China Jadi Sorotan dalam Studi tentang Troll Army dan Propaganda Digital
Kamis, 02 April 2026 - 10:21 WIB
loading...
A
A
A
Nandy juga menyoroti struktur internet di China yang memperkuat kontrol terhadap informasi.
Sistem yang dikenal sebagai “Great Firewall” membatasi akses pengguna terhadap platform global seperti Facebook, X, dan YouTube, serta menggantikannya dengan platform domestik seperti WeChat, Weibo, dan Douyin.
Platform-platform tersebut beroperasi di bawah regulasi ketat, dengan moderasi konten yang melibatkan sistem otomatis dan intervensi manusia.
Dia menyebut sejumlah isu sensitif, seperti Xinjiang, Tibet, Hong Kong, dan Tiananmen, berada dalam pengawasan ketat.
Pengguna yang melanggar batas yang ditetapkan berisiko menghadapi pembatasan akun hingga pengawasan lebih lanjut.
Meski demikian, Nandy mencatat bahwa pengguna internet di China tetap berupaya mengekspresikan pendapat melalui cara tidak langsung, seperti penggunaan metafora, satire, dan bahasa tersirat.
Namun, bentuk ekspresi ini dinilai rentan karena mekanisme pengawasan terus berkembang.
Menurut Nandy, pola perilaku terkoordinasi juga terlihat dalam diskusi terkait isu sensitif, seperti perlakuan terhadap komunitas Uyghur.
“Narasi kritik kerap direspons dengan framing sebagai campur tangan asing atau disinformasi, melalui respons daring yang terorganisasi,” sebut Nandy.
Fenomena ini menunjukkan keterkaitan antara kebijakan negara, kontrol digital, dan partisipasi massa dalam membentuk opini publik.
Nandy menilai model ini tidak terbatas pada satu negara, melainkan mulai diamati dan, dalam beberapa kasus, diadopsi oleh aktor politik di berbagai negara.
Sistem yang dikenal sebagai “Great Firewall” membatasi akses pengguna terhadap platform global seperti Facebook, X, dan YouTube, serta menggantikannya dengan platform domestik seperti WeChat, Weibo, dan Douyin.
Platform-platform tersebut beroperasi di bawah regulasi ketat, dengan moderasi konten yang melibatkan sistem otomatis dan intervensi manusia.
Dia menyebut sejumlah isu sensitif, seperti Xinjiang, Tibet, Hong Kong, dan Tiananmen, berada dalam pengawasan ketat.
Pengguna yang melanggar batas yang ditetapkan berisiko menghadapi pembatasan akun hingga pengawasan lebih lanjut.
Adaptasi Pengguna Digital
Meski demikian, Nandy mencatat bahwa pengguna internet di China tetap berupaya mengekspresikan pendapat melalui cara tidak langsung, seperti penggunaan metafora, satire, dan bahasa tersirat.
Namun, bentuk ekspresi ini dinilai rentan karena mekanisme pengawasan terus berkembang.
Menurut Nandy, pola perilaku terkoordinasi juga terlihat dalam diskusi terkait isu sensitif, seperti perlakuan terhadap komunitas Uyghur.
“Narasi kritik kerap direspons dengan framing sebagai campur tangan asing atau disinformasi, melalui respons daring yang terorganisasi,” sebut Nandy.
Fenomena ini menunjukkan keterkaitan antara kebijakan negara, kontrol digital, dan partisipasi massa dalam membentuk opini publik.
Nandy menilai model ini tidak terbatas pada satu negara, melainkan mulai diamati dan, dalam beberapa kasus, diadopsi oleh aktor politik di berbagai negara.
Lihat Juga :