Tepati Janji, Li Meng Yan Rilis Bukti Covid-19 Dibuat di Lab Militer Komunis China

loading...
Tepati Janji, Li Meng Yan Rilis Bukti Covid-19 Dibuat di Lab Militer Komunis China
Li Meng Yan, ahli virus China yang melarikan diri ke Amerika Serikat. Foto/ITV/REX
A+ A-
WASHINGTON - Dr Li Meng Yan, ahli virologi China yang melarikan diri ke Amerika Serikat (AS), menepati janji dengan menerbitkan laporan tentang klaimnya bahwa virus corona baru (Covid-19) dibuat di laboratorium militer Partai Komunis China. Laporan tersebut dia nyatakan sebagai bukti atas klaimnya.

Li Meng Yan, mantan peneliti di Hong Kong’s School of Public Health, Hong Kong University (HKU), mengatakan virus itu dibangun dengan menggabungkan materi genetik dari dua virus corona kelelawar. (Baca: Li Meng Yan Janjikan Bukti Covid-19 Dibuat di Lab Militer Partai Komunis China)

Dia mengklaim protein lonjakannya—struktur pada permukaan virus yang digunakannya untuk mengikat sel—diedit untuk memudahkan virus menempel ke sel manusia.

Tetapi para ilmuwan mengecam laporannya—yang dia janjikan saat wawancara pekan lalu akan segera dirilis—sebagaiklaim "tidak berdasar". Mereka menganggap bukti yang diajukan Li tidak memiliki kredibilitas apa pun.

Makalah penelitian telah menentukan asal mula virus SARS-Cov-2 dari kelelawar, yang mengarah ke para ahli top menolak anggapan bahwa virus itu diciptakan oleh manusia.



SARS-CoV-2—nama ilmiah patogen—adalah virus corona ketujuh yang diketahui menginfeksi manusia dan menular ke manusia setelah versi sebelumnya bermutasi. Virus sebelumnya diduga salah satu yang menginfeksi kelelawar dan kemudian mencapai manusia melalui hewan lain. (Bacca: Ilmuwan China Lari ke AS: Covid-19 Dibuat di Lab Militer Partai Komunis China)

Laporan Li belum diterbitkan dalam jurnal ilmiah dan belum ditinjau oleh rekan sejawat, yang berarti laporan itu belum diperiksa dan disetujui oleh para ilmuwan. Tapi laporannya telah mendapat perhatian publik yang luas, yang telah dilihat lebih dari 150.000 kali sejak di-posting kemarin di situs web Zenodo, sebuah situs web yang dioperasikan oleh Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir.

Li menyatakan penelitiannya mengabaikan teori bahwa virus corona berevolusi di alam liar dan kemudian ditransfer ke manusia. Dia mengklaim hal itu "tidak memiliki dukungan substansial".

"SARS-CoV-2 menunjukkan karakteristik biologis yang tidak konsisten dengan virus yang muncul secara alami," tulis dia.

"Bukti menunjukkan bahwa (virus) seharusnya merupakan produk laboratorium yang dibuat dengan menggunakan virus corona ZC45 kelelawar dan/atau ZXC21 sebagai template dan/atau tulang punggung," lanjut dia, yang dilansir Mail Online, Rabu (16/9/2020). (Baca: Ahli Virus China Melarikan Diri ke AS, Klaim Beijing Menutup-nutupi Corona)



Menurutnya, virus dibuat menggunakan penyimpanan virus kelelawar tersebut, yang dia klaim sampelnya disimpan di Hong Kong dan China.

Dr Li Meng Yan dalam abstraksi laporannya mengklaim bahwa virus corona SARS-CoV-2 dapat dibangun hanya dalam enam bulan.

Dr Andrew Preston, seorang ahli patogenesis mikroba di University of Bath, mengecam laporan Li Meng Yan sebagai laporan yang "mengingatkan pada teori konspirasi". "Afiliasi penulis adalah Rule of Law Society dan Rule of Law Foundation, New York," katanya.

"Di situs web mereka, visi dari organisasi ini adalah untuk mengizinkan rakyat China hidup di bawah sistem nasional berdasarkan aturan hukum, terlepas dari sistem politik Republik Rakyat China dan misinya adalah mengungkap korupsi, penghalang, ilegalitas, kebrutalan, pemenjaraan palsu, hukuman yang berlebihan, pelecehan, dan ketidakmanusiawian yang menyebar dalam sistem politik, hukum, bisnis dan keuangan China," paparnya.

"Mengingat klaim tidak berdasar dalam publikasi, yang belum ditinjau oleh rekan sejawat, laporan tersebut tidak dapat dilihat dengan kredibilitas apa pun sebagaimana adanya," paparnya. (Baca: Xi Jinping: China Lulus Ujian Virus Corona yang Luar Biasa dan Bersejarah)

Dr Michael Head, pakar kesehatan global di University of Southampton, mengatakan teori konspirasi yang dijajakan oleh laporan tersebut telah "berputar-putar di seluruh pandemi".

"Pada akhirnya, hal itu bisa merusak kesehatan masyarakat jika dilaporkan secara non-kritis tanpa melihat bukti yang lebih luas," katanya.

"Jika orang terpapar dan kemudian percaya pada teori konspirasi, ini kemungkinan akan berdampak negatif pada upaya untuk menjaga kasus Covid-19 tetap rendah dan dengan demikian akan ada lebih banyak kematian dan penyakit daripada yang seharusnya," ujarnya.
halaman ke-1 dari 2
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top