Supplier Apple Dilaporkan Gunakan Tenaga Kerja Paksa Uighur

Jum'at, 01 Januari 2021 - 17:51 WIB
loading...
Supplier Apple Dilaporkan...
Sebuah laporan menyebutkan supplier Apple di China menggunakan tenaga kerja paksa Uighur. Foto/Gizmodo
A A A
BEIJING - Sebuah perusahaan China yang memasok kaca gadget ke Apple , Amazon, Tesla, dan lainnya, diduga telah menggunakan tenaga kerja paksa Uighur dari provinsi Xinjiang yang mayoritas Muslim. Begitu laporan yang dirilis Tech Transparency Project (TTP).

"Perusahaan Lens Technology yang berbasis di Hunan telah menggunakan ribuan pekerja seperti itu sebagai bagian dari penahanan massal pemerintah China dan interniran terhadap warga Uighur dan sebagian besar kelompok minoritas Muslim lainnya," bunyi laporan itu yang dinukil dari Al Araby, Kamis (1/1/2021).

Mengutip catatan pemerintah dan laporan media China, penyelidikan TPP mengatakan ribuan orang dikirim dari Xinjiang ke pabrik-pabrik Lens Technology di provinsi Hunan sebagai bagian dari program "pengentasan kemiskinan" yang dipelopori oleh Kamar Dagang Xinjiang-Suzhou.



Satu video yang dikutip oleh laporan tersebut menunjukkan ratusan pekerja yang konon merayakan Hari Nasional China di luar sebuah gedung. Spanduk yang ditampilkan dalam video menunjukkan para pekerja tersebut berasal dari Xinjiang dan bekerja di Lens Technology.

Menyusul liputan media tentang laporan TTP pada hari Selasa, Apple dengan cepat membantah peran atau hubungan apa pun dengan praktik kerja paksa di China.

"Apple tidak menoleransi kerja paksa. Memeriksa adanya kerja paksa adalah bagian dari setiap penilaian pemasok yang kami lakukan, termasuk audit mendadak," kata juru bicara Apple Josh Rosenstock dalam sebuah pernyataan.(Baca juga: Turki Tak Akan Deportasi Muslim Uighur ke China )

"Awal tahun ini kami mengonfirmasi bahwa tidak ada pemasok kami yang memiliki pekerja Uighur dari 'program pemasangan' dari Xinjiang di jalur produksi Apple mana pun," imbuhnya.

Raksasa teknologi yang berbasis di California itu telah diawasi dengan cermat atas hubungannya dengan perusahaan China karena perannya yang diduga dalam melobi Rancangan Undang-Undang (RUU) Pencegahan Kerja Paksa Uighur. RUU tersebut akan memberi sanksi kepada perusahaan-perusahaan AS untuk memblokir impor dari Xinjiang kecuali ada bukti bahwa kerja paksa tidak digunakan dalam produksi.

Tidak jelas perusahaan mana yang berusaha melemahkan atau mengubah RUU tersebut, namun, koalisi hak asasi manusia internasional telah secara terbuka mendesak Apple, Nike, Walmart, Adidas, GAP, dan beberapa perusahaan lain untuk mengungkapkan aktivitas mereka.

Kelompok, yang disebut Koalisi untuk Mengakhiri Kerja Paksa di Wilayah Uighur, terdiri dari federasi serikat pekerja AS, LSM Inggris Anti-Perbudakan Internasional, Konsorsium Hak Pekerja (WRC) dan beberapa kelompok advokasi Uighur.(Baca juga: Terungkap, Alibaba Gunakan Software Pengenal Wajah Uighur )

China telah menahan sekitar satu juta etnis Uighur dan sebagian besar kelompok minoritas berbahasa Turki lainnya di kamp-kamp "pendidikan ulang" di wilayah Xinjiang yang dikontrol ketat di barat laut negara itu.

Muslim di Xinjiang dilarang berpuasa selama bulan suci Ramadan dan diduga dipaksa untuk minum alkohol serta makan daging babi - keduanya dilarang dalam Islam - di kamp-kamp interniran.

Kelompok hak asasi manusia dan mantan narapidana melihat langkah-langkah tersebut sebagai bagian dari kampanye untuk secara paksa mengasimilasi Uighur dan minoritas lainnya ke dalam masyarakat etnis mayoritas Han di negara itu, menghilangkan budaya dan kepercayaan agama mereka.

China telah menepis tuduhan pelanggaran hak asasi manusia, mengklaim bahwa mereka telah mendirikan pusat 'pendidikan ulang' untuk memerangi ekstremisme.(Baca juga: China Sebut Tuduhan Pelanggaran HAM Muslim Uighur Kebohongan Abad Ini )
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Petani dan Pelaku UMKM...
Petani dan Pelaku UMKM Sumut, Riau, hingga Aceh Kirim Hasil Kerajinan Lidi ke China
Dampak Kunjungan Trump,...
Dampak Kunjungan Trump, China Perketat Pembatasan Aktivis dan Pengawasan Domestik
Trump Segera Gunakan...
Trump Segera Gunakan Pesawat Air Force One Hadiah dari Qatar, Tiba di Lanud Andrews
Rekomendasi
Terungkap 2 Alasan di...
Terungkap 2 Alasan di Balik Pemadaman Bergilir Pulau Jawa, Dirut PLN Minta Maaf
Harga Minyak Dunia Sudah...
Harga Minyak Dunia Sudah Turun, PDIP Minta Pemerintah Evaluasi Harga Pertamax
Bidik Penguatan Basis...
Bidik Penguatan Basis Distrik, Wakil Bupati Yan Kiraklak Resmi Pimpin DPD Partai Perindo Yalimo
Berita Terkini
Israel Terus Serang...
Israel Terus Serang Lebanon, Utusan AS Kirim Negosiator ke Jenewa
3 Penyebab Batalnya...
3 Penyebab Batalnya Penandatanganan Perjanjian Damai AS dan Iran
Wapres Vance Batalkan...
Wapres Vance Batalkan Kunjungan ke Jenewa, Swiss: Perundingan AS-Iran Ditunda
Demo Anti-Pemerintah...
Demo Anti-Pemerintah Digelar selama 50 Hari, Bolivia Deklarasikan Status Darurat
Tanpa Bantuan AS, Trump:...
Tanpa Bantuan AS, Trump: Israel Akan Hancur
PM Meloni Kecam Trump...
PM Meloni Kecam Trump soal Minta Foto: Italia Tidak Pernah Mengemis
Infografis
Gen Z Kelompok Paling...
Gen Z Kelompok Paling Rentan, 52% Pekerja Alami Kelelahan Kerja Kronis
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved