Kompak, Belarusia dan Rusia Umumkan Sanksi Balasan untuk UE

Sabtu, 03 Oktober 2020 - 03:30 WIB
loading...
Kompak, Belarusia dan...
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Belarusia Alexander Lukashenko. Rusia dan Belarusia mengumumkan sanksi balasan untuk UEFoto/Swissinfo
A A A
MINSK - Belarusia mengumumkan bahwa mereka menjatuhkan sanksi terhadap Uni Eropa (UE) , dan mengancam akan merevisi hubungan diplomatik negara itu dengan blok tersebut. Tindakan ini sebagai respon atas sanksi yang dijatuhkan UE kepada puluhan pejabat Belarusia yang dituduh memalsukan hasil pemilihan presiden dan memimpin tindakan keras terhadap pengunjuk rasa damai.

Rusia mengatakan pihaknya juga akan mengikuti sanksi Belarusia atas blok negara-negara Benua Biru tersebut.

Uni Eropa pada Jumat dini hari memutuskan untuk menjatuhkan sanksi pada sekitar 40 pejabat, kecuali Presiden Alexander Lukashenko, yang terpilih kembali pada Agustus dalam pemungutan suara yang dianggap pihak oposisi dicurangi.(Baca juga: Uni Eropa Sanksi 40 Pejabat Belarusia )

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Luar Negeri Belarus mengeluarkan pernyataan yang mengumumkan sanksi sendiri terhadap pejabat Eropa.

"Pihak Belarusia, mulai hari ini, memberlakukan daftar sanksi pembalasan," bunyi pernyataan itu seperti dikutip dari The Associated Press, Sabtu (3/10/2020).

Namun pihak Kementerian Luar Negeri Belarusia tidak mengungkapkan daftar tersebut dan tidak memberikan rincian berapa banyak pejabat yang ada di dalamnya.

Menurut pernyataan itu, jika UE lebih lanjut menaikkan "roda gila sanksi," mungkin ada konsekuensi yang lebih serius seperti Belarusia menarik diri dari program dan proyek bersama atau merevisi hubungan diplomatiknya dengan blok tersebut.

“Belarusia selalu, dalam kata-kata dan perbuatan, menentang konfrontasi. Kami menginginkan dialog dan pengertian. Tetapi sebagai negara berdaulat, kami juga bertekad, meskipun bukan tanpa penyesalan, untuk menanggapi tindakan tidak ramah untuk secara alami membela kepentingan nasional kami," demikian bunyi pernyataan itu.

Sementara itu juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengkritik langkah UE.(Baca juga: Rusia Perluas Sanksi pada Individu dan Lembaga Uni Eropa )

"Daftar sanksi pembalasan Belarusia, mulai berlaku hari ini, secara otomatis akan digunakan oleh Rusia," ujarnya.

Dia mengatakan langkah ini sejalan dengan kewajiban di bawah perjanjian serikat antara Belarusia dan Rusia.

Hasil resmi pemilihan presiden pada 9 Agustus lalu memberikan Lukashenko, yang telah memimpin Belarusia selama 26 tahun, kemenangan telak dengan 80% suara. Penantang utamanya, Sviatlana Tsikhanouskaya, hanya mendapat 10%. Dia dan pendukungnya menolak untuk mengakui hasil tersebut, dan aksi protes massa telah mengguncang Belarusia sejak saat itu dengan ratusan ribu orang turun ke jalan dan menuntut pengunduran diri Lukashenko.

Pemerintah segera menanggapi dengan brutal aksi protes setelah pemungutan suara itu. Polisi menahan ribuan orang dan melukai banyak orang dengan pentungan, peluru karet serta granat kejut, menimbulkan kemarahan internasional.

Pemerintah Belarusia belakangan telah mengurangi kekerasan, tetapi terus menekan, menahan ratusan pengunjuk rasa dan menuntut aktivis top. Banyak anggota terkemuka Dewan Koordinasi, yang dibentuk oleh kelompok oposisi untuk mendorong transisi kekuasaan, telah ditangkap atau dipaksa meninggalkan negara itu.

Tsikhanouskaya saat ini berada di pengasingan di Lituania. Rekan utamanya Maria Kolesnikova tetap di penjara atas tuduhan merusak keamanan negara yang dapat membawa hukuman penjara lima tahun jika dia terbukti bersalah.(Baca juga: Bertemu Pemimpin Oposisi Belarusia, Macron Janjikan Bantuan )
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Serangan Drone Terbesar...
Serangan Drone Terbesar Ukraina Membakar Kilang Minyak Moskow, Rusia Janji Balas Dendam
Finlandia Buka Pintu...
Finlandia Buka Pintu Jadi Markas Bom Nuklir NATO, Rusia Bisa Marah
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Prabowo Batal Hadiri...
Prabowo Batal Hadiri KTT ASEAN-Rusia, Istana Ungkap Alasannya
Pembom B-52 Stratofortress...
Pembom B-52 Stratofortress AS Jatuh di Pangkalan Gurun Mojave, Tewaskan 8 Orang
Ini Alasan Trump Ingin...
Ini Alasan Trump Ingin Buru-Buru Teken Perjanjian Damai dengan Iran
Rekomendasi
Intel dan Nvidia Memulai...
Intel dan Nvidia Memulai Pertempuran Global Baru
Frans Antoni Pengendali...
Frans Antoni Pengendali Uang Fredy Pratama Digiring ke Bareskrim usai Ditangkap di Malaysia
BEI Tegaskan MSCI Belum...
BEI Tegaskan MSCI Belum Putuskan Status Pasar Saham RI
Berita Terkini
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Netanyahu Keras Kepala,...
Netanyahu Keras Kepala, Israel Tak akan Mundur dari Lebanon Selatan
Hizbullah Peringatkan...
Hizbullah Peringatkan Israel Punya Waktu 60 hari untuk Mundur dari Lebanon
Swiss Ungkap Perundingan...
Swiss Ungkap Perundingan AS-Iran Tidak Jadi Digelar, Wapres Vance Batalkan Perjalanan
Jurnalis AS: Trump Tak...
Jurnalis AS: Trump Tak Konsultasi dengan Israel soal Iran untuk Lemahkan Posisi Netanyahu
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved