Pertarungan Diplomasi Negara Kuat Berbalut Donasi Vaksin Covid-19

Jum'at, 25 Juni 2021 - 06:03 WIB
loading...
A A A
“Kita melihat China tetap akan menghadapi kompetitor yang tangguh,” kata Huang dilansir CNBC. Biden juga menegaskan AS akan membeli 500 juta dosis vaksin Pfizer-BioNTech yang dibagikan dalam skema COVAX.

Sejak awal pandemi korona, vaksin tetap dipandang sebagai hal kritis untuk menghalaunya. Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang mengusung COVAX sebenarnya menjaminan jaminan kesetaraan vaksin bagi seluruh dunia. Meskipun, keseteraan vaksin dinilai masih jauh, karena vaksin tetap menjadi alat geopolitik.

“Diplomasi vaksin bilateral juga memiliki dampak terbatas karena vaksin tersebut bisa saja dijual atau pun didonasikan,” kata David P Fidler, peneliti Council on Foreign Relations.

Selain COVAX, diplomasi vaksi Quad yang diusung Australia, India, Jepang dan AS juga menjanjikan sedikitnya satu miliar dosis untuk kawasan Indo-Pasifik hingga akhir 2022. Itu menunjukkan pertarungan geopolitik juga berpusat di Asia. Insiatif Quad tersebut bertujuan untuk menghalau pengaruh China yang sudah membagikan vaksinnya ke negara-negara di Asia.

“Pesan yang ingin disampaikan melalui Quad adalah mengirimkan pesan untuk menyeimbangkan kekuatan kepada Beijing,” papar Fidler.

Model COVAX atau pun Quad merupakan bukti bahwa pendekatan kosmopolitan dan tanggungjawab moral menjadi hal penting dalam pengentasan pandemi korona. Dalam pandangan Alexis Papazoglou, pakar politik dari Eropa, mengatakan, seharusnya semua pihak menggunakan pendekatan kosmopolitian dan tanggungjawab moral sehingga tidak hanya terbatas pada perlintasan perbatasan.

"Nilai kehidupan seseorang tidak tergantung pada di mana mereka hidup, tetapi semua orang memiliki nilai moral yang berharga," katanya.

Terje Andreas Eikemo, Direktur Centre for Global Health Inequalities Research di Norwegian University of Science and Technology, mengungkapkan vaksin seharusnya dibagikan sebagai orang yang paling rentan terkena virus korona di mana pun mereka tinggal.

"Sungguh alamiah jika pemerintah ingin mengutamakan warganya lebih dahulu, itu terjadi ketika barang baik memang terbatas. Ketika kamu berada di masyarakat, itu akan terjadi melihat UE dan Inggris," katanya kepada CNN. Dia mengatakan, konflik perebutan vaksin untuk penduuknya memang menjadi permasalahan global, bukan masalah nasional. "Kita harus selalu bersikap inklusif," ujar Eikemo.

Tentunya perluasan geopolitik kedepannya juga dipengaruh kekuatan pasar farmasi global. Sesama aliansi juga terjadi persaingan, seperti AS yang bisa bersaing dengan negara-negara Barat lainnya seperti Jerman, Inggris, dan negara Eropa lainnya. Namun, China dan India dengan produksi masisfnya bisa mendominasi pasar ekspor di luar Barat.

Namun demikian, hal yang dikhawatirkan adalah bagaimana ketergantungan geopolitik terhadap vaksin akan menciptakan kesepakatan-kesepakatan lainnya. Negara-negara besar bisa menyediakan berbagai kesepakatan demi keamanan nasional, seperti kesepakatan penjualan senjata, pangkalan militer, hingga komitmen keamanan bersama. Model Perang Dingin bisa saja tetap terjadi. AS akan mendukung para aliansinya. Sedangkan Rusia akan mendominasi negara-negara yang menjadi satelitnya. Sedangkan China tetap akan melakukan perluasan pengaruh.
(ynt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Negara Bagian AS Gugat...
Negara Bagian AS Gugat Pfizer atas Klaim Vaksin Covid-19 yang Dianggap Menyesatkan
Vaksin Sinovac Diakui,...
Vaksin Sinovac Diakui, Warga Indonesia Bisa Masuk Australia
Rezim Kim Jong-un Tolak...
Rezim Kim Jong-un Tolak 3 Juta Vaksin Sinovac China
Pelancong Divaksin Sinopharm...
Pelancong Divaksin Sinopharm dan Sinovac Boleh Masuk Saudi dengan Syarat Ini
Warga Enggan Divaksin,...
Warga Enggan Divaksin, Filipina Beri Hadiah Sapi, Rumah dan Beras
WHO Setujui Vaksin COVID...
WHO Setujui Vaksin COVID Sinovac, Vaksin Kedua Buatan China yang Diakui
Stok Vaksin Kosong,...
Stok Vaksin Kosong, Dinkes Sulsel Hentikan Sementara Vaksinasi Anak
Skandal Kerajaan, Putra...
Skandal Kerajaan, Putra dari Putri Mahkota Norwegia Divonis Penjara atas Tuduhan Pemerkosaan
Perwira Militer Israel...
Perwira Militer Israel yang Tewas Dibom di Lebanon Ternyata Pembunuh Bocah Gaza Hind Rajab
Rekomendasi
GKSI Berdayakan Peternak...
GKSI Berdayakan Peternak dan Koperasi Susu untuk Perkuat Program MBG
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Bangun Sinergitas, Pemkot...
Bangun Sinergitas, Pemkot Bogor Bersama Pelaku Usaha Ikuti Kompetisi Padel
Berita Terkini
Ini 3 Kemewahan Jet...
Ini 3 Kemewahan Jet Mewah Qatar untuk Armada Air Force One Donald Trump
Protes Serangan Mematikan...
Protes Serangan Mematikan Israel di Lebanon, Iran Tutup Selat Hormuz
Swiss: Perundingan AS...
Swiss: Perundingan AS dan Iran Berlanjut di Burgenstock
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Israel Terus Serang...
Israel Terus Serang Lebanon, Utusan AS Kirim Negosiator ke Jenewa
3 Penyebab Batalnya...
3 Penyebab Batalnya Penandatanganan Perjanjian Damai AS dan Iran
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved