet, yang mengenakan sepatu bot karet, kepada wartawan di kota Hagen.

Badai dahsyat menumpahkan 148 liter hujan per meter persegi dalam 48 jam, yang biasanya mencapai 80 liter sepanjang Juli.

Penduduk telah diperintahkan untuk mengungsi karena sungai yang meluap diperkirakan akan naik lebih tinggi malam ini karena cuaca yang lebih ekstrem sedang dalam perjalanan - dengan perkiraan hujan lebat lebih lanjut akan melanda wilayah yang terendam banjir.

Ahli meteorologi DWD Jerman memperkirakan "badai ekstrem" lebih lanjut di bagian barat dan tengah Jerman, dengan curah hujan puncak mungkin mencapai 200 liter per meter persegi.

Layanan Cuaca Jerman mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem untuk tiga negara bagian minggu ini dan mengatakan hujan selama 24 jam terakhir "belum pernah terjadi sebelumnya".

Baca juga: Tiga Orang Tewas dalam Serangan Pisau di Jerman

Hujan lebat diperkirakan di seluruh wilayah pada hari Jumat, meningkatkan kekhawatiran lebih banyak kematian dapat dicatat.

Pihak berwenang telah memperingatkan akan lebih banyak banjir di hilir setelah bendungan di dekat Heimbach, Jerman meluap tadi malam.

Polisi telah meminta orang-orang untuk membagikan rekaman dan gambar banjir guna membantu mereka menemukan orang yang hilang ketika ratusan tentara dikerahkan untuk membantu pihak berwenang.

Cuaca yang belum pernah terjadi sebelumnya telah menciptakan situasi berbahaya di Eropa Barat, membuat ribuan orang terpaksa mengungsi karena rumah-rumah runtuh dan mobil-mobil tersapu oleh air banjir.

Prancis, Italia, dan Australia telah mengirim tim penyelamat banjir untuk membantu otoritas Belgia yang kewalahan, karena pemerintah wilayah Wallonia negara itu memberikan bantuan darurat €2,5 miliar.

Penduduk yang tinggal di dekat tepi sungai Meuse dan Sambre di Namur, Belgia dan mereka yang berada di kota Liege telah didesak untuk mengungsi karena air terus meningkat.

Outlet berita Belgia VRT NWS mengutip walikota Pepinster, sebuah kota kecil berpenduduk sekitar 10.000 orang di provinsi Liege, yang mengatakan lusinan rumah runtuh di sepanjang Sungai Vesdre yang mengalir melalui daerah tersebut.

Di kota Chaudfontaine, harian Le Soir melaporkan bahwa hampir 1.800 orang harus mengungsi sementara 250 orang di Moelingen terpaksa meninggalkan rumah mereka semalaman.

Perdana Menteri Belgia, Alexandre de Croo, mentweet: "Belgia menghadapi curah hujan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kami menjamin semua yang terkena dampak serta otoritas lokal dukungan penuh kami."

"Semua layanan darurat dimobilisasi dengan bantuan Kementerian Dalam Negeri dan Pertahanan. Belgia menerima dukungan internasional," ia menambahkan.

Baca juga: Keren, Jembatan Bandung Hadir di Taman Braunschweig Jerman

Sementara itu, 433 rumah tanpa listrik dan sejumlah panti jompo telah dievakuasi di provinsi Limburg, Belanda selatan, yang berbatasan dengan Jerman dan Belgia, karena hujan deras, menurut DutchNews.nl.

Sementara itu pemerintah Luksemburg membentuk sel krisis untuk menanggapi keadaan darurat yang dipicu oleh hujan lebat semalam ketika Perdana Menteri Xavier Bettel melaporkan beberapa rumah telah kebanjiran dan tidak lagi dapat dihuni.
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Proyek Jet Tempur FCAS...
Proyek Jet Tempur FCAS Prancis-Jerman Gagal, Pukulan Telak bagi Macron
Negara Anggota NATO...
Negara Anggota NATO Ini Mengalami Kemandulan Kemampuan Militer Terburuk
AS Batal Kirim Rudal...
AS Batal Kirim Rudal Tomahawk ke Jerman Diduga Khawatir dengan Pembalasan Rusia
Jerman Gagal Peroleh...
Jerman Gagal Peroleh Kursi di Dewan Keamanan PBB untuk Pertama Kali
Jerman Gagal Rebut Kursi...
Jerman Gagal Rebut Kursi DK PBB untuk Pertama Kalinya
3 Fakta Kereta Leo Express...
3 Fakta Kereta Leo Express dengan Rute Terpanjang di Eropa hingga 1.300 Km
Minimalisasi Banjir...
Minimalisasi Banjir Tangsel, FPSC Susur Sungai Ciputat
Krisis Demografi China:...
Krisis Demografi China: Pemerintah Dorong Gerakan Lansia Merawat Lansia
Ditolak AS, Omar Artan...
Ditolak AS, Omar Artan Wasit Piala Dunia asal Somalia Disambut bak Pahlawan di Negaranya
Rekomendasi
Deretan Dalil Kuat Anjuran...
Deretan Dalil Kuat Anjuran 3 Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Perbaikan Aceh Alami...
Perbaikan Aceh Alami Kemajuan Signifikan, Satgas PRR: Warga Mulai Tatap Masa Depan
Orang Kaya Diminta Lepas...
Orang Kaya Diminta Lepas Dolar, Dasco Sebut Rupiah Menguat Minggu Depan
Berita Terkini
Iran Ungkap Proyektil...
Iran Ungkap Proyektil AS Hantam Tongkang Kargo Iran di Lepas Pantai Oman
Iran Serang Pangkalan...
Iran Serang Pangkalan Yordania Markas Jet Tempur Siluman F-35, F-15, dan F-16 AS
India Protes setelah...
India Protes setelah Kapal Minyak Pembawa 24 Warganya Dihantam Rudal AS di Dekat Oman
AS Tolak Masuk Wasit...
AS Tolak Masuk Wasit Piala Dunia Omar Artan, Alasannya Terlibat Organisasi Teroris
Pertama Kalinya, Taiwan...
Pertama Kalinya, Taiwan Tembakkan Puluhan Rudal HIMARS Amerika ke Arah China
Ini Bukti Biadabnya...
Ini Bukti Biadabnya Tentara Israel Tembak Mati Bayi Palestina di Tepi Barat
Infografis
Khamenei Tewas, 4 Nama...
Khamenei Tewas, 4 Nama Masuk Bursa Calon Pemimpin Tertinggi Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved