Wuhan, dari Pusat Wabah Jadi Pusat Pesta
Rabu, 23 Desember 2020 - 06:45 WIB
loading...
Kegembiraan pengunjung saat menghadiri acara perayaan Halloween di sebuah taman hiburan di tengah pandemi Covid-19 di Wuhan, provinsi Hubei, China, Sabtu (31/10/2020). FOTO/REUTERS/Stringer
A
A
A
WUHAN - Malam di Kota Wuhan , China, kini begitu meriah. Lampu-lampu klub malam, bar dan restoran berpendar terang di berbagai penjuru kota. Anak-anak muda dan orang tua tampak begitu bersuka cita.
Ya, kota berpenduduk 11 juta jiwa ini telah banyak berubah. Kota di bagian tengah daratan China ini tak lagi sunyi atau bahkan mati seperti sekitar satu tahun silam. Aktivitas keramaian ini kembali pulih. Seolah wabah COVID-19 yang diduga berawal dari kota ini tak pernah terjadi. "Setelah dibuka kembali, saya belum pernah melihat begitu banyak orang. Sekarang semua orang keluar untuk makan dan bersenang-senang," kata warga yang bersuka ria saat menikmati makan sate daging dengan sekelompok teman, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (22/12/2020).
Wuhan memberlakukan lockdown selama 76 hari dari 23 Januari hingga 8 April 2020 setelah wabah pertama. Uniknya, meski disebut-sebut sebagai kota pusat awal pandemi, namun Wuhan terbukti ekstra cepat dalam pengendalian virus ini. Bahkan sejak awal Mei, Wuhan tercatat belum melaporkan kasus baru COVID-19. (Baca juga: WHO Akan Kirim Tim Investigasi ke Wuhan Lacak Asal-usul Covid-19 )
Keberhasilan ini membuat Wuhan kian membuka diri. Bahkan awal Desember ini, kota tersebut meluncurkan video promosi untuk menarik wisatawan. "Dari segudang lampu yang berkelap-kelip di sepanjang Sungai Yangtze dan tarian serta musik yang menakjubkan dari kapal pesiar Zhiyin, hingga cahaya yang berkilauan dan suara-suara indah dari livehouse...beri saya lima! Semua orang!," bunyi video promosi tersebut.
Guna menyelidiki seputar virus ini, tim dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga akan mendatangi Wuhan dalam waktu dekat. Kepala Darurat WHO Michael Ryan mengatakan, para ahli diperkirakan akan melakukan perjalanan pada pekan pertama Januari. "Akan ada pengaturan karantina, tentu saja kita harus. Seperti biasa, kami harus mematuhi apa pun pengaturan manajemen risiko dalam perjalanan saat kedatangan dan di China sendiri," katanya.
Badan kesehatan PBB itu mengirim tim pendahulu ke Beijing pada Juli untuk meletakkan dasar bagi penyelidikan internasional. Tetapi hingga minggu ini masih belum jelas kapan tim ilmuwan yang lebih besar dapat melakukan perjalanan ke China dalam rangka memulai studi epidemiologi untuk mencoba mengidentifikasi kasus manusia pertama dan sumber infeksi mereka. (Baca juga: Bukan Wuhan, China Sebut Virus Corona Pertama Kali Muncul di India )
Ada kekhawatiran tentang apakah para ahli akan diizinkan melakukan perjalanan ke Wuhan. Tetapi Ryan bersikeras bahwa sementara para ahli tentu saja akan melewati Beijing, dan tidak ada keraguan tim akan mengunjungi Wuhan. "Itulah tujuan misinya," katanya.
Ya, kota berpenduduk 11 juta jiwa ini telah banyak berubah. Kota di bagian tengah daratan China ini tak lagi sunyi atau bahkan mati seperti sekitar satu tahun silam. Aktivitas keramaian ini kembali pulih. Seolah wabah COVID-19 yang diduga berawal dari kota ini tak pernah terjadi. "Setelah dibuka kembali, saya belum pernah melihat begitu banyak orang. Sekarang semua orang keluar untuk makan dan bersenang-senang," kata warga yang bersuka ria saat menikmati makan sate daging dengan sekelompok teman, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (22/12/2020).
Wuhan memberlakukan lockdown selama 76 hari dari 23 Januari hingga 8 April 2020 setelah wabah pertama. Uniknya, meski disebut-sebut sebagai kota pusat awal pandemi, namun Wuhan terbukti ekstra cepat dalam pengendalian virus ini. Bahkan sejak awal Mei, Wuhan tercatat belum melaporkan kasus baru COVID-19. (Baca juga: WHO Akan Kirim Tim Investigasi ke Wuhan Lacak Asal-usul Covid-19 )
Keberhasilan ini membuat Wuhan kian membuka diri. Bahkan awal Desember ini, kota tersebut meluncurkan video promosi untuk menarik wisatawan. "Dari segudang lampu yang berkelap-kelip di sepanjang Sungai Yangtze dan tarian serta musik yang menakjubkan dari kapal pesiar Zhiyin, hingga cahaya yang berkilauan dan suara-suara indah dari livehouse...beri saya lima! Semua orang!," bunyi video promosi tersebut.
Guna menyelidiki seputar virus ini, tim dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga akan mendatangi Wuhan dalam waktu dekat. Kepala Darurat WHO Michael Ryan mengatakan, para ahli diperkirakan akan melakukan perjalanan pada pekan pertama Januari. "Akan ada pengaturan karantina, tentu saja kita harus. Seperti biasa, kami harus mematuhi apa pun pengaturan manajemen risiko dalam perjalanan saat kedatangan dan di China sendiri," katanya.
Badan kesehatan PBB itu mengirim tim pendahulu ke Beijing pada Juli untuk meletakkan dasar bagi penyelidikan internasional. Tetapi hingga minggu ini masih belum jelas kapan tim ilmuwan yang lebih besar dapat melakukan perjalanan ke China dalam rangka memulai studi epidemiologi untuk mencoba mengidentifikasi kasus manusia pertama dan sumber infeksi mereka. (Baca juga: Bukan Wuhan, China Sebut Virus Corona Pertama Kali Muncul di India )
Ada kekhawatiran tentang apakah para ahli akan diizinkan melakukan perjalanan ke Wuhan. Tetapi Ryan bersikeras bahwa sementara para ahli tentu saja akan melewati Beijing, dan tidak ada keraguan tim akan mengunjungi Wuhan. "Itulah tujuan misinya," katanya.
Lihat Juga :