Cara Kreatif Demonstran Chili Lanjutkan Aksi di Saat Pandemi
Senin, 20 April 2020 - 02:22 WIB
loading...
Ilustrasi
A
A
A
SANTIAGO - Penguncian wilayah yang dilakukan pemerintah Chili untuk mengekang penyebaran Covid-19 tidak menghentikan para demonstran melanjutkan aksi mereka. Tapi, para demonstran tidak turun ke jalan untuk melakukan protes, melainkan mereka mengambil cara-cara yang lebih kreatif untuk menyampaikan pesan mereka.
Hanya beberapa bulan yang lalu, puluhan ribu pemrotes berbaris memenuhi jalanan kota Santionao, karena ketidaksetaraan dan meningkatnya biaya hidup di Chili. Sekarang, jalan sepi karena lingkungan telah ditempatkan di bawah karantina ketat untuk membendung penyebaran Covid-19.
Sementara tembok-tembok yang dengan grafiti tampaknya merupakan satu-satunya jejak demonstrasi massa yang telah mencengkeram negara itu selama lebih dari lima bulan. Para pengunjuk rasa mengatakan, mereka belum dibungkam, dan gerakan itu akan berlanjut dari rumah mereka.
"Kami tidak meninggalkan rumah kami karena kami bertanggung jawab. Tapi, ketidakpuasan itu tetap ada," kata Paloma Rodriguez, seperti dilansir Al Jazeera.
Banyak pengunjuk rasa tetap tidak percaya kepada Presiden Sebastian Pinera yang konservatif. Rakyat khawatir pemerintahannya akan terus menaruh perhatian pada ekonomi dibanding kesejahteraan warga negara, terutama ketika negara itu menanggapi Covid-19.
"Kami mengatakan kepada pemerintah, jaga orang-orang dan tinggalkan kepentingan ekonomi Anda di samping. Banyak yang merasa mustahil untuk tetap diam," ungkap Rodriguez.
Hanya beberapa bulan yang lalu, puluhan ribu pemrotes berbaris memenuhi jalanan kota Santionao, karena ketidaksetaraan dan meningkatnya biaya hidup di Chili. Sekarang, jalan sepi karena lingkungan telah ditempatkan di bawah karantina ketat untuk membendung penyebaran Covid-19.
Sementara tembok-tembok yang dengan grafiti tampaknya merupakan satu-satunya jejak demonstrasi massa yang telah mencengkeram negara itu selama lebih dari lima bulan. Para pengunjuk rasa mengatakan, mereka belum dibungkam, dan gerakan itu akan berlanjut dari rumah mereka.
"Kami tidak meninggalkan rumah kami karena kami bertanggung jawab. Tapi, ketidakpuasan itu tetap ada," kata Paloma Rodriguez, seperti dilansir Al Jazeera.
Banyak pengunjuk rasa tetap tidak percaya kepada Presiden Sebastian Pinera yang konservatif. Rakyat khawatir pemerintahannya akan terus menaruh perhatian pada ekonomi dibanding kesejahteraan warga negara, terutama ketika negara itu menanggapi Covid-19.
"Kami mengatakan kepada pemerintah, jaga orang-orang dan tinggalkan kepentingan ekonomi Anda di samping. Banyak yang merasa mustahil untuk tetap diam," ungkap Rodriguez.
Lihat Juga :