Pasukan Roket China Lakukan Latihan dengan Rudal Balistik 'Pembunuh Kapal Induk'

Kamis, 10 Juni 2021 - 23:32 WIB
loading...
Pasukan Roket China Lakukan Latihan dengan Rudal Balistik Pembunuh Kapal Induk
Pasukan roket China lakukan latihan dengan rudal balistik pembunuh kapal induk DF-26. Foto/Popular Mechanics
A A A
BEIJING - Tentara China baru-baru ini melakukan latihan dengan rudal balistik yang dikenal sebagai "pembunuh kapal induk " yang mampu menempuh jarak hampir 2.500 mil.

Menurut South China Morning Post, China Radio International melaporkan pada Selasa malam bahwa Pasukan Roket Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) baru-baru ini mengadakan latihan roket malam hari. Laporan itu menambahkan tujuan latihan itu adalah untuk meningkatkan kemampuan Pasukan Roket untuk mentransfer senjata dan rudal dengan cepat.

Media pemerintah China, Global Times, juga melaporkan bahwa Pasukan Roket sedang berlatih dengan rudal balistik "pembunuh kapal induk" DF-26. Menurut South China Morning Post, rudal DF-26 dapat menempuh jarak hingga 2.485 mil dan dapat digunakan sebagai serangan nuklir atau sebagai serangan darat tradisional.

The Global Times melaporkan bahwa latihan itu juga mensimulasikan serangan terhadap area peluncuran roket.

Baca juga: Pentagon: China Tantangan Nomor Satu AS!

“Kami telah mengadakan latihan malam secara teratur baru-baru ini, yang biasanya berlangsung lewat tengah malam. Mereka menampilkan perubahan acak dari posisi peluncuran dan target, serangan tembakan berturut-turut dan relokasi,” kata Kolonel Jiang Feng, wakil komandan brigade kepada Radio Nasional China, seperti dilaporkan oleh Global Times yang dinukil Newsweek, Kamis (10/6/2021).

Rudal seperti "pembunuh kapal induk" DF-26 dilarang pada tahun 1987 setelah Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet saat itu menandatangani Perjanjian Kekuatan Nuklir Jangka Menengah. Menurut Asosiasi Kontrol Senjata nonpartisan, perjanjian itu melarang rudal balistik dan jelajah nuklir serta konvensional yang diluncurkan dari darat dengan jangkauan 500 hingga 5.500 kilometer.

Pada tahun 2018, Presiden AS saat itu, Donald Trump, mengumumkan bahwa ia menarik diri dari perjanjian itu, mengklaim bahwa Rusia dan China sama-sama mengembangkan senjata yang dilarang perjanjian tersebut.

"Kecuali Rusia datang kepada kami dan China datang kepada kami dan mereka semua datang kepada kami dan mereka berkata, 'Mari kita semua menjadi pintar dan jangan ada dari kita yang mengembangkan senjata itu,' tetapi jika Rusia melakukannya dan jika China melakukannya dan kita mematuhi perjanjian, itu tidak dapat diterima," kata Trump pada 2018.

Baca juga: Laporan Kongres AS Ungkap Kelemahan Signifikan Militer China
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2648 seconds (11.97#12.26)