Pengungsi Myanmar di Malaysia Hadapi Meningkatnya Ketidakpastian Pasca Kudeta Miliiter

Selasa, 02 Maret 2021 - 04:30 WIB
loading...
Pengungsi Myanmar di...
Ilustrasi
A A A
KUALA LUMPUR - Bagi Kap Ling Sang, seorang pengungsi dari Myanmar yang tinggal di Malaysia , berita bahwa militer di negara asalnya telah merebut kekuasaan dalam kudeta pada 1 Februari silam, menimbulkan kekhawatiran serius. Kekhawatiran ini bukan hanya tentang anggota keluarganya sendiri yang masih tinggal di Myanmar, tapi juga masa depan dirinya.

Sejauh menyangkut anggota keluarganya, pemadaman internet di Myanmar menghalangi komunikasi. Itu artinya, pria berusia 42 tahun itu tidak dapat terus berhubungan.

Baca: Turki Kecam 'Pembantaian' Demonstran oleh Junta Myanmar

“Saya masih memiliki orang tua dan nenek saya di Myanmar. Ketika saya dapat menghubungi mereka, pertanyaan pertama saya adalah selalu, apakah mereka aman," ujarnya, seperti dilansir Channel News Asia.

“Setiap kali saya kehilangan kontak dengan keluarga saya, saya khawatir apakah mereka ditangkap atau tidak. Saya kehilangan kedamaian di hati saya," sambungnya.

Kap, istri dan anak-anaknya adalah anggota suku Chin. Mereka melarikan diri ke Malaysia dari Negara Bagian Chin di barat laut Myanmar pada tahun 2010 karena konflik antara militer, secara luas dikenal sebagai Tatmadaw dan pejuang Chin.



Meskipun Malaysia bukan pihak dalam Konvensi Pengungsi PBB 1951 dan tidak secara resmi mengakui pengungsi, Kap mengatakan, masih lebih baik tinggal di Malaysia daripada di bawah kekuasaan militer.

Ketika pertama kali mendengar tentang kudeta pada 1 Februari, Kap mengatakan dia merasa seolah-olah semua harapan telah hilang untuk orang tua dan masa depan mereka.

Baca: Singapura Sebut Menlu ASEAN akan Bertemu Bahas Situasi Myanmar

“Saya kehilangan nafsu makan selama empat hari pertama bulan itu, karena saya merasa sangat sedih, dan istri saya juga sedih,” katanya. Saat ini, dia dan pengungsi Myanmar lainnya mengikuti berita tentang kudeta militer melalui streaming langsung Facebook atau kantor berita internasional.

Situasi yang berubah-ubah, dengan upaya pihak berwenang untuk mengakhiri protes jalanan terhadap kudeta, tidak hanya meningkatkan kekhawatiran tentang anggota keluarga mereka yang masih di Myanmar - itu juga menciptakan keraguan tentang masa depan mereka sendiri.

Bagi beberapa dari mereka, satu kekhawatiran utama adalah bahwa kudeta tersebut dapat menggagalkan proses pemukiman kembali secara permanen di negara baru. Sementara itu, yang lainnya mengatakan kudeta itu telah membuat impian untuk kembali ke tanah air yang damai semakin jauh.

Baca: 18 Demonstran Ditembak Mati, Aktivis Myanmar: Saya Nyatakan Militer Teroris!

James Bawi Thang Bik dari Komunitas Chin Independen, sebuah koalisi organisasi pengungsi Chin di Malaysia, mengatakan, bahwa banyak etnis minoritas menjadi pengungsi akibat pelanggaran hak asasi manusia dan kurangnya upaya rekonsiliasi di bawah kekuasaan militer.

"Sekarang mereka (militer) kembali berkuasa. Menurut Anda, apakah para pengungsi ini akan bersedia kembali di bawah pemerintahan ini?" ujarnya.

James La Seng Tsumkha, seorang pengungsi Kachin yang tiba di Malaysia enam tahun lalu, teringat saat terbangun di pagi hari tanggal 1 Februari oleh istrinya, yang mengatakan kepadanya bahwa militer telah merebut kekuasaan.

