Pemerintah Prancis Emoh Akui Kemerdekaan Nagorno Karabakh

Jum'at, 27 November 2020 - 06:37 WIB
loading...
Pemerintah Prancis Emoh...
Pemerintah Prancis menolak mengakui kemerdekaan Nagorno Karabakh. Foto/Sputnik
A A A
PARIS - Prancis tidak mengakui kemerdekaan Republik Artsakh yang memproklamirkan diri, yang mengontrol sebagian wilayah Nagorno Karabakh Azerbaijan , meskipun ada resolusi yang relevan dari Senat. Hal itu diungkapkan juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis.

Senat Prancis pada hari Rabu mengeluarkan resolusi dengan suara mayoritas mutlak yang meminta pemerintah negara itu untuk mengakui kemerdekaan Nagorno Karabakh. Dokumen tersebut, yang sifatnya nasehat, telah dielu-elukan oleh Armenia dan Republik Artsakh tetapi mendapat kritik keras dari Azerbaijan.(Baca juga: Senat Prancis Setujui Resolusi Desak Paris Akui Kemerdekaan Nagorno-Karabakh )

"Selama debat yang diadakan sebelum pemungutan suara (di Senat), Menteri Negara untuk Pariwisata, Prancis di Luar Negeri dan Francophonie Jean-Baptiste Lemoyne menegaskan kembali sikap Prancis tentang masalah ini: Prancis tidak mengakui Republik Artsakh yang memproklamirkan dirinya sendiri," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis seperti dilansir dari Sputnik, Jumat (27/11/2020).



Dia menekankan bahwa sebagai salah satu ketua OSCE Minsk Group, Prancis harus bekerja menuju penyelesaian politik dari konflik tersebut, termasuk diskusi tentang status Nagorno-Karabakh di masa depan. Menurut juru bicara itu, hasil perundingan tersebut belum bisa ditentukan secara sepihak sebelumnya.

"Hari ini, kita harus fokus untuk memastikan pemulangan yang aman bagi para pengungsi, yang harus meninggalkan rumah mereka dalam beberapa pekan terakhir karena konflik tersebut. Menteri negara juga menekankan dalam pidatonya kepada Senat bahwa sejauh ini belum ada negara yang mengakui Nagorno-Karabakh," tambah juru bicara itu.

Awal bulan ini, Yerevan dan Baku menyetujui gencatan senjata di Nagorno-Karabakh, mengakhiri perang selama enam minggu di wilayah yang disengketakan tersebut. Perjanjian tersebut mengakibatkan hilangnya sebagian besar wilayah yang dikendalikan oleh Republik Artsakh yang didominasi Armenia dan penempatan 1.960 penjaga perdamaian Rusia ke wilayah tersebut.

Selama konflik puluhan tahun, Armenia telah memberikan dukungan penuh kepada Republik Artsakh, tetapi tanpa mengakui kemerdekaannya.

Sebelumnya, Azerbaijan mengecam resolusi Senat Prancis dengan mengatakan resolusi yang mendesak pengakuan Nagorno-Karabakh sebagai negara merdeka adalah bias dan provokatif.

Pemerintah Azerbaijan mengatakan orang-orang Armenia di Prancis menggunakan konflik Nagorno-Karabakh untuk tujuan pemilihan umum.

"Penerapan resolusi yang sepenuhnya bias oleh Senat hanya dapat dianggap sebagai provokasi," ungkapnya.(Baca juga: Azerbaijan Sebut Resolusi Senat Prancis Soal Nagorno-Karabakh Bisa dan Provokatif )

Sementara Turki, yang mendukung Azerbaijan, mengatakan resolusi tersebut yang turut menyerukan Azerbaijan untuk menarik diri dari wilayah Nagorno-Karabakh adalah konyol, bias dan jauh dari kenyataan.

"Resolusi yang diadopsi kemarin oleh Senat Prancis tentang sengketa Karabakh Atas adalah kasus yang mengabaikan prinsip-prinsip paling dasar dari hukum internasional, legitimasi dan kesetaraan demi kepentingan politik dalam negeri," kata Kementerian Luar Negeri Turki dalam sebuah pernyataan.(Baca juga: Turki Nilai Resolusi Senat Prancis Soal Nagorno-Karabkah Konyol )
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
1.300 Orang Tewas Akibat...
1.300 Orang Tewas Akibat Gelombang Panas di Eropa
Pesawat Jatuh di Prancis,...
Pesawat Jatuh di Prancis, 11 Orang Tewas
Gelombang Panas Terjang...
Gelombang Panas Terjang Prancis, Rumah Duka Kewalahan
Awas, Virus Ebola Sudah...
Awas, Virus Ebola Sudah Masuk Prancis, Dibawa Seorang Dokter
Ketika Paris Lebih Panas...
Ketika Paris Lebih Panas dari Makkah, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Prancis Naik Pitam!...
Prancis Naik Pitam! Siap Jegal Iran soal Tarif Tol di Selat Hormuz
AS dan Iran Kembali...
AS dan Iran Kembali Saling Serang Pasca-Tandatangani Perjanjian Damai
Update Gempa Venezuela:...
Update Gempa Venezuela: 1.450 Orang Tewas, 774 Gedung Ambruk
Rekomendasi
Mengemudikan Mobil Manual...
Mengemudikan Mobil Manual Lebih Menyehatkan Otak Dibandingkan Otomatis
Ilmuwan Temukan Penyebab...
Ilmuwan Temukan Penyebab Baru di Balik Peningkatan Lemak Perut Seiring Bertambahnya Usia
Mahasiswa ITS Kembangkan...
Mahasiswa ITS Kembangkan Nanopestisida yang Tahan Hujan dan Paparan Sinar UV
Berita Terkini
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Setelah Mundur, PM Inggris...
Setelah Mundur, PM Inggris Starmer Incar Sekjen NATO
Bantah Militernya Melemah,...
Bantah Militernya Melemah, Iran Klaim Selalu Membuat Terobosan yang Tak Diprediksi Musuh
Infografis
Hasil Drawing Grup Piala...
Hasil Drawing Grup Piala Dunia 2026: Brasil dan Prancis Dihadang Kuda Hitam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved