Jenderal Top Kamboja Dilaporkan Tewas dalam Perang Melawan Thailand
Selasa, 29 Juli 2025 - 12:03 WIB
loading...
A
A
A
"Ini merupakan pelanggaran yang disengaja terhadap perjanjian dan upaya yang jelas untuk merusak rasa saling percaya," ujarnya, dalam sebuah pernyataan.
"Thailand berkewajiban untuk merespons dengan tepat, dan menjalankan haknya yang sah untuk membela diri," imbuh dia.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja Maly Socheata mengeklaim tidak ada bentrokan bersenjata satu sama lain di wilayah mana pun. Dia juga menyangkal tuduhan bahwa Kamboja melanggar gencatan senjata.
Namun, kedua belah pihak mengatakan pertemuan pagi yang dijadwalkan antara komandan regional yang berseberangan di sepanjang perbatasan sebagai bagian dari pakta gencatan senjata telah dimulai atau masih dijadwalkan untuk dimulai.
Di kota Samraong, Kamboja—20 kilometer dari perbatasan—seorang jurnalis AFP mengatakan suara ledakan berhenti dalam 30 menit menjelang tengah malam, dan ketenangan berlanjut hingga fajar.
"Garis depan telah mereda sejak gencatan senjata pada pukul 24.00 tengah malam," kata Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dalam pesan Selasa pagi di Facebook.
Jet, roket, dan artileri telah menewaskan sedikitnya 38 orang sejak Kamis lalu dan membuat hampir 300.000 orang lainnya mengungsi—yang mendorong intervensi dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama akhir pekan.
Konflik ini merupakan yang paling mematikan sejak kekerasan berkecamuk secara sporadis dari tahun 2008-2011 di wilayah tersebut, yang diklaim oleh kedua belah pihak karena demarkasi yang tidak jelas yang dibuat oleh pemerintah kolonial Prancis di Kamboja pada tahun 1907.
"Ketika saya mendengar berita itu, saya sangat bahagia karena saya merindukan rumah dan barang-barang saya yang saya tinggalkan," kata Phean Neth, warga Kamboja yang berbicara kepada AFP dari sebuah kamp pengungsi yang luas di kawasan kuil yang jauh dari loksi pertempuran.
"Saya sangat bahagia hingga tak bisa menggambarkannya," imbuh pria berusia 45 tahun itu.
"Thailand berkewajiban untuk merespons dengan tepat, dan menjalankan haknya yang sah untuk membela diri," imbuh dia.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja Maly Socheata mengeklaim tidak ada bentrokan bersenjata satu sama lain di wilayah mana pun. Dia juga menyangkal tuduhan bahwa Kamboja melanggar gencatan senjata.
Namun, kedua belah pihak mengatakan pertemuan pagi yang dijadwalkan antara komandan regional yang berseberangan di sepanjang perbatasan sebagai bagian dari pakta gencatan senjata telah dimulai atau masih dijadwalkan untuk dimulai.
Di kota Samraong, Kamboja—20 kilometer dari perbatasan—seorang jurnalis AFP mengatakan suara ledakan berhenti dalam 30 menit menjelang tengah malam, dan ketenangan berlanjut hingga fajar.
"Garis depan telah mereda sejak gencatan senjata pada pukul 24.00 tengah malam," kata Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dalam pesan Selasa pagi di Facebook.
Jet, roket, dan artileri telah menewaskan sedikitnya 38 orang sejak Kamis lalu dan membuat hampir 300.000 orang lainnya mengungsi—yang mendorong intervensi dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama akhir pekan.
Konflik ini merupakan yang paling mematikan sejak kekerasan berkecamuk secara sporadis dari tahun 2008-2011 di wilayah tersebut, yang diklaim oleh kedua belah pihak karena demarkasi yang tidak jelas yang dibuat oleh pemerintah kolonial Prancis di Kamboja pada tahun 1907.
"Ketika saya mendengar berita itu, saya sangat bahagia karena saya merindukan rumah dan barang-barang saya yang saya tinggalkan," kata Phean Neth, warga Kamboja yang berbicara kepada AFP dari sebuah kamp pengungsi yang luas di kawasan kuil yang jauh dari loksi pertempuran.
"Saya sangat bahagia hingga tak bisa menggambarkannya," imbuh pria berusia 45 tahun itu.
Lihat Juga :