Jalan-jalan di Hungaria Diberi Nama yang Menyinggung China, Beijing Geram

Kamis, 03 Juni 2021 - 22:49 WIB
loading...
Jalan-jalan di Hungaria...
Para aktivis kibarakan bendera Tibet di dekat Jalan Dalai Lama di sekitar kampus Universitas Fudan di Budapest, Hungaria, 2 Juni 2021. Foto/REUTERS/Bernadett Szabo
A A A
BUDAPEST - Beberapa jalan di sekitar proyek Universitas Fudan di Budapest, Hungaria , dinamai dengan nama-nama yang menyinggung masalah internal China . Pihak Beijing pun geram dan menganggap tindakan itu sebagai penghinaan.

Universitas Fudan merupakan salah satu universitas ternama China. Proyek luas untuk kampus tersebut di Budapest akan menjadi yang pertama di Eropa.

Baca juga: Viral, Jurnalis Ini Wawancarai Live Pria saat Berhubungan Seks Dengannya

Empat rambu jalan di sekitar lokasi yang direncanakan untuk pendirian kampus itu sekarang memuat nama yang merujuk pada topik-topik menyakitkan, yang menarik kritik Beijing di luar negeri karena dugaan pelanggaran hak asasi manusia.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin pada Kamis (3/6/2021) menuduh politisi Hungaria membesar-besarkan masalah terkait China dan menghambat kerjasama kedua negara.

"Perilaku seperti itu di bawah penghinaan," kata Wang pada konferensi pers reguler seperti dikutip AFP.

Nama-nama jalan tersebut adalah “Jalan Bebas Hong Kong”, “Jalan Martir Uighur”, “Jalan Dalai Lama”, dan “Jalan Uskup Xie Shiguang”. Xie adalah nama imam Katolik China yang dianiaya.

Teguran Wang pada Hungarian mengikuti seruan Presiden China Xi Jinping agar negaranya menunjukkan wajah yang lebih lembut di luar negeri dan menumbuhkan citra yang dapat diandalkan, mengagumkan, dan terhormat.

Kementerian Luar Negeri China secara rutin mengecam politisi asing karena tidak mengikuti garis Beijing atas berbagai masalah dari Taiwan hingga penyelidikan penyebab pandemi COVID-19.

Sebidang tanah yang saat ini telantar di Budapest direncanakan untuk menampung kampus Universitas Fudan di kompleks setengah juta meter persegi pada tahun 2024. Proyek ini merupakan kesepakatan yang ditandatangani antara Hungaria dan presiden universitas yang berbasis di Shanghai.

Baca juga: Batalion Sepik Siap Perang dengan Indonesia, Ini Respons Resmi PNG

Tetapi Wali Kota Budapest Gergely Karacsony mengatakan; “Kami tidak ingin Universitas Fudan yang elite dan swasta di sini dengan mengorbankan pembayar pajak Hungaria.”

Wali kota liberal itu sebelumnya mengecam apa yang dia sebut "pembelian pengaruh China" di Hongaria dan mendesak Perdana Menteri Viktor Orban untuk menghormati janji sebelumnya untuk tidak memaksakan proyek di ibu kota.

Jajak pendapat menunjukkan mayoritas penduduk Budapest menentang rencana proyek pendirian kampus tersebut.

Pemerintah berargumen bahwa pos terdepan Universitas Fudan yang bergengsi, peringkat ke-100 di Peringkat Shanghai, akan memungkinkan ribuan pelajar Hungaria, China, dan internasional lainnya untuk memperoleh diploma berkualitas tinggi.

Sementara itu, Beijing ingin mempertahankan "kehadiran"-nya di Hungaria.

Wang mengatakan hubungan antara kedua negara menikmati perkembangan momentum yang kuat dan menghasilkan hasil yang bermanfaat.

Dorongan kekuatan lunak China ke luar negeri melalui media dan pendidikan telah mendapat kecaman dalam beberapa tahun terakhir, di mana kritik di Barat memperingatkan infiltrasi Komunis dan menunjuk pada pelanggaran hak asasi manusia Beijing.

Institut Konfusius—organisasi yang didanai oleh China yang menawarkan kelas bahasa dan budaya China—menjadi sasaran pemerintahan mantan presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Trump menyebut institut itu sebagai entitas yang memajukan propaganda global Beijing dan kampanye pengaruh yang memfitnah di kampus-kampus AS.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Standar Keselamatan...
Standar Keselamatan Kendaraan Listrik Baru China Lebih Ketat!
Australia Beri Peringatan:...
Australia Beri Peringatan: El Nino Kali Ini Akan Jadi yang Terkuat dalam Tujuh Dekade
Momen PM Inggris Keir...
Momen PM Inggris Keir Starmer Tak Kuasa Menahan Tangis saat Umumkan Mundur
Rekomendasi
Gunakan MT Gamkonora,...
Gunakan MT Gamkonora, Pertamina Patra Niaga Tambah 450 Ribu Barel Minyak
MLSC All-Stars 2026:...
MLSC All-Stars 2026: 12 Tim Terbaik Siap Berebut Gelar Juara di Kudus
Wujudkan Liburan Impian...
Wujudkan Liburan Impian Tanpa Beban dengan Cashback Rp350.000
Berita Terkini
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved