Pertama dalam 6 Dekade, Pemimpin Politik Tibet Kunjungi Gedung Putih

loading...
Pertama dalam 6 Dekade, Pemimpin Politik Tibet Kunjungi Gedung Putih
Presiden Administrasi Tibet Pusat (CTA) Lobsang Sangay bertemu Koordinator Khusus AS untuk Isu Tibet Robert Destro di Gedung Putih pada Jumat (20/11). Foto/Kerala Kaumudi
A+ A-
SHANGHAI - Kepala pemerintahan Tibet di pengasingan mengunjungi Gedung Putih, Amerika Serikat (AS), untuk pertama kali dalam enam dekade. Langkah ini dapat semakin membuat marah China.

Beijing menuduh AS berupaya menciptakan kekacauan di kawasan itu.

“Presiden Administrasi Tibet Pusat (CTA) Lobsang Sangay diundang ke Gedung Putih untuk bertemu Koordinator Khusus AS untuk Isu Tibet Robert Destro pada Jumat (20/11),” ungkap pernyataan CTA.

“Pertemuan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini mungkin akan menjadi nada optimis untuk partisipasi CTA dengan para pejabat AS dan jadi lebih formal dalam beberapa tahun mendatang,” papar CTA yang berbasis di Dharamshala, India. (Baca Juga: Indonesia Desak DK PBB Hentikan Kekerasan di Afghanistan)



Tibet telah menjadi salah satu wilayah sengketa antara Amerika Serikat (AS) dan China, dengan hubungan antara dua ekonomi terbesar dunia itu pada titik terendahnya dalam beberapa dekade. (Lihat Infografis: Abdollah Roudaki, Kapal Perang Baru Iran untuk Pecundangi AS)

Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Mike Pompeo menuduh Beijing pada Juli melanggar hak asasi manusia (HAM) Tibet. Pompeo mengatakan Washington mendukung "otonomi yang berarti" untuk wilayah tersebut. (Lihat Video: Tampak Bugar, Inilah Video Alm. Ricky Yacobi Sebelum Bertanding)

Pejabat Beijing sejak itu menuduh Amerika Serikat menggunakan Tibet untuk mencoba mempromosikan "perpecahan" di China. Beijing juga menolak untuk bernegosiasi dengan Destro.



China menguasai Tibet pada 1950 dalam proses yang digambarkannya sebagai "pembebasan damai" yang membantu membuang "masa lalu feodalis".

Meski demikian, para pengkritik yang dipimpin pemimpin spiritual yang diasingkan, Dalai Lama mengatakan pemerintahan China sama dengan "genosida budaya".

Presiden China Xi Jinping mengatakan pada Agustus bahwa China perlu membangun "benteng yang tak tertembus" di Tibet untuk melindungi persatuan nasional.
(sya)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top