Usai Perang, Tebak Siapa yang Didekati Pakistan dan India?
Jum'at, 23 Mei 2025 - 16:23 WIB
loading...
A
A
A
India memandang Taliban sebagai perwakilan badan intelijen Pakistan, yang telah mendukung mujahidin melawan Moskow.
Sebaliknya, New Delhi mendukung kelompok oposisi anti-Taliban, Aliansi Utara.
Setelah penggulingan Taliban yang dipimpin Amerika Serikat pada tahun 2001, India membuka kembali kedutaannya di Kabul dan menjadi mitra pembangunan yang signifikan bagi Afghanistan, menginvestasikan lebih dari USD3 miliar dalam proyek infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan air, menurut Kementerian Luar Negerinya.
Namun kedutaan dan konsulatnya mengalami serangan mematikan berulang kali dari Taliban dan sekutunya, termasuk kelompok Haqqani.
Setelah Taliban kembali berkuasa pada bulan Agustus 2021, New Delhi mengevakuasi kedutaannya dan sekali lagi menolak mengakui kelompok tersebut.
Namun, tidak seperti selama masa pertama Taliban berkuasa, India membangun kontak diplomatik dengan kelompok tersebut, pertama secara tertutup, kemudian, semakin terbuka.
Logikanya sederhana, kata analis: India menyadari dengan menolak terlibat dengan Taliban sebelumnya, ia telah menyerahkan pengaruhnya di Afghanistan kepada Pakistan, saingan regionalnya.
Pada bulan Juni 2022, kurang dari setahun setelah Taliban kembali berkuasa, India membuka kembali kedutaannya di Kabul, Afghanistan, dengan mengerahkan tim "pakar teknis" untuk menjalankannya.
Pada November 2024, Taliban menunjuk seorang konsul pelaksana di konsulat Afghanistan di Mumbai.
Kemudian, Januari lalu, Menteri Luar Negeri India Vikram Misri dan Muttaqi terbang ke Dubai untuk sebuah pertemuan, interaksi tatap muka tingkat tertinggi antara New Delhi dan Taliban hingga saat ini.
Kabir Taneja, wakil direktur di Observer Research Foundation yang berpusat di New Delhi, mengatakan tidak berurusan dengan "realitas politik apa pun yang terjadi di Kabul bukanlah pilihan" bagi India.
"Tidak seorang pun senang bahwa realitasnya adalah Taliban," ujar Taneja kepada Al Jazeera. Namun, meskipun upaya "selama puluhan tahun" India untuk menumbuhkan niat baik dengan rakyat Afghanistan telah menghadapi tantangan sejak pengambilalihan Taliban, upaya itu belum sepenuhnya gagal.
"Bahkan benteng ideologis Taliban, pondok pesantren Darul Uloom Deoband, ada di India," papar dia.
“Ini adalah hubungan dengan negara dan para pelakunya yang tidak dapat dipatahkan, dan harus ditangani secara realistis dan praktis,” ungkap dia.
Sebagai salah satu pendukung utama Taliban antara tahun 1996 dan 2021, hubungan Pakistan dengan kelompok tersebut telah merosot dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak Taliban mengambil alih kekuasaan pada tahun 2021, Pakistan telah mengalami lonjakan serangan kekerasan, yang oleh Islamabad dikaitkan dengan kelompok bersenjata, seperti Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP).
Pakistan bersikeras TTP beroperasi dari wilayah Afghanistan dan menyalahkan Taliban yang berkuasa karena memberi mereka perlindungan, klaim yang dibantah pemerintah Taliban.
Tindakan Taliban Pakistan yang muncul pada tahun 2007 di tengah apa yang disebut sebagai “perang melawan teror” yang dipimpin AS telah lama menantang otoritas Islamabad melalui pemberontakan yang penuh kekerasan.
Meskipun berbeda dari Taliban Afghanistan, keduanya dianggap memiliki kesamaan ideologi.
“Kunjungan Dar ke Kabul dan komunikasi selanjutnya dengan Muttaqi merupakan pencairan taktis dan ad hoc daripada perubahan substansial dalam hubungan Pakistan-Afghanistan,” ungkap Rabia Akhtar, direktur di Pusat Penelitian Keamanan, Strategi, dan Kebijakan di Universitas Lahore.
“Selama krisis India-Pakistan baru-baru ini, Islamabad semakin khawatir tentang kemungkinan Afghanistan mengizinkan wilayahnya digunakan New Delhi untuk melawan Pakistan,” papar dia.
"Hal ini telah meningkatkan urgensi Islamabad untuk mengamankan perbatasan baratnya," ujar Akhtar kepada Al Jazeera.
Sementara itu, keputusan Pakistan awal tahun ini untuk mengusir pengungsi Afghanistan, termasuk banyak yang telah menghabiskan sebagian besar hidup mereka di Pakistan, dan penutupan perbatasan yang sering mengganggu perdagangan juga merupakan sumber ketegangan dalam hubungan tersebut.
“Pertanyaan tentang pengungsi, khususnya, dapat terbukti menjadi faktor kunci yang akan membentuk hubungan masa depan antara kedua negara,” ungkap Akhtar.
Sebaliknya, New Delhi mendukung kelompok oposisi anti-Taliban, Aliansi Utara.
Setelah penggulingan Taliban yang dipimpin Amerika Serikat pada tahun 2001, India membuka kembali kedutaannya di Kabul dan menjadi mitra pembangunan yang signifikan bagi Afghanistan, menginvestasikan lebih dari USD3 miliar dalam proyek infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan air, menurut Kementerian Luar Negerinya.
Namun kedutaan dan konsulatnya mengalami serangan mematikan berulang kali dari Taliban dan sekutunya, termasuk kelompok Haqqani.
Setelah Taliban kembali berkuasa pada bulan Agustus 2021, New Delhi mengevakuasi kedutaannya dan sekali lagi menolak mengakui kelompok tersebut.
Namun, tidak seperti selama masa pertama Taliban berkuasa, India membangun kontak diplomatik dengan kelompok tersebut, pertama secara tertutup, kemudian, semakin terbuka.
Logikanya sederhana, kata analis: India menyadari dengan menolak terlibat dengan Taliban sebelumnya, ia telah menyerahkan pengaruhnya di Afghanistan kepada Pakistan, saingan regionalnya.
Pada bulan Juni 2022, kurang dari setahun setelah Taliban kembali berkuasa, India membuka kembali kedutaannya di Kabul, Afghanistan, dengan mengerahkan tim "pakar teknis" untuk menjalankannya.
Pada November 2024, Taliban menunjuk seorang konsul pelaksana di konsulat Afghanistan di Mumbai.
Kemudian, Januari lalu, Menteri Luar Negeri India Vikram Misri dan Muttaqi terbang ke Dubai untuk sebuah pertemuan, interaksi tatap muka tingkat tertinggi antara New Delhi dan Taliban hingga saat ini.
Kabir Taneja, wakil direktur di Observer Research Foundation yang berpusat di New Delhi, mengatakan tidak berurusan dengan "realitas politik apa pun yang terjadi di Kabul bukanlah pilihan" bagi India.
"Tidak seorang pun senang bahwa realitasnya adalah Taliban," ujar Taneja kepada Al Jazeera. Namun, meskipun upaya "selama puluhan tahun" India untuk menumbuhkan niat baik dengan rakyat Afghanistan telah menghadapi tantangan sejak pengambilalihan Taliban, upaya itu belum sepenuhnya gagal.
"Bahkan benteng ideologis Taliban, pondok pesantren Darul Uloom Deoband, ada di India," papar dia.
“Ini adalah hubungan dengan negara dan para pelakunya yang tidak dapat dipatahkan, dan harus ditangani secara realistis dan praktis,” ungkap dia.
Apa Perhitungan Pakistan?
Sebagai salah satu pendukung utama Taliban antara tahun 1996 dan 2021, hubungan Pakistan dengan kelompok tersebut telah merosot dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak Taliban mengambil alih kekuasaan pada tahun 2021, Pakistan telah mengalami lonjakan serangan kekerasan, yang oleh Islamabad dikaitkan dengan kelompok bersenjata, seperti Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP).
Pakistan bersikeras TTP beroperasi dari wilayah Afghanistan dan menyalahkan Taliban yang berkuasa karena memberi mereka perlindungan, klaim yang dibantah pemerintah Taliban.
Tindakan Taliban Pakistan yang muncul pada tahun 2007 di tengah apa yang disebut sebagai “perang melawan teror” yang dipimpin AS telah lama menantang otoritas Islamabad melalui pemberontakan yang penuh kekerasan.
Meskipun berbeda dari Taliban Afghanistan, keduanya dianggap memiliki kesamaan ideologi.
“Kunjungan Dar ke Kabul dan komunikasi selanjutnya dengan Muttaqi merupakan pencairan taktis dan ad hoc daripada perubahan substansial dalam hubungan Pakistan-Afghanistan,” ungkap Rabia Akhtar, direktur di Pusat Penelitian Keamanan, Strategi, dan Kebijakan di Universitas Lahore.
“Selama krisis India-Pakistan baru-baru ini, Islamabad semakin khawatir tentang kemungkinan Afghanistan mengizinkan wilayahnya digunakan New Delhi untuk melawan Pakistan,” papar dia.
"Hal ini telah meningkatkan urgensi Islamabad untuk mengamankan perbatasan baratnya," ujar Akhtar kepada Al Jazeera.
Sementara itu, keputusan Pakistan awal tahun ini untuk mengusir pengungsi Afghanistan, termasuk banyak yang telah menghabiskan sebagian besar hidup mereka di Pakistan, dan penutupan perbatasan yang sering mengganggu perdagangan juga merupakan sumber ketegangan dalam hubungan tersebut.
“Pertanyaan tentang pengungsi, khususnya, dapat terbukti menjadi faktor kunci yang akan membentuk hubungan masa depan antara kedua negara,” ungkap Akhtar.
Lihat Juga :