Kesampingkan India, Pakistan Usulkan Blok Asia Selatan Bersama China
Jum'at, 02 Januari 2026 - 11:35 WIB
loading...
A
A
A
Para pemimpin Pakistan menggaungkan kerja sama dan fleksibilitas, tetapi hal itu tidak menutupi realpolitik di baliknya. Ikatan kuat dengan Beijing memberi bobot pada gagasan ini. Pakistan berupaya menghindari dominasi India dengan menggalang siapa pun yang bisa dirangkul, dengan dukungan China, ke dalam kelompok alternatif. Ini lebih mencerminkan pencarian panggung tanpa bayang-bayang India ketimbang integrasi regional sejati.
Gagasan “blok Asia Selatan” yang membutuhkan patronase negara adidaya non-Asia Selatan justru menegaskan ketidakpraktisan konsep tersebut. Ekonomi raksasa dan daya tarik strategis China akan menjadi penopang utama, sebuah tanda lain bahwa tanpa India, kawasan ini tidak memiliki pusat gravitasi yang sebanding.
Dengan memperlakukan Beijing seolah sekadar mitra biasa, proposal ini mengabaikan fakta bahwa mengundang China secara efektif mengubah watak blok tersebut menjadi perpanjangan kepentingan China-Pakistan, yang akan dipandang dengan kehati-hatian oleh negara Asia Selatan lainnya. Sedikit negara tetangga India yang ingin menjadi pion dalam persaingan kekuatan besar China versus India, terutama ketika kemakmuran mereka terkait erat dengan kedua raksasa itu.
Karena itu, ide koalisi Asia Selatan baru tanpa India lebih menyerupai fantasi diplomatik. Ia mengabaikan realitas lapangan demi retorika aspiratif. Memang, Asia Selatan sangat membutuhkan kerja sama yang lebih baik—perdagangan intra-kawasan masih sangat rendah, dan SAARC telah lama dorman. Namun, mengelabui India dengan membentuk blok paralel bukanlah solusi; itu hanya pengalihan perhatian.
Secara diplomatik, langkah Pakistan lebih terbaca sebagai taktik tawar-menawar atau permainan pengaruh ketimbang jalan kredibel menuju persatuan Asia Selatan. Upaya ini bertujuan mendongkrak posisi regional Islamabad dengan dukungan China, tetapi mengabaikan fakta mendasar bahwa tidak ada visi Asia Selatan yang dapat bertahan tanpa persetujuan India.
Gagasan blok baru yang kehilangan pilar utama kawasan pada akhirnya hanyalah kerangka kosong. Alih-alih memecah Asia Selatan ke dalam kubu-kubu tandingan, pendekatan yang jauh lebih praktis adalah mengatasi kebuntuan India-Pakistan yang melumpuhkan institusi yang ada—termasuk persoalan terorisme lintas batas.
Pada akhirnya, manuver Pakistan yang didukung China ini hampir pasti tetap tidak praktis dan minim peminat, menjadi ilustrasi nyata bahwa dalam geopolitik Asia Selatan, semua jalan pada akhirnya bermuara ke New Delhi.
Gagasan “blok Asia Selatan” yang membutuhkan patronase negara adidaya non-Asia Selatan justru menegaskan ketidakpraktisan konsep tersebut. Ekonomi raksasa dan daya tarik strategis China akan menjadi penopang utama, sebuah tanda lain bahwa tanpa India, kawasan ini tidak memiliki pusat gravitasi yang sebanding.
Dengan memperlakukan Beijing seolah sekadar mitra biasa, proposal ini mengabaikan fakta bahwa mengundang China secara efektif mengubah watak blok tersebut menjadi perpanjangan kepentingan China-Pakistan, yang akan dipandang dengan kehati-hatian oleh negara Asia Selatan lainnya. Sedikit negara tetangga India yang ingin menjadi pion dalam persaingan kekuatan besar China versus India, terutama ketika kemakmuran mereka terkait erat dengan kedua raksasa itu.
Fantasi Diplomatik
Karena itu, ide koalisi Asia Selatan baru tanpa India lebih menyerupai fantasi diplomatik. Ia mengabaikan realitas lapangan demi retorika aspiratif. Memang, Asia Selatan sangat membutuhkan kerja sama yang lebih baik—perdagangan intra-kawasan masih sangat rendah, dan SAARC telah lama dorman. Namun, mengelabui India dengan membentuk blok paralel bukanlah solusi; itu hanya pengalihan perhatian.
Secara diplomatik, langkah Pakistan lebih terbaca sebagai taktik tawar-menawar atau permainan pengaruh ketimbang jalan kredibel menuju persatuan Asia Selatan. Upaya ini bertujuan mendongkrak posisi regional Islamabad dengan dukungan China, tetapi mengabaikan fakta mendasar bahwa tidak ada visi Asia Selatan yang dapat bertahan tanpa persetujuan India.
Gagasan blok baru yang kehilangan pilar utama kawasan pada akhirnya hanyalah kerangka kosong. Alih-alih memecah Asia Selatan ke dalam kubu-kubu tandingan, pendekatan yang jauh lebih praktis adalah mengatasi kebuntuan India-Pakistan yang melumpuhkan institusi yang ada—termasuk persoalan terorisme lintas batas.
Pada akhirnya, manuver Pakistan yang didukung China ini hampir pasti tetap tidak praktis dan minim peminat, menjadi ilustrasi nyata bahwa dalam geopolitik Asia Selatan, semua jalan pada akhirnya bermuara ke New Delhi.
(mas)
Lihat Juga :