Laporan Rahasia PBB: Blackwater Ingin Gulingkan Pemerintahan Libya

Rabu, 24 Februari 2021 - 07:31 WIB
loading...
Laporan Rahasia PBB:...
Pendiri Blackwater, Eric Prince. Foto/REUTERS
A A A
NEW YORK - Laporan rahasia yang disiapkan penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan pendiri perusahaan keamanan swasta Blackwater, Eric Prince, melanggar embargo senjata di Libya.

Prince juga mencoba menggulingkan pemerintah yang diakui secara internasional hingga dua kali pada 2019.

Laporan tersebut disampaikan oleh penyelidik PBB ke Dewan Keamanan PBB.

Baca juga: Negara-negara Barat Tingkatkan Tekanan pada Junta Myanmar

Laporan tersebut menyatakan, menurut Anadolu Agency, bahwa Prince menawarkan mengirim tentara bayaran kepada Jenderal Khalifa Haftar yang memberontak, saat pertemuan di ibu kota Mesir, Kairo.

Lihat infografis: Kekuatan Kendaraan Lapis Baja Arab Saudi Terbesar Kelima di Dunia

Pertemuan itu sepuluh hari setelah meluncurkan operasi militer untuk mengendalikan Tripoli pada 4 April 2019.



Laporan itu membenarkan bahwa setelah pertemuan itu, “Prince mengirim tentara bayaran asing, pesawat penyerang, dan kapal perang ke Haftar.”

Laporan tersebut mengungkapkan pasukan tentara bayaran yang dikirim Prince berencana membentuk tim untuk melacak dan membunuh para pemimpin Libya.

Menurut laporan itu, Prince adalah saudara laki-laki Betsy DeVos, mantan menteri pendidikan di era pemerintahan mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Laporan PBB tersebut menimbulkan pertanyaan tentang apakah Prince mendapat manfaat dari hubungannya dengan pemerintahan Trump untuk meluncurkan operasinya di Libya, yang biayanya diperkirakan mencapai USD80 juta.

Sebagai bagian dari operasi militer yang disebut "Proyek Opus", ada juga rencana untuk menculik dan membunuh tokoh-tokoh Libya, termasuk Komandan Abdul Rauf Kara, dan dua komandan lain yang memegang paspor Irlandia.

Laporan PBB mengungkapkan bahwa tiga perusahaan yaitu, Lancaster 6 DMCC, L-6 FZE dan Opus Capital Asset Limited FZE dipekerjakan untuk merencanakan dan mengelola fase implementasi dan pembiayaan operasi itu.

Para pakar PBB menuduh perusahaan-perusahaan ini dan para eksekutifnya, yang merupakan ahli keamanan, melanggar embargo senjata yang diberlakukan Dewan Keamanan PBB di Libya.

Helikopter militer yang dimaksudkan untuk mendukung serangan Haftar harus dibeli dari Yordania. Namun, otoritas Yordania menangguhkan kesepakatan itu pada 18 Juni 2019, ketika mereka mengetahui rencana tersebut, yang mendorong Prince untuk pergi ke Afrika Selatan.

Menurut laporan itu, upaya kedua Prince untuk menggulingkan pemerintah yang sah adalah ketika tim tentara bayaran dari Operation Project Opus dikerahkan pada April dan Mei 2020 untuk menghancurkan target utama di Libya.

“Namun, pembelian pesawat yang seharusnya ikut serta dalam pertempuran dibatalkan dengan dalih pesawat tersebut akan menjadi sasaran sistem pertahanan udara Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA),” ungkap laporan PBB.

Menurut media AS, tuduhan bahwa Prince melanggar embargo senjata yang diberlakukan Dewan Keamanan PBB di Libya membuatnya terkena kemungkinan sanksi oleh PBB, termasuk larangan perjalanan dan pembekuan rekening bank dan asetnya, meskipun ini tidak pasti.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jerman Gagal Peroleh...
Jerman Gagal Peroleh Kursi di Dewan Keamanan PBB untuk Pertama Kali
Jerman Gagal Rebut Kursi...
Jerman Gagal Rebut Kursi DK PBB untuk Pertama Kalinya
Israel dan Rusia Masuk...
Israel dan Rusia Masuk Blacklist PBB terkait Kekerasan Seksual dalam Konflik, Zionis Murka
UEA Bayar Tentara Bayaran...
UEA Bayar Tentara Bayaran Kolombia untuk Membantu Militan Sudan Bunuh Warga Sipil
Mantan Menteri Gaddafi:...
Mantan Menteri Gaddafi: Iran Tak Boleh Ulangi Kesalahan Libya dengan Mempercayai AS
Eks Menteri Muammar...
Eks Menteri Muammar Gaddafi: Iran Tak Boleh Ulangi Kesalahan Libya Percayai AS
WSIS Prizes 2026 PBB:...
WSIS Prizes 2026 PBB: Dua Program Digitalisasi Kemendikdasmen Diakui Dunia
AS Kembali Gempur Iran...
AS Kembali Gempur Iran Usai Insiden Helikopter Apache di Selat Hormuz
Iran Gempur Pangkalan...
Iran Gempur Pangkalan AS di Yordania, Klaim Hancurkan Banyak Jet Tempur 
Rekomendasi
Kejagung: Tersangka...
Kejagung: Tersangka Andri Mulyono Mark up Pengadaan Motor Listrik BGN
Amerika Serikat vs Paraguay:...
Amerika Serikat vs Paraguay: Awal Krusial di Grup D Piala Dunia 2026
Pengamat Kebijakan Publik...
Pengamat Kebijakan Publik Apresiasi Arah Baru BGN, Transparansi dan Refocusing MBG
Berita Terkini
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Infografis
Terungkap Rencana Rahasia...
Terungkap Rencana Rahasia Golden Dome, Perisai Rudal Canggih AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved