Rusia Siap Gempur Taliban Jika Berani Menyerang Tajikistan

Sabtu, 10 Juli 2021 - 08:43 WIB
loading...
Rusia Siap Gempur Taliban...
Para tentara Tajikistan saat parade militer di Dushanbe, Tajikistan. Foto/Iskander Aminov/Sputnik
A A A
MOSKOW - Seorang jenderal top Rusia mengatakan Tajikistan dan sekutunya akan merespons serangan Taliban dari negara tetangga; Afghanistan, jika itu terjadi. Moskow juga siap membantu menggempur kelompok itu jika melakukan agresi ke negara tetangga.

Kepala Kepala Staf Gabungan Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) Jenderal Kolonel Anatoly Sidorov menjelaskan bahwa Taliban telah mendirikan pos pengamatan dan pos pemeriksaan setelah sebagian besar menyerbu daerah yang berdekatan dengan perbatasan Afghanistan-Tajikistan.

Baca juga: Marah pada Taliban yang Menang, Gadis-gadis Afghanistan Angkat Senjata

“Kami telah melihat pos-pos Taliban. Setidaknya untuk saat ini, kami tidak melihat agresi datang dari [mereka],” kata jenderal Rusia tersebut.

"Mereka tidak bersembunyi sama sekali. Tampaknya situasinya cukup damai di pihak [Afghanistan]," ujarnya kepada Russia Today, Jumat (9/7/2021).

Sidorov mengatakan dia yakin bahwa Tajikistan mampu menangkis kemungkinan serangan Taliban. “Tidak ada keraguan bahwa perbatasan Tajikistan dan personel militer akan menangani situasi ini,” katanya.

“Meskipun medan dan iklimnya sangat kasar, agak sulit untuk mengumpulkan kelompok yang dapat menimbulkan ancaman bagi integritas teritorial Tajikistan,” jelas Sidorov.

"Kita harus memproyeksikan razia kecil-kecilan oleh kelompok yang terdiri dari mungkin 20, 40, 70 orang. Tentu saja, mereka akan disambut dengan respons yang memadai dari Tajikistan."

Jenderal itu menambahkan bahwa pasukan Rusia yang ditempatkan di Tajikistan dan pasukan respons cepat CSTO siap membantu Dushanbe jika diperlukan.

“Kami harus menjaga agar bubuk kami tetap kering,” katanya, seraya menambahkan bahwa selama latihan reguler, negara-negara anggota CSTO telah berlatih mengerahkan pasukan tambahan di sepanjang perbatasan Afghanistan.

Sebuah blok pertahanan dan keamanan yang didirikan pada tahun 1992, CSTO terdiri dari Rusia, Belarusia, Armenia, Kazakhstan, Kirgistan, dan Tajikistan. Blok ini seperti halnya NATO yang dipimpin Amerika Serikat (AS).

Utusan Tajik untuk CSTO, Khasan Sultonov, mengatakan pada hari Rabu bahwa sekitar 1.500 tentara pemerintah Afghanistan melintasi perbatasan Tajikistan saat melarikan diri dari serangan Taliban selama dua minggu terakhir. Sultonov meminta CSTO untuk membantu negaranya mengamankan perbatasan.

Presiden Tajikistan Emomali Rahmon sebelumnya memerintahkan mobilisasi 20.000 tentara cadangan.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan delegasi dari sayap politik Taliban bertemu dengan pejabat Rusia di Moskow pada hari Kamis lalu. Negosiator Taliban Mohammad Suhail Shaheen mengatakan kepada kantor berita TASS bahwa gerilyawan kelompok itu tidak akan menyerang Tajikistan.

Shaheen menulis di media sosial bahwa Taliban tidak akan mengizinkan siapa pun menggunakan tanah Afghanistan untuk melawan negara lain, juga tidak akan menoleransi intervensi orang lain.

Baca juga: Pasangan Ini Bulan Madu di Kota Nudis Terbesar di Dunia, Belanja dan Makan Pun Telanjang

Taliban telah merebut banyak wilayah dari pasukan pemerintah di Afghanistan dalam beberapa pekan terakhir di tengah penarikan penuh pasukan AS dan sekutu NATO-nya.

Presiden AS Joe Biden awalnya mengatakan bahwa pasukan Amerika akan meninggalkan negara itu pada 11 September, tetapi pada hari Kamis dia mengumumkan bahwa misi militer AS akan berakhir sebelum 31 Agustus.

“Kami tidak pergi ke Afghanistan untuk membangun bangsa,” kata Biden, seraya menambahkan bahwa terserah rakyat Afghanistan untuk menentukan masa depan negara itu.

AS telah memimpin pasukan Barat memerangi Taliban dan gerilyawan lainnya di Afghanistan sejak 2001, menyusul invasi yang memulai apa yang disebut "perang melawan teror".
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Finlandia Izinkan Wilayahnya...
Finlandia Izinkan Wilayahnya Jadi Lokasi Pengerahan Senjata Nuklir NATO, Rusia Terancam
Rudal Ukraina Hancurkan...
Rudal Ukraina Hancurkan Pabrik Senjata Rusia
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Korban Tewas Gempa Dahsyat...
Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Mencapai 920 Orang, Pencarian Korban Masih Berlangsung
Gempa M7,2 di Jepang:...
Gempa M7,2 di Jepang: Gedung-Gedung di Tokyo Berguncang, Korban Nihil
Rekomendasi
Presiden FIFA Dicecar...
Presiden FIFA Dicecar Jurnalis soal Kekacauan Piala Dunia 2026, Jawaban Infantino Terkesan Meremehkan
Kekeringan Landa NTB...
Kekeringan Landa NTB dan Jawa Tengah, Ribuan Warga Terdampak
Harry Kane Pecahkan...
Harry Kane Pecahkan Rekor Gary Lineker di Piala Dunia
Berita Terkini
6 Teroris Ditembak Mati...
6 Teroris Ditembak Mati usai Serang Markas Rangers Pakistan, 4 Tentara Juga Tewas
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
Update Gempa Kembar...
Update Gempa Kembar Guncang Venezuela: 1.430 Orang Tewas, 3.200 Luka, 50.000 Hilang
China Selidiki Insiden...
China Selidiki Insiden Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi, Pilot Tewas, 13 Orang Luka
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
Infografis
Iran: 2 Kapal Induk...
Iran: 2 Kapal Induk Nuklir AS Tak akan Berani Menyerang!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved