Prancis di Ambang Gelombang Keempat Pandemi Covid-19
Selasa, 06 Juli 2021 - 00:57 WIB
loading...
Menteri Kesehatan Prancis, Olivier Veran mengatakan, Prancis menghadapi risiko gelombang keempat Covid-19, yang disebabkan oleh penyebaran varian Delta. Foto/REUTERS
A
A
A
PARIS - Menteri Kesehatan Prancis , Olivier Veran mengatakan, Prancis menghadapi risiko gelombang keempat Covid-19 pada akhir Juli. Dia menuturkan, hal ini disebabkan oleh penyebaran varian Delta di negara tersebut.
Veran mengatakan, dalam lima hari terakhir, kasus varian Delta meningkat dan ada kemungkinan besar dapat memicu gelombang baru pandemi. Baca juga: Diduga Sembunyikan Kejahatan Kemanusiaan di Xinjiang, Prancis Selidiki 4 Retail Fashion
"Di Prancis, bahkan jika kita berada pada tingkat sirkulasi virus yang rendah, kita belum sepenuhnya menghancurkan epidemi dan itu dapat dimulai lagi dengan cukup cepat," katanya, seperti dilansir Anadolu Agency pada Selasa (6/7/2021).
Menurut data otoritas kesehatan Prancis, sekitar 30 persen kasus baru Covid-19 yang terdeteksi di negara tersebut terkait dengan varian Delta. Prancis mencatatkan 2.549 kasus baru dan sembilan kematian dalam 24 jam terakhir.
Mengutip kasus di Inggris, Veran mengatakan jumlah infeksi meningkat dengan cepat dari 2.000 per hari menjadi hampir 25 ribu per hari dalam waktu empat hingga lima minggu.
Veran mengatakan, dalam lima hari terakhir, kasus varian Delta meningkat dan ada kemungkinan besar dapat memicu gelombang baru pandemi. Baca juga: Diduga Sembunyikan Kejahatan Kemanusiaan di Xinjiang, Prancis Selidiki 4 Retail Fashion
"Di Prancis, bahkan jika kita berada pada tingkat sirkulasi virus yang rendah, kita belum sepenuhnya menghancurkan epidemi dan itu dapat dimulai lagi dengan cukup cepat," katanya, seperti dilansir Anadolu Agency pada Selasa (6/7/2021).
Menurut data otoritas kesehatan Prancis, sekitar 30 persen kasus baru Covid-19 yang terdeteksi di negara tersebut terkait dengan varian Delta. Prancis mencatatkan 2.549 kasus baru dan sembilan kematian dalam 24 jam terakhir.
Mengutip kasus di Inggris, Veran mengatakan jumlah infeksi meningkat dengan cepat dari 2.000 per hari menjadi hampir 25 ribu per hari dalam waktu empat hingga lima minggu.
Lihat Juga :