Kapal China Buntuti Kapal Malaysia di Laut China Selatan

Jum'at, 17 April 2020 - 22:51 WIB
loading...
Kapal China Buntuti...
Laut China Selatan. Foto/Ilustrasi
A A A
KUALA LUMPUR - Sebuah kapal survei milik pemerintah China membuntuti kapal eksplorasi yang dioperasikan perusahaan minyak Malaysia, Petronas, di perairan yang disengketakan di Laut China Selatan. Hal itu diungkapkan oleh tiga sumber keamanan regional.

Kapal survei milik China, Haiyang Dizhi 8, memasuki perairan dekat Malaysia pada hari Kamis, menurut situs web lalu lintas pelayaran Marine Traffic.

Menurut sumber keamanan, kapal China itu berada dekat dengan kapal West Capella yang dioperasikan Petronas. Salah satu sumber mengatakan sebuah kapal Vietnam juga membuntuti West Capella.

Wilayah ini berada dekat dengan perairan yang diklaim oleh Vietnam serta Malaysia dan juga oleh China, melalui klaimnya yang luas terhadap sebagian besar Laut China Selatan dalam 'Nine Dash line' berbentuk U yang tidak diakui oleh negara tetangganya atau sebagian besar dunia.

Sebuah sumber keamanan Malaysia mengatakan pada satu titik Haiyang Dizhi 8 diapit oleh lebih dari 10 kapal China, termasuk yang milik milisi laut dan penjaga pantai. Sumber itu juga menyebutkan kapal Vietnam.

Kepala badan penegakan maritim Malaysia, Zubil Mat Som, mengkonfirmasi bahwa Haiyang Dizhi 8 berada di perairan Malaysia seperti dilaporkan harian berbahasa Melayu Harian Metro.

"Kami tidak tahu tujuannya tetapi tidak melakukan kegiatan melawan hukum," katanya, menurut laporan itu, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (17/4/2020).

Kantor perdana menteri Malaysia, kementerian pertahanan dan Petronas tidak menanggapi permintaan komentar. Pun begitu dengan Kementerian Luar Negeri China dan Vietnam.

Haiyang Dizhi 8 berjarak 324 km (200 mil) di lepas pantai Malaysia, di dalam zona ekonomi eksklusif Malaysia, data Lalu Lintas Laut menunjukkan.

Kapal itu diapit oleh kapal penjaga pantai China saat bergerak dalam pola berbentuk hash yang konsisten dengan melakukan survei, seperti yang terjadi selama ketegangan di perairan Vietnam tahun lalu.

West Capella tidak terlihat pada data pelacakan, tetapi sumber-sumber keamanan mengatakan kapal itu berada di daerah tersebut. Inisiatif Transparansi Maritim Asia (AMTI), sebuah think tank yang berbasis di Washington DC, telah mengisyaratkan kehadirannya di sana sejak Oktober.

Greg Poling, direktur AMTI, mengatakan China menggunakan taktik intimidasi seperti yang terjadi di perairan Vietnam yang kaya sumber daya, tempat perusahaan energi Spanyol Repsol telah menarik setidaknya dua proyek dalam beberapa tahun terakhir menyusul tekanan dari China.

"Beijing tidak ingin berkelahi di sini tetapi ingin mengintimidasi," katanya. "China tidak melambat sama sekali meskipun ada pandemi virus Corona," imbuhnya.

Vietnam mengajukan protes resmi dengan China bulan ini menyusul tenggelamnya kapal nelayan Vietnam yang katanya telah ditabrak oleh kapal pengawas maritim China di perairan yang disengketakan.

Pergerakan kapal survei China minggu ini datang pada saat China telah mengirimkan bantuan medis ke negara-negara Asia Tenggara termasuk Malaysia, yang telah melaporkan lebih dari 5.000 kasus infeksi virus Corona.

China mengklaim hampir semua Laut China Selatan yang kaya energi, juga merupakan rute perdagangan utama setiap tahun. Filipina, Brunei, Vietnam, Malaysia, dan Taiwan pun mengklaim hal yang sama.
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Viral! Kebun Binatang...
Viral! Kebun Binatang China Cari Pemeran Beruang Hitam, Gajinya Rp263,6 Juta
Malaysia Tuntut Kompensasi...
Malaysia Tuntut Kompensasi Rp4,6 Triliun setelah Batal Dapatkan Rudal Canggih NSM Norwegia
Kerja Sama Yunani-China...
Kerja Sama Yunani-China Diperdebatkan, Legislator Tolak Status 'Mitra Lemah'
Jepang Sangkal Militernya...
Jepang Sangkal Militernya Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk China
China Bikin Replika...
China Bikin Replika Kapal Perang AS untuk Jadi Target Tes Rudal
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
China Desak BRICS Berani...
China Desak BRICS Berani Melawan Barat: Akses Mineral Strategis Bakal Dikunci
Sebulan Ditahan di Libya,...
Sebulan Ditahan di Libya, Tiga Aktivis Pro Palestina Akhirnya Bebas
Dobrak Tradisi, Raja...
Dobrak Tradisi, Raja Charles Ungkap Bayar Tagihan Pajak Rp306 Miliar Setahun
Rekomendasi
Penampakan Razman Nasution...
Penampakan Razman Nasution Pakai Peci dan Sarung saat Dijebloskan ke Lapas Cipinang
Bangun Ketahanan Pangan,...
Bangun Ketahanan Pangan, Kakanwil Ditjenpas Jakarta Panen Telur Ayam di Lapas Salemba
Tinjau Teknologi Tanam...
Tinjau Teknologi Tanam PM-AAS, Presiden Prabowo Sebut Inovasi Pertanian Revolusioner
Berita Terkini
Viral! Kebun Binatang...
Viral! Kebun Binatang China Cari Pemeran Beruang Hitam, Gajinya Rp263,6 Juta
Sadisnya Tentara Israel,...
Sadisnya Tentara Israel, Tembak Mati Pria Palestina yang Sedang Tidur
Malaysia Tuntut Kompensasi...
Malaysia Tuntut Kompensasi Rp4,6 Triliun setelah Batal Dapatkan Rudal Canggih NSM Norwegia
Iran Tuduh NATO Terlibat...
Iran Tuduh NATO Terlibat Perang Gabungan AS-Israel Gara-gara Pengakuan Sekjen Mark Rutte
Update Gempa Kembar...
Update Gempa Kembar Venezuela: 235 Orang Tewas, 1.500 Luka, Banyak Jasad Terkubur Reruntuhan
Kerja Sama Yunani-China...
Kerja Sama Yunani-China Diperdebatkan, Legislator Tolak Status 'Mitra Lemah'
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved