Pejabat Turki: Ankara Tak Butuh Izin AS untuk Gunakan Sistem Rudal S-400 Rusia

Sabtu, 20 Maret 2021 - 15:26 WIB
loading...
Pejabat Turki: Ankara...
Sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia. Foto/REUTERS
A A A
ANKARA - Juru bicara komite pertahanan Parlemen Turki , Murat Baybatur, mengatakan Ankara tidak memerlukan izin Amerika Serikat (AS) atau siapa pun untuk menggunakan sistem pertahanan rudal S-400 Rusia yang dibelinya.

Penegasan sikap Ankara itu sebagai respons atas komentar Duta Besar AS untuk Turki David Satterfield yang mengatakan kepada BBC Turkce bahwa satu-satunya cara untuk menyelesaikan perselisihan Ankara-Washington atas S-400 adalah dengan mengabaikan penggunaan senjata pertahanan itu oleh Turki.

Baca juga: Rusia soal Perang Dingin Baru dengan AS: 'Kami Siap untuk yang Terburuk'

"Turki mengambil keputusannya sendiri dan kami tidak meminta izin baik dari Amerika maupun dari siapa pun dalam hal ini," kata Baybatur pada hari Jumat yang dilansir Sputniknews, Sabtu (20/3/2021).

Dia menunjukkan bahwa Turki telah membuat keputusan tentang S-400 sejak lama dan tidak akan mundur darinya.

"Kami menegaskan di setiap forum kesediaan kami untuk menjalin hubungan baik dengan AS, tetapi ketika subjek terkait dengan hak kami atas kedaulatan, itu adalah tugas kami untuk melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi hak kami," kata pejabat itu.

Baybatur menambahkan bahwa kontak pada baris S-400 antara kementerian pertahanan dan luar negeri kedua negara sedang berlangsung dan peta jalan akan diklarifikasi dalam beberapa hari mendatang.

Baca juga: Biden 3 Kali Jatuh di Tangga Air Force One, Miller: Musuh Melihat, Itu Memalukan!

Amerika Serikat bersikeras bahwa sistem S-400 tidak kompatibel dengan program jet tempur siluman F-35 Amerika, serta sistem NATO lainnya. Menurut Washington, Rusia diduga dapat menggunakan sistem tersebut untuk mengumpulkan informasi tentang kemampuan canggih pesawat AS.

Ankara, sebaliknya, mengatakan bahwa sistem pertahanan udara itu tidak akan membahayakan keamanan NATO karena tidak akan diintegrasikan ke dalam sistem aliansi.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga telah menyatakan bahwa pembelian pertahanan udara S-400 adalah masalah kedaulatan Ankara, dan tidak akan meminta izin Washington untuk menerima sistem S-400 baru dari Rusia.

Pada Desember 2020, pemerintahan Trump menjatuhkan sanksi terhadap Ankara di bawah Undang-Undang Melawan Musuh Amerika Melalui Sanksi (CAATSA). Sanksi tersebut menargetkan empat afiliasi Presidensi Industri Pertahanan Turki, termasuk kepalanya; Ismail Demir.

Belakangan, sekarang Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken berjanji untuk melihat dampak dari sanksi yang ada dan menentukan apakah masih ada lagi yang perlu dilakukan.

Pembelian sistem pertahanan udara Rusia oleh Ankara telah menjadi titik pertikaian dalam hubungan AS-Turki sejak Juli 2019. Washington menuntut agar Ankara menolak kesepakatan itu, mengancam akan membatalkan pengiriman pesawat tempur F-35.

Ankara sejauh ini menolak desakan Amerika, bahkan rela menghadapi sanksi pada sektor pertahanannya, yang diberlakukan AS pada bulan Desember, dan sedang merundingkan pengiriman gelombang kedua S-400 Rusia.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Donald Trump Raup Rp25...
Donald Trump Raup Rp25 Triliun dari Bisnis Kripto, Lampaui Pendapatan Properti yang Dibangun Puluhan Tahun
Gempa Venezuela: Korban...
Gempa Venezuela: Korban Tewas Bertambah Jadi 1.719 Orang, Ribuan Masih Hilang
Kalahkan Jerman di Piala...
Kalahkan Jerman di Piala Dunia, Paraguay Umumkan Hari Libur Nasional
Rekomendasi
FIFA: Cooling Break...
FIFA: Cooling Break Dihilangkan di Laga Meksiko vs Ekuador
3 Purnawirawan Polri...
3 Purnawirawan Polri Dianugerahi Pangkat Kehormatan: Sidarto Danusubroto, Taufiequrachman Ruki, dan Taufiq Effendi
Ramalan Nyeleneh Dukun...
Ramalan Nyeleneh Dukun Ghana Viral: Argentina Tersingkir, Portugal Juara Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Militer Israel Kembangkan...
Militer Israel Kembangkan Senjata Laser Antariksa untuk Serang Satelit
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Jumlah Korban Tewas...
Jumlah Korban Tewas Akibat Gempa Bumi Venezuela Meningkat Jadi 1.943 Jiwa
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
2 Negara Muslim Ini...
2 Negara Muslim Ini Saling Serang, Ini 7 Alasan Konflik Itu Tak Mudah Diselesaikan
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Infografis
Ukraina Akui Jet tempur...
Ukraina Akui Jet tempur F-16 AS Tak Bisa Tandingi Su-35 Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved