Erdogan: Turki Tak Akan Minta Izin AS untuk Menerima S-400 Baru Rusia

loading...
Erdogan: Turki Tak Akan Minta Izin AS untuk Menerima S-400 Baru Rusia
Komponen sistem pertahanan rudal S-400 Rusia tiba dengan pesawat kargo di dekat Bandara Murted, Ankara, 27 Agustus 2019. Foto/Militer Turki/Kementerian Pertahanan Turki/Handout via REUTERS
ISTANBUL - Presiden Recep Tayyip Erdogan pada Jumat (15/1/2021) mengatakan Turki tidak akan meminta izin Amerika Serikat (AS) untuk menerima sistem pertahanan rudal S-400 baru dari Rusia.

Menurutnya, Ankara berencana untuk membahas pengiriman gelombang kedua S-400 dengan Moskow pada akhir Januari.

"Tidak ada negara yang akan menentukan langkah-langkah pertahanan nasional kami, itu hanya berdasarkan keputusan kami. Masalah dengan batalion pertama S-400 ditutup, pengiriman kedua sedang dalam pembahasan. Pada akhir bulan, kami akan melakukan pembicaraan dengan Rusia dan kami, antara lain, akan membahas masalah ini," ujar Erdogan kepada wartawan di Istanbul.

Baca juga: AS Akhirnya Sanksi Turki karena Beli Sistem Rudal S-400 Rusia



Erdogan juga mengatakan bahwa setelah Joe Biden menjabat sebagai presiden baru AS, semua diskusi mengenai S-400 akan dilanjutkan dengan pemerintahan Biden.

"Saya tidak tahu apa yang akan Biden katakan tetapi bagaimanapun kami tidak akan meminta izin dari siapa pun," ujar pemimpin Turki tersebut, seperti dikutip Sputniknews.

Pada 2019, Turki menerima pengiriman pertama S-400 dari Rusia, yang berdampak keras pada hubungan Turki-AS. Washington menuntut agar Ankara menyingkirkan senjata pertahanan buatan Moskow itu dan membeli sistem rudal Patriot AS sebagai gantinya.



Baca juga: Masjid Al-Aqsa Disurvei 3 Dimensi, Diduga Ada Niat Tersembunyi Israel

Washington bahkan membatalkan pengiriman jet tempur siluman F-35 ke Ankara dan menjatuhkan sanksi sejalan dengan Undang-Undang Melawan Musuh Amerika Melalui Sanksi (CAATSA).

Washington mengklaim bahwa S-400 tidak sesuai dengan standar NATO dan menimbulkan risiko keamanan. Baik Ankara dan Moskow telah menolak tuduhan tersebut dan melanjutkan negosiasi pada batch tambahan dari sistem pertahanan udara canggih itu.
(min)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top