Momentum AS Kokohkan Pimpin Dunia

Kamis, 05 November 2020 - 06:05 WIB
loading...
A A A
Pendekatan Biden tidak akan jauh berbeda dengan kebijakan Presiden Barack Obama sebelumnya. Dia akan menempatkan China dalam sistem dunia untuk menjamin Beijing mematuhi peraturan internasional. Dia juga akan mengizinkan China masuk Badan Perdagangan Dunia (WTO).

Asia, dalam pandangan pengamat Asia dari Council on Foreign Relations, Sheila A Smith, mengatakan kawasan tersebut merupakan pilihan penting bagi AS. Tujuan AS nantinya adalah membangun keseimbangan kekuatan di Asia. (Baca juga: Benarkah Penyitas Covid-19 Tidak Akan terinfeksi Lagi?)

"Jika Trump melihat aliansi sebagai hal samping, Biden akan melihat aliansi sebagai pendekatan utama. AS juga akan mencari kesamaan pandangan untuk membangun jaringan," kata Smith dilansir Channel News Asia. Kemudian, Biden akan mengintegrasikan kerja sama dengan mitra Asia dalam penanganan berbagai isu global.

Bagaimana dengan Iran? Biden mengatakan bahwa dia akan kembali bergabung dengan kesepakatan nuklir Iran. Itu berujuan untuk memperkuat kesepakatan tersebut. Keputusan Biden diperkirakan akan membuat musuh Iran seperti Arab Saudi akan marah.

Kesepakatan itu, dinegosiasikan pada 2015 ketika Biden menjadi wakil presiden Barack Obama, akan memberikan Iran keringanan sanksi sebagai imbalan atas pembatasan kegiatan nuklir yang sensitif. Presiden Trump mengatakan kesepakatan itu "cacat" dan menerapkan kembali sanksi yang telah melumpuhkan ekonomi Iran dalam upaya untuk mendesak perundingan kesepakatan pengganti.

Biden juga akan membentuk gugus tugas Covid-19 selama pemerintahan transisi. Tim gugus virus korona versi Biden akan dipimpin seperti mantan dokter bedah Vivek Murthy dan mantan komisioner Badan Obat dan Makanan (FDA) David Kessler. Tim kampanye tersebut juga akan berjanji mendengarkan pendapat para ilmuwan jika terpilih dan beranggotakan para pakar kesehatan publik. (Baca juga: TYpo UU Ciptaker Human Error, Kemensetneg Beri Sanksi Disiplin Pejabatnya)

Selama kepemimpinan Trump, penanganan korona tidak terintegrasi dengan baik. Tidak ada koherensi antara pemerintahan federal dengan pemerintahan negaa bagian.Trump juga jarang menggelar rapat dan koordinasi dengan gubernur selama satu bulan terakhir saat puncak kampanyepemilu presiden.

Mantan Menteri Kesehatan AS Kathleen Sebelius mengatakan, pembentukan gugus tugas Biden merupakan kabar baik. "Kita masih memiliki 11 pekan lagi menuju pelantikan. Tapi, masa transisi merupakan masa paling bahaya bagi publik AS karena virus masih berkembang," katanya. Dia mengatakan, dengan gugus tugas baru itu akan memberikan rakyat AS semakin percaya diri.

Dalam pandangan pengamat hubungan internasional Sukmawani Bella Pertiwi, siapapun yang terpilih menjadi pemimpin AS sebenarnya tidak secara langsung berdampak terhadap Indonesia. Namun, AS memiliki pengaruh besar di level global dan keterlibatan di regional, termasuk Asia Tenggara.

Secara regional, pemenang pemilu AS juga akan mempengaruhi keterlibatan dan bagaimana keterlibatan AS di kawasan, termasuk Asia. “Trump sudah kita lihat cukup keras dalam perang dagang dengan China dan bagaimana kebijakannya terkait Korea Utara dan Laut China Selatan. Secara garis besar kebijakannya cukup destabilizing dalam beberapa hal,” ujarnya. (Baca juga: Industri Sawit redup, Ini Sebabnya)
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mahkamah Agung Batalkan...
Mahkamah Agung Batalkan Perintah Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran Trump
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
Jika AS Lanjutkan Perang,...
Jika AS Lanjutkan Perang, Trump: Iran Tidak Akan Ada Lagi
AS Serang Iran 2 Hari...
AS Serang Iran 2 Hari Beruntun, Trump Umbar Ancaman Mengerikan
Eks Menteri Zionis:...
Eks Menteri Zionis: Trump Permalukan Netanyahu dan Israel dengan Penghinaan yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Donald Trump Raup Rp25...
Donald Trump Raup Rp25 Triliun dari Bisnis Kripto, Lampaui Pendapatan Properti yang Dibangun Puluhan Tahun
Update Gempa Venezuela:...
Update Gempa Venezuela: 1.430 Orang Tewas dan Ribuan Hilang!
Israel Incar Pemimpin...
Israel Incar Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei, Siap Perang Lagi 
Rekomendasi
Kepercayaan Publik pada...
Kepercayaan Publik pada Polri Meningkat, Bukti Reformasi Institusi Berjalan
KPK Panggil Bupati Indragiri...
KPK Panggil Bupati Indragiri Hulu terkait Kasus Ajudan Gubernur Abdul Wahid
Bonatua Ungkap Alasan...
Bonatua Ungkap Alasan Gugat Penyelenggara Pemilu hingga UGM terkait Legalisir Ijazah Jokowi
Berita Terkini
Dunia Fokus ke Iran,...
Dunia Fokus ke Iran, Israel Justru Percepat Perebutan Lahan di Gaza dan Tepi Barat
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Rakyat UEA Menikmati Jaringan Kereta Api
Kesepakatan MiG untuk...
Kesepakatan MiG untuk Drone antara Polandia dan Drone Ukraina Batal, Ini Pemicu Utamanya
Sanksi Dicabut, Iran...
Sanksi Dicabut, Iran Jual Minyak 20% Lebih Mahal
Iran Bersiap Berperang...
Iran Bersiap Berperang Lagi jika MoU Tidak Dilaksanakan, AS dan Sekutunya Ketar-ketir
Jelang Pemilu, Netanyahu...
Jelang Pemilu, Netanyahu Ngotot Usir Warga Palestina dari Gaza
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved