Saudi Sukses Jinakkan Pandemi
Senin, 19 Oktober 2020 - 06:01 WIB
loading...
A
A
A
Pihak pengelola Masjidilharam juga menyediakan jalur khusus bagi para manula dan warga disabel untuk membantu melaksanakan ibadah umrah. Haider juga menegaskan, konsentrasi dan sanitasi Masjidilharam dan sekitarnya oleh 4.000 pekerja selama sepuluh kali setiap hari. Lebih dari 1.800 liter disinfektan juga digunakan untuk membersihkan toilet sebanyak enam kali per hari.
Sistem pendingin ruangan di Masjidilharam juga dibersihkan sebanyak sembilan kali dan menggunakan teknologi ultraviolet. Lebih dari 200 alat sanitasi juga disebar di seluruh Masjidilharam. “Pengelola Masjidilharam juga menggunakan teknologi untuk mendistribusikan gelas berisi air Zamzam untuk mencegah kontak dengan jamaah,” kata Haider.
Umrah tersebut dibuka sejak 4 Oktober lalu setelah enam bulan dilarang. Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi hanya memberikan kuota sebanyak 6.000 jamaah umrah per hari pada fase pertama yang hanya diikuti warga Saudi.
Nanti pada fase ketiga Saudi akan mengizinkan warga asing untuk melaksanakan ibadah umrah. Fase kedua dimulai pada 18 Oktober, yakni 15.000-40.000 jamaah per hari. Untuk fase ketiga, ibadah umrah bisa diikuti 20.000-60.000 jamaah. (Baca juga: Waspadai Politik Uang Jelang Pilkada Serentak)
Jamaah umrah dari luar negeri diizinkan mengikuti ibadah umrah pada fase ketiga. Namun, apakah Indonesia akan mendapat izin masuk Saudi, hingga kini belum ada kepastian.
Pembukaan kembali ibadah umrah dan haji merupakan konsekuensi pelaksanaan tiga fase penanganan pandemi virus corona di Saudi. Fase pertama berlangsung sejak 28 Mei hingga 30 Mei 2020 di mana pemberlakuan jam malam di seluruh Saudi dan lockdown secara nasional.
Fase kedua pada 31 Mei hingga 20 Juni yakni pemberlakuan jam malam dan pelarangan perkumpulan lebih dari 50 orang. Fase ketiga berlangsung 21 Juni hingga saat ini yakni menghidupkan kembali kehidupan normal dan tetap menjaga protokol kesehatan. Standar pelaksanaan umrah seperti standar yang diberlakukan pada pelaksanaan haji akhir Agustus silam.
Tes PCR Jadi Andalan
Jumlah total kasus orang yang terinfeksi virus korona mencapai 339.000 di Saudi, dan mereka yang sudah sembuh mencapai 325.000 orang. Korban meninggal dunia akibat virus korona di Saudi mencapai 5.403. Per 7 Oktober lalu terdapat 9.556 kasus virus korona yang aktif dan 913 masih mendapatkan perawatan medis.
Madinah merupakan kota dengan jumlah kasus konfirmasi tertinggi, yakni 71 orang. Sedang Mekkah hanya 53 orang. “Seluruh warga Saudi diminta menggunakan masker,” kata juru bicara Kementerian Kesehatan Arab Saudi Mohammed Al-Abd Al-Aly. (Baca juga: Objek Wisata Kota tua Kembali Dibuka, Pengunjung Masih Sepi)
Saudi pun tidak mengalami gelombang kedua karena masyarakat berkomitmen melaksanakan protokol kesehatan. Kementerian Kesehatan telah melaksanakan 6,8 juta tes polymerase chain reaction(PCR) sejak awal Maret lalu. Dalam 24 jam Saudi melaksanakan 52.184 PCR.
“Saudi telah meningkatkan kapasitas laboratorium, ruang perawatan intensif, dan ventilator di rumah sakit,” kata Menteri Kesehatan Saudi Tawfiq Alrabiah.
Yasmine Farouk, peneliti dari Carnegie Endowment for International Peace, mengungkapkan, kesuksesan penanganan Covid-19 di Saudi tidak lepas dari narasi nasionalisme yang digaungkan pemerintah untuk mematuhi protokol kesehatan. “Narasi itu menghasilkan panggilan bagi individu dan sektor swasta untuk membantu penegakan regulasi dari pemerintah,” katanya.
Sistem pendingin ruangan di Masjidilharam juga dibersihkan sebanyak sembilan kali dan menggunakan teknologi ultraviolet. Lebih dari 200 alat sanitasi juga disebar di seluruh Masjidilharam. “Pengelola Masjidilharam juga menggunakan teknologi untuk mendistribusikan gelas berisi air Zamzam untuk mencegah kontak dengan jamaah,” kata Haider.
Umrah tersebut dibuka sejak 4 Oktober lalu setelah enam bulan dilarang. Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi hanya memberikan kuota sebanyak 6.000 jamaah umrah per hari pada fase pertama yang hanya diikuti warga Saudi.
Nanti pada fase ketiga Saudi akan mengizinkan warga asing untuk melaksanakan ibadah umrah. Fase kedua dimulai pada 18 Oktober, yakni 15.000-40.000 jamaah per hari. Untuk fase ketiga, ibadah umrah bisa diikuti 20.000-60.000 jamaah. (Baca juga: Waspadai Politik Uang Jelang Pilkada Serentak)
Jamaah umrah dari luar negeri diizinkan mengikuti ibadah umrah pada fase ketiga. Namun, apakah Indonesia akan mendapat izin masuk Saudi, hingga kini belum ada kepastian.
Pembukaan kembali ibadah umrah dan haji merupakan konsekuensi pelaksanaan tiga fase penanganan pandemi virus corona di Saudi. Fase pertama berlangsung sejak 28 Mei hingga 30 Mei 2020 di mana pemberlakuan jam malam di seluruh Saudi dan lockdown secara nasional.
Fase kedua pada 31 Mei hingga 20 Juni yakni pemberlakuan jam malam dan pelarangan perkumpulan lebih dari 50 orang. Fase ketiga berlangsung 21 Juni hingga saat ini yakni menghidupkan kembali kehidupan normal dan tetap menjaga protokol kesehatan. Standar pelaksanaan umrah seperti standar yang diberlakukan pada pelaksanaan haji akhir Agustus silam.
Tes PCR Jadi Andalan
Jumlah total kasus orang yang terinfeksi virus korona mencapai 339.000 di Saudi, dan mereka yang sudah sembuh mencapai 325.000 orang. Korban meninggal dunia akibat virus korona di Saudi mencapai 5.403. Per 7 Oktober lalu terdapat 9.556 kasus virus korona yang aktif dan 913 masih mendapatkan perawatan medis.
Madinah merupakan kota dengan jumlah kasus konfirmasi tertinggi, yakni 71 orang. Sedang Mekkah hanya 53 orang. “Seluruh warga Saudi diminta menggunakan masker,” kata juru bicara Kementerian Kesehatan Arab Saudi Mohammed Al-Abd Al-Aly. (Baca juga: Objek Wisata Kota tua Kembali Dibuka, Pengunjung Masih Sepi)
Saudi pun tidak mengalami gelombang kedua karena masyarakat berkomitmen melaksanakan protokol kesehatan. Kementerian Kesehatan telah melaksanakan 6,8 juta tes polymerase chain reaction(PCR) sejak awal Maret lalu. Dalam 24 jam Saudi melaksanakan 52.184 PCR.
“Saudi telah meningkatkan kapasitas laboratorium, ruang perawatan intensif, dan ventilator di rumah sakit,” kata Menteri Kesehatan Saudi Tawfiq Alrabiah.
Yasmine Farouk, peneliti dari Carnegie Endowment for International Peace, mengungkapkan, kesuksesan penanganan Covid-19 di Saudi tidak lepas dari narasi nasionalisme yang digaungkan pemerintah untuk mematuhi protokol kesehatan. “Narasi itu menghasilkan panggilan bagi individu dan sektor swasta untuk membantu penegakan regulasi dari pemerintah,” katanya.
Lihat Juga :