Komandan RSF Minta Maaf setelah Pasukannya Bantai 2.000 Warga Sipil El-Fasher
Jum'at, 31 Oktober 2025 - 08:48 WIB
loading...
Komandan RSF Mohamed Hamdan Dagalo meminta maaf kepada warga El-Fasher setelah pasukannya melakukan pembantaian massal terhadap warga sipil selama merebut kota Sudan tersebut. Foto/Anadolu
A
A
A
EL-FASHER - Komandan Rapid Support Forces (RSF), Mohamed Hamdan Dagalo, telah meminta maaf kepada warga El-Fasher setelah pasukannya melakukan pembantaian massal terhadap warga sipil selama merebut kota Sudan tersebut. Jumlah korban pembantaian RSF dilaporkan telah mencapai lebih dari 2.000 orang.
Pembantaian massal ini mewarnai babak baru mengerikan dari perang saudara Sudan antara pasukan militer pemerintah melawan pasukan paramiliter RSF.
Dalam pesan video yang dirilis di saluran Telegram-nya—tiga hari setelah RSF merebut kendali El-Fasher, benteng terakhir militer Sudan di wilayah Darfur—Dagalo mengatakan, "Saya meminta maaf kepada rakyat El-Fasher atas bencana yang menimpa mereka."
Baca Juga: Perang Saudara Sudan Makin Brutal, RSF Eksekusi Banyak Orang di Lapangan
"Kami dipaksa terlibat dalam perang ini; perang ini dipaksakan kepada kami. Namun pembebasan El-Fasher adalah demi persatuan Sudan—baik secara damai maupun melalui perang," ujarnya.
Dagalo, yang juga dikenal sebagai Hemedti, menggambarkan pasukannya sebagai "rakyat yang cinta damai", dan mendesak pasukannya untuk tidak melukai warga sipil.
"Membunuh tentara yang ditangkap dilarang," katanya. "Sedangkan warga sipil, kalian tidak ada urusan dengan mereka," katanya lagi, seperti dikutip dari Middle East Monitor, Jumat (31/10/2025).
Komandan RSF mengumumkan pembentukan komite akuntabilitas di El-Fasher untuk menyelidiki dugaan pelanggaran, dengan mengatakan, "Kami menjunjung tinggi hukum dan meminta pertanggungjawaban mereka yang bersalah."
Laporan dari para saksi, aktivis lokal, dan organisasi internasional, yang diperkuat oleh citra satelit, menunjukkan bahwa pasukan paramiliter RSF melakukan pembantaian dan pembunuhan etnis yang meluas terhadap warga sipil setelah merebut kota El-Fasher.
Uni Eropa pada hari Rabu mengecam apa yang disebutnya sebagai "kebrutalan" RSF dan "penargetan etnis" terhadap warga sipil, sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan meningkatnya risiko pelanggaran dan kekejaman bermotif etnis di wilayah tersebut.
Jatuhnya El-Fasher ke tangan RSF menandai perubahan signifikan dalam perang saudara yang sedang berlangsung di Sudan, yang secara efektif memberikan RSF kendali penuh atas Darfur dan semakin memperdalam kekhawatiran akan bencana kemanusiaan.
Sekutu militer Sudan, Joint Force (Pasukan Gabungan), mengatakan pada hari Selasa bahwa RSF melakukan kejahatan keji terhadap warga sipil tak berdosa di kota El-Fasher. "Tempat lebih dari 2.000 warga tak bersenjata dieksekusi dan dibunuh pada tanggal 26 dan 27 Oktober, kebanyakan dari mereka adalah perempuan, anak-anak, dan orang lanjut usia," katanya.
Pada hari Senin, Kepala Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, Volker Turk, berbicara tentang meningkatnya risiko pelanggaran dan kekejaman bermotif etnis di El-Fasher.
"Kami menerima banyak laporan yang mengkhawatirkan bahwa RSF melakukan kekejaman, termasuk eksekusi singkat," katanya.
Sementara itu, para aktivis pro-demokrasi mengatakan penduduk El-Fasher telah mengalami bentuk-bentuk kekerasan dan pembersihan etnis terburuk sejak RSF mengeklaim kendali kota tersebut.
Sebuah video yang dirilis oleh aktivis lokal dan telah diverifikasi keasliannya oleh AFP menunjukkan seorang anggota RSF yang dikenal sering mengeksekusi warga sipil di wilayah yang dikuasai kelompok itu menembak sekelompok warga sipil tak bersenjata yang duduk di tanah dari jarak dekat.
RSF, yang memiliki rekam jejak kekejaman, telah menewaskan hingga 15.000 warga sipil dari kelompok non-Arab di ibu kota Darfur Barat, El-Geneina.
Militer Sudan, yang telah memerangi RSF sejak April 2023, juga dituduh melakukan kejahatan perang.
Pembantaian massal ini mewarnai babak baru mengerikan dari perang saudara Sudan antara pasukan militer pemerintah melawan pasukan paramiliter RSF.
Dalam pesan video yang dirilis di saluran Telegram-nya—tiga hari setelah RSF merebut kendali El-Fasher, benteng terakhir militer Sudan di wilayah Darfur—Dagalo mengatakan, "Saya meminta maaf kepada rakyat El-Fasher atas bencana yang menimpa mereka."
Baca Juga: Perang Saudara Sudan Makin Brutal, RSF Eksekusi Banyak Orang di Lapangan
"Kami dipaksa terlibat dalam perang ini; perang ini dipaksakan kepada kami. Namun pembebasan El-Fasher adalah demi persatuan Sudan—baik secara damai maupun melalui perang," ujarnya.
Dagalo, yang juga dikenal sebagai Hemedti, menggambarkan pasukannya sebagai "rakyat yang cinta damai", dan mendesak pasukannya untuk tidak melukai warga sipil.
"Membunuh tentara yang ditangkap dilarang," katanya. "Sedangkan warga sipil, kalian tidak ada urusan dengan mereka," katanya lagi, seperti dikutip dari Middle East Monitor, Jumat (31/10/2025).
Komandan RSF mengumumkan pembentukan komite akuntabilitas di El-Fasher untuk menyelidiki dugaan pelanggaran, dengan mengatakan, "Kami menjunjung tinggi hukum dan meminta pertanggungjawaban mereka yang bersalah."
Laporan dari para saksi, aktivis lokal, dan organisasi internasional, yang diperkuat oleh citra satelit, menunjukkan bahwa pasukan paramiliter RSF melakukan pembantaian dan pembunuhan etnis yang meluas terhadap warga sipil setelah merebut kota El-Fasher.
Uni Eropa pada hari Rabu mengecam apa yang disebutnya sebagai "kebrutalan" RSF dan "penargetan etnis" terhadap warga sipil, sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan meningkatnya risiko pelanggaran dan kekejaman bermotif etnis di wilayah tersebut.
Jatuhnya El-Fasher ke tangan RSF menandai perubahan signifikan dalam perang saudara yang sedang berlangsung di Sudan, yang secara efektif memberikan RSF kendali penuh atas Darfur dan semakin memperdalam kekhawatiran akan bencana kemanusiaan.
Sekutu militer Sudan, Joint Force (Pasukan Gabungan), mengatakan pada hari Selasa bahwa RSF melakukan kejahatan keji terhadap warga sipil tak berdosa di kota El-Fasher. "Tempat lebih dari 2.000 warga tak bersenjata dieksekusi dan dibunuh pada tanggal 26 dan 27 Oktober, kebanyakan dari mereka adalah perempuan, anak-anak, dan orang lanjut usia," katanya.
Pada hari Senin, Kepala Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, Volker Turk, berbicara tentang meningkatnya risiko pelanggaran dan kekejaman bermotif etnis di El-Fasher.
"Kami menerima banyak laporan yang mengkhawatirkan bahwa RSF melakukan kekejaman, termasuk eksekusi singkat," katanya.
Sementara itu, para aktivis pro-demokrasi mengatakan penduduk El-Fasher telah mengalami bentuk-bentuk kekerasan dan pembersihan etnis terburuk sejak RSF mengeklaim kendali kota tersebut.
Sebuah video yang dirilis oleh aktivis lokal dan telah diverifikasi keasliannya oleh AFP menunjukkan seorang anggota RSF yang dikenal sering mengeksekusi warga sipil di wilayah yang dikuasai kelompok itu menembak sekelompok warga sipil tak bersenjata yang duduk di tanah dari jarak dekat.
RSF, yang memiliki rekam jejak kekejaman, telah menewaskan hingga 15.000 warga sipil dari kelompok non-Arab di ibu kota Darfur Barat, El-Geneina.
Militer Sudan, yang telah memerangi RSF sejak April 2023, juga dituduh melakukan kejahatan perang.
(mas)
Lihat Juga :