Baca: Dipecat Junta, Dubes Myanmar di PBB Tegaskan akan Lanjutkan Perlawanan

“Awalnya saya tidak percaya karena kami sering mendengar banyak berita, yang biasanya datang dari sumber yang tidak bisa dipercaya. Tapi sekitar jam 8 pagi, setelah membaca BBC, RFA, VOA dan Facebook, barulah saya percaya itu benar. Saya merasa sepenuhnya tersesat dan putus asa, "katanya.

"Teman-teman saya di rumah mengatakan, tidak ada yang berani keluar pada 1 Februari pagi itu. Ada banyak truk tentara yang ditempatkan di mana-mana," kata Tsumkha, yang masih memiliki keluarga di negara bagian Kachin.

Kurangnya perlindungan hukum di Malaysia membuat para pengungsi rentan terhadap penangkapan oleh pihak berwenang, bersama dengan akses terbatas ke sumber daya seperti pekerjaan, perawatan kesehatan dan pendidikan.

Menurut Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), dari sekitar 178.610 pengungsi dan pencari suaka yang terdaftar di badan PBB di Malaysia, sekitar 154.030 berasal dari Myanmar.

Mereka termasuk 102.250 Rohingya dan 22.410 Chin, sementara 29.360 lainnya berasal dari kelompok etnis lain yang terkena dampak konflik atau mereka yang melarikan diri dari penganiayaan di Myanmar.
(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Viral! 3 PRT Indonesia...
Viral! 3 PRT Indonesia Dianiaya di Malaysia, 4 Majikan Ditangkap
5 Kapal Selam Tercanggih...
5 Kapal Selam Tercanggih ASEAN: Hebat Mana Invincible Singapura vs Nagapasa Indonesia?
Kunjungi Indonesia,...
Kunjungi Indonesia, Menlu Malaysia Fokus Kerja Sama Atasi Guncangan Eksternal
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN, Termasuk Kapal Malaysia yang Batal Miliki NSM
3 Alasan Norwegia Batalkan...
3 Alasan Norwegia Batalkan Penjualan Rudal rudal Anti-kapal NSM ke Malaysia
Malaysia Geram dengan...
Malaysia Geram dengan Respons Lemah Dunia atas Norwegia Batalkan Sepihak Penjualan Rudal Canggih
Frans Antoni Pengendali...
Frans Antoni Pengendali Uang Fredy Pratama Digiring ke Bareskrim usai Ditangkap di Malaysia
AS Rilis 14 Poin Perjanjian...
AS Rilis 14 Poin Perjanjian yang Disepakati dengan Iran untuk Akhiri Perang
Wapres AS Blak-blakan:...
Wapres AS Blak-blakan: Trump Tak Akur dengan Netanyahu soal Perang Iran
Rekomendasi
Kebangkitan Sepak Bola...
Kebangkitan Sepak Bola Asia: Pelajaran untuk Pembangunan Ekonomi
SPMB Jakarta 2026 untuk...
SPMB Jakarta 2026 untuk Sekolah Swasta SMP-SMA Tahap 2 Dibuka, Cek Cara Pilih Sekolah
Dipanggil Prabowo Gara-gara...
Dipanggil Prabowo Gara-gara Mati Lampu, Dirut PLN: Kami Mohon Doa
Berita Terkini
Iran Menang Banyak!...
Iran Menang Banyak! Sanksi Dicabut dan Diizinkan Ekspor Minyak
Profil Abelardo De La...
Profil Abelardo De La Espriella, Pengacara Berjam Tangan Mewah yang Jadi Presiden Baru Kolombia
Iran dan AS Sepakati...
Iran dan AS Sepakati Peta Jalan untuk Mengakhiri Perang
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
9 Kota di Mana Matahari...
9 Kota di Mana Matahari Hampir Tidak Pernah Terbenam atau Terbit saat Musim Panas
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved