Perang Bintang! NATO Siap Respons Serangan dari Luar Angkasa

Selasa, 15 Juni 2021 - 23:07 WIB
loading...
Perang Bintang! NATO...
NATO siap merespons serangan dari luar angkasa terhadap negara anggotanya. Foto/Ilustrasi/Sindonews
A A A
BRUSSELS - Para pemimpin NATO pada hari Senin memperluas penggunaan klausul pertahanan bersama, satu untuk semua, dengan memasukkan respons kolektif terhadap serangan di luar angkasa .

Pasal 5 perjanjian pendirian NATO menyatakan bahwa serangan terhadap salah satu dari 30 negara anggotanya akan dianggap sebagai serangan terhadap mereka semua. Sampai saat ini, pasal itu hanya diterapkan pada serangan militer yang lebih tradisional di darat, laut, atau di udara, dan baru-baru ini di dunia maya.

Dalam sebuah pernyataan KTT, para pemimpin mengatakan mereka menganggap bahwa serangan ke, dari, atau di dalam ruang angkasa bisa menjadi tantangan bagi NATO yang mengancam kemakmuran, keamanan, dan stabilitas nasional dan Euro-Atlantik, dan bisa sama berbahayanya dengan serangan konvensional bagi bagi masyarakat modern.

“Serangan semacam itu dapat mengarah pada penerapan Pasal 5. Keputusan kapan serangan semacam itu akan mengarah pada penerapan Pasal 5 akan diambil oleh Dewan Atlantik Utara berdasarkan kasus per kasus,” kata para pemimpin NATO seperti dikutip dari AP, Selasa (15/6/2021).

Sekitar 2.000 satelit mengorbit di atas bumi, lebih dari setengahnya dioperasikan oleh negara-negara NATO, memastikan segalanya mulai dari ponsel dan layanan perbankan hingga prakiraan cuaca. Komandan militer mengandalkan beberapa dari mereka untuk menavigasi, berkomunikasi, berbagi data intelijen dan mendeteksi peluncuran rudal.

Pada Desember 2019, para pemimpin NATO mendeklarasikan ruang angkasa sebagai “domain kelima” operasi aliansi, setelah darat, laut, udara, dan dunia maya. Banyak negara anggota NATO khawatir dengan perilaku yang semakin agresif dari China dan Rusia di luar angkasa.

Baca juga: NATO Semakin Ketakutan Menghadapi Kebangkitan China

Sekitar 80 negara memiliki satelit, dan perusahaan swasta juga masuk. Pada 1980-an, hanya sebagian kecil dari komunikasi NATO melalui satelit. Hari ini, setidaknya 40%. Selama Perang Dingin, NATO memiliki lebih dari 20 stasiun, tetapi teknologi baru berarti organisasi keamanan terbesar di dunia itu dapat menggandakan cakupannya dengan seperlima dari jumlah itu.

Klausul pertahanan kolektif NATO hanya diaktifkan sekali, ketika para anggota berkumpul di belakang Amerika Serikat (AS) setelah serangan 11 September 2001.

Mantan Presiden Donald Trump menyuarakan keprihatinan mendalam di antara sekutu AS, terutama yang berbatasan dengan Rusia seperti Estonia, Latvia, Lithuania, dan Polandia, ketika dia menyatakan bahwa dia mungkin tidak akan mendukung mereka jika mereka tidak meningkatkan anggaran pertahanan mereka.

Presiden Joe Biden telah berusaha meyakinkan mereka sejak menjabat dan telah menggunakan KTT, yang pertama di NATO, sebagai kesempatan formal guna menggarisbawahi komitmen Amerika kepada sekutunya di Eropa dan Kanada.

Biden mengatakan bahwa Pasal 5 adalah “kewajiban suci” di antara sekutu.

"Saya hanya ingin seluruh Eropa tahu bahwa Amerika Serikat ada di sana," katanya. "Amerika Serikat ada di sana," ia menekankan.

Baca juga: Biden Sebut Bantu Pertahanan NATO Adalah 'Kewajiban Suci' AS
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Serangan Drone Ukraina...
Serangan Drone Ukraina Meningkat, Perang Hadir di Depan Rumah Warga Rusia
12,9 Juta Siswa Ikuti...
12,9 Juta Siswa Ikuti Ujian Gaokao untuk Masuk Universitas di China
140 Drone Ukraina Hajar...
140 Drone Ukraina Hajar St Petersburg, Rusia: Serangan Ini Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Putin Klaim Tak Melihat...
Putin Klaim Tak Melihat Adanya Provokasi dari Iran
Negara Anggota NATO...
Negara Anggota NATO Ini Mengalami Kemandulan Kemampuan Militer Terburuk
Putin: Serangan Rudal...
Putin: Serangan Rudal Hipersonik Oreshnik Rusia terhadap Ukraina Hanya Tes, Belum Skala Penuh
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
1 Anggota Pasukan Perdamaian...
1 Anggota Pasukan Perdamaian PBB Tewas, 2 Terluka Akibat Serangan Artileri di Lebanon
Gempa M7,8 Filipina...
Gempa M7,8 Filipina Lumpuhkan Bandara General Santos, 17 Penerbangan Dibatalkan!
Rekomendasi
Bantu Orang Tua Siswa,...
Bantu Orang Tua Siswa, Pemkot Tangsel Gratiskan Seragam Batik dan Olahraga
Bukan Sekadar Cantik,...
Bukan Sekadar Cantik, Peserta Audisi Miss Indonesia 2026 Surabaya Tunjukkan Kualitas dan Bakat
TAUD Ajukan Penghentian...
TAUD Ajukan Penghentian Sidang Kasus Andrie Yunus ke Pengadilan Militer Jakarta
Berita Terkini
Rudal Iran Guncang Israel,...
Rudal Iran Guncang Israel, Trump: Netanyahu Tak Boleh Balas Dendam
IRGC Serang 3 Pangkalan...
IRGC Serang 3 Pangkalan Militer Zionis, Israel Gempur 5 Kota Iran
AS Hendak Beli Kepulauan...
AS Hendak Beli Kepulauan Chagos, Ini Tujuannya
Iran Luncurkan Gelombang...
Iran Luncurkan Gelombang Kedua Serangan Rudal, Jenderal Tertinggi Israel Sembunyi di Bunker
Tak Hanya Iran, Houthi...
Tak Hanya Iran, Houthi Yaman Juga Tembakkan Rudal ke Israel
AS Serukan Korut Denuklirisasi,...
AS Serukan Korut Denuklirisasi, Adik Kim Jong-un: Mimpi Usang!
Infografis
4 Kombes Pol Pecah Bintang...
4 Kombes Pol Pecah Bintang usai Dapat Promosi Jabatan dari Kapolri
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